Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gagal Move On dengan Bensin

Ali Sodiqin • Rabu, 6 Desember 2023 | 23:30 WIB
Oleh: FEBRI SETIAWAN*
Oleh: FEBRI SETIAWAN*

SEMPAT kita lihat antrean kendaraan menyemut di depan beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk membeli solar.

Tentu, yang membanjiri adalah kelompok kendaraan bermuatan berat, muatan logistik, bahkan muatan penumpang.

Kendaraan tersebut rela menyemut berjam-jam untuk sampai di tempat tujuan tanpa embel-embel teguran dari bos.

Mereka tak mau ceperen hangus karena tidak mendapatkan solar untuk melakukan perjalanan.

Namun, pembahasan kita bukan di sini. Urusan solar sudah ada yang berkepentingan untuk bertanggung jawab melayani konsumennya.

Bahkan fenomena ini menjadi tradisi di akhir tahun karena kebutuhan meningkat, bisa juga karena oknum tidak bertanggung jawab untuk memperbanyak stok solar dalam rangka memenuhi kebutuhan menjelang tahun baru. Lalu, di mana letak masalahnya? Penasaran? Simak!

Masih dalam ruang lingkup menu SPBU yang setia menemani rutinitas kita dalam berkendara agar tetap prima.

Menu itu antara lain solar, bensin: Pertalite, Pertamax, Pertamax Green, dan Pertamax Turbo.

Berbagai varian jenis bensin, tetapi masyarakat sulit untuk pindah ke lain hati dalam penyebutan jenis bahan bakar saat mengisi kendaraannya.

Jenis bahan bakar yang dimaksud adalah bensin. Bensin terlalu melekat di hati konsumen karena harganya murah, berwarna kuning. Jika beli eceran, maka akan dikemas dalam botol bekas minuman Stanley.

Hal itu dianggap unik, sehingga sulit untuk ditinggalkan. Namun, keberadaan bensin saat ini sangat langka.

Kita sulit untuk menemukan bensin meski itu di toko-toko pinggir jalan yang menjual bensin dengan cara eceran per liter. Fenomena di masyarakat dapat kita lihat dari penjelasan berikut:

Pertama, dikemas dalam botol bekas minuman Stanley, warna hijau gelap, harga Rp12.000 per liter tetapi masyarakat tetap menyebut itu bensin. Padahal itu adalah Pertalite.

Kedua, tuturan konsumen, “Beli bensinnya satu!” Namun, penjual justru mengambilkan bahan bakar yang dikemas dalam botol bekas minuman Stanley berwarna hijau gelap dengan sebutan Pertalite.

Ketiga, tuturan seorang Bapak mengajak anaknya untuk mengisi bahan bakar di SPBU. “Tunggu sini dulu ya, Bapak mau beli bensin.”

Lagi-lagi yang diberikan petugas SPBU adalah bahan bakar berwarna hijau gelap yang disebut Pertalite. Apakah salah atau gagal move on dengan bensin?

Sejak dahulu, masyarakat disuguhkan dengan bahan bakar jenis bensin dengan warna kuning. Saat ini, barang itu sulit ditemui keberadaannya.

Bahkan boleh juga dikatakan langka, karena di SPBU pun kita tidak pernah menjumpai atau sengaja dialihkan ke jenis yang lain.

Namun, masyarakat tidak bisa melupakan kata bensin, meski yang diberikan itu adalah jenis Pertalite atau Pertamax.

Perlu kita ketahui, saat ini Pertamina menjual empat produk dari jenis bensin, antara lain: Pertalite (Ron 90), Pertamax (Ron 92), Pertamax Green (Ron 95), dan Pertamax Turbo (Ron 98).

Jadi, asumsi masyarakat terkait dengan membeli bensin, saat ini bukanlah hal yang salah. Asumsi tersebut sudah mampu ditepis dengan penjelasan empat produk jenis bensin yang dijual Pertamina.

Saat kita mengisi bahan bakar minyak dengan jenis Pertalite atau Pertamax, berarti kita mengisi bensin. Sebab kedua jenis bahan bakar tersebut adalah varian dari bensin.

Tidak ada yang salah dalam berbahasa, jika kita tahu asal-usulnya. Ketidakmampuan serta ketidak-relaan masyarakat untuk meninggalkan kata bensin, tampaknya sudah menemukan titik terang.

Oleh karena itu, mempertahankan bahasa akan kuat jika disertai dengan alasan yang logis dan akurat. Sehingga asumsi masyarakat tidak keliru dan multitafsir. (*)

*) Guru SMKN 1 Tegalsari, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#pertalite #pertamax #pertamina #SPBU #bensin #bahan bakar #solar