ZIARAH menjadi tradisi yang terus dilakukan oleh masyarakat.
Budaya ini ternyata sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan terus berkembang hingga kini.
Sejatinya, budaya ziarah sudah ada sejak zaman Rasulullah.
Sedangkan di Bumi Blambangan sendiri, terdapat beberapa jenis ziarah yang sering dilakukan.
Di antaranya ziarah seperti pada umumnya seperti membaca tahlil, Alquran, atau doa-doa tertentu, baik secara personal atau jemaah.
Ziarah ini sering dilakukan di makam-makam ulama, guru, orang tua, atau sanak kerabat.
Kedua, di sejumlah makam yang dipercaya sebagai auliya (wali atau kekasih Allah), ada peziarah yang memilih bermukim dalam waktu yang relatif lama.
Seperti di makam Buyut Sayu Atika di Kelurahan/Kecamatan Giri yang diyakini sebagai makam ibunda Sunan Giri.
Ada juga ziarah dengan ritual tertentu pada waktu khusus. Atau pembacaan doa atau mantra khusus pula. Hal itu biasa dilakukan di makam-makam leluhur desa. Tujuannya untuk selamatan kampung atau memiliki hajat tertentu.
Pada esensinya, berziarah itu untuk mengirimkan doa kepada mendiang yang telah mendahului, sekaligus mengingat kematian bagi yang masih hidup.
Juga berharap keberkahan dari para kekasih Allah tersebut, hajat si peziarah akan mudah dikabulkan oleh Allah SWT.
Sejauh ini, tradisi ziarah atau yang dikenal juga dengan nyekar atau nyadran di Banyuwangi masih sesuai dengan esensi awal.
Kecuali bagi sejumlah kalangan yang sejak awal ada niat tidak baik. Seperti halnya orang berziarah untuk berburu nomor togel (jenis judi) atau lainnya.
Ziarah untuk tujuan memohon terkabulnya hajat sudah dikenal lama.
Baik untuk urusan sehari-hari, seperti sedang terlilit utang, stres, dan lain sebagainya.
Pada momen tahun politik ini, ziarah juga menjadi salah satu tren bagi sejumlah pihak.
Seiring perkembangan demokrasi yang mengharuskan pemilihan langsung, maka hajat terpilihnya diikhtiarkan sedemikian rupa.
Termasuk berziarah kubur untuk memanjatkan doa.
Setidaknya, sejak Pemilu 1955, pada pemilihan Majelis Konstituante, ada sejumlah tokoh Banyuwangi yang mencalonkan diri.
Beberapa di antaranya melakukan ziarah kubur. Berlanjut pada event pemilu berikutnya seperti Pemilu 1971, sejumlah politisi partai NU melakukan hal yang sama. (rei/bay/c1)
*) Sejarawan dan Penulis Buku di Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin