EXPO Campus (pameran kampus) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan di berbagai sekolah menengah atas (SMA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah (MA) sederajat di Indonesia.
Expo Campus biasanya diselenggarakan oleh para alumni atas koordinasi bersama pihak pelaksana pendidikan masing-masing.
Umumnya, para alumni yang kini berstatus sebagai mahasiswa di berbagai perguruan tinggi berpartisipasi dalam memeriahkan kegiatan ini.
Terkadang, dosen dari perguruan tinggi terkait pun ikut serta di dalamnya.
Utamanya, dalam rangka memberikan gambaran yang informatif terkait dunia perkuliahan di perguruan tinggi kepada para pelajar, khususnya pelajar kelas 12.
Selain itu, adanya kegiatan pameran kampus juga memberikan angin segar kepada para siswa, khususnya para pelajar kelas 12 di berbagai SMA, SMK, dan MA yang umumnya tengah mempersiapkan pendidikan lanjutannya di perguruan tinggi yang dituju.
Beragam perguruan yang dituju oleh masing-masing individu umumnya perguruan tinggi favorit yang tengah menjadi impiannya.
Tak heran, Diskursus perkuliahan tengah menjadi topik perbincangan hangat di kalangan siswa kelas 12.
Deretan nama perguruan tinggi yang ada, tentunya menimbulkan kesan yang beragam.
Tak jarang di antara mereka pun merasa bingung dan bimbang, dalam memilih kampus untuk berlabuh.
Terkadang ada yang sudah memantapkan pilihan, namun banyak juga yang meragukan kembali pilihannya tersebut.
Oleh karena itu, pameran kampus dipandang penting untuk diselenggarakan sebagai sarana edukasi berbasis strategi khusus.
Terutama dalam menembus Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) untuk beberapa kampus. Baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Mengingat, sejak tahun 2023 yang lalu, telah terjadi perubahan terkait aturan baru Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) yang semula menjadi tanggung jawab Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) dialihkan kepada Balai Pengelolaan Pengujian Pendidikan (BPPP), dengan disertai kebijakan-kebijakan barunya. Perubahan tersebut tentunya mengharuskan adanya “novelty” berupa strategi baru yang lebih jitu.
Adapun aturan baru dalam Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) ini meliputi Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dengan persentase penerimaan minimal 20 persen dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan persentase penerimaan minimal 40 persen serta Seleksi Mandiri yang ditetapkan oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) masing-masing dengan persentase penerimaan minimal 40 persen.
Selain itu, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) juga memiliki beberapa jalur seleksi lain seperti Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN), Ujian Masuk (UM), dan Jalur Mandiri yang berlaku di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Universitas Islam Negeri (UIN) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut data penyelenggara Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tahun 2023, dapat diketahui bahwa setiap seleksi yang ada memiliki keketatan masing-masing.
Tentunya peserta yang ikut seleksi juga sangatlah banyak. Peserta Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) mencapai 663.181, namun yang diterima hanyalah 143.805 dengan persentase 21,68 persen.
Peserta Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) mencapai 803.852, namun yang diterima hanyalah 223.217 dengan persentase 27,77 persen. Hasil tersebut tentunya menjadi perhatian khusus bagi berbagai pihak penyelenggara pendidikan dalam mempersiapkan dan mempertimbangkan strategi yang diambil ke depannya.
Selain adanya pameran kampus, beberapa strategi yang dianggap jitu tentunya tengah dijalankan oleh pihak penyelenggara pendidikan dalam mengantarkan siswa-siswinya menapaki jalur ke perguruan tinggi.
Beberapa hal perlu dijadikan pertimbangan secara khusus sebagai berikut:
Pertama, pemilihan perguruan tinggi perlu dipertimbangkan. Perguruan tinggi negeri dan swasta dapat dijadikan pilihan dengan mempertimbangkan status akreditasinya. Status akreditasi Perguruan Tinggi menunjukkan kualitas pendidikan yang diselenggarakan. Tentunya, sikap selektif sangatlah penting.
Kedua, pemilihan program studi perlu menjadi perhatian tersendiri. Hendaknya, program studi yang diambil dapat sejalan dengan kapasitas minat bakat personal masing-masing. Sebab, program studi yang diambil dapat mempengaruhi suasana belajar di perkuliahan. Tentunya, konsistensi belajar sangatlah penting.
Ketiga, pemilihan jalur seleksi haruslah tepat. Jalur seleksi yang ada memiliki daya tampung dan keketatannya masing-masing. Setiap tahun, kuantitas pendaftar dan kapasitas daya tampung di perguruan tinggi mengalami perubahan. Maka dari itu, peserta penting untuk mengetahui data-data kuantitatif seleksi sebelumnya. Tentunya, riset dan pertimbangan rasional perlu untuk dilakukan. (*)
*) Mahasiswa asal Banyuwangi, kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.