KELAPARAN didefinisikan sebagai kondisi kurangnya konsumsi pangan kronik. Dalam jangka panjang, kelaparan kronis berakibat buruk pada derajat kesehatan masyarakat. Juga menyebabkan tingginya pengeluaran masyarakat untuk kesehatan.
Tidak semua orang mempunyai kemudahan untuk memperoleh pangan. Hal ini mengarah pada kelaparan dan kekurangan gizi skala dunia.
Sebagian penduduk dunia masih kekurangan pangan secara kronis, dan tidak mampu mendapatkan pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan energi minimum.
Jutaan anak di bawah lima tahun (balita) menderita kekurangan gizi akut pada saat musim kekurangan pangan, musim kelaparan dan kerusuhan sosial. Angka ini terus meningkat.
Banyak faktor penyebab kelaparan. Seperti kemiskinan, ketidakstabilan sistem pemerintahan, penggunaan lingkungan yang melebihi kapasitas, diskriminasi, dan ketidakberdayaan anak, wanita, dan lansia.
Faktor berikutnya adalah terbatasnya subsidi pangan, meningkatnya harga pangan, menurunnya pendapatan, dan tingginya tingkat pengangguran.
Sementara itu, di sekitar kita, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi terus berupaya menjaga daya beli masyarakat. Salah satu langkah konkretnya, dengan memperkuat ketahanan pangan.
Penguatan ketahanan pangan dilakukan dengan menjaga stok pangan. Hal itu diharapkan mampu menjaga stabilitas harga pangan. Sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Pemerintah memang harus mengantisipasi dengan berbagai kemungkinan. Ketahanan pangan menjadi penting karena sumber daya di Banyuwangi mencukupi.
Pemerintah Banyuwangi tidak merinci khusus strategi yang disiapkan untuk mengamankan ketahanan pangan.
Pemerintah hanya menyebut bahwa pihaknya menjaga ketersediaan pangan sebagai salah satu upaya. Ketahanan pangan jadi kunci agar tidak resesi.
Meski begitu, salah satu yang perlu dilakukan adalah menjaga stok pangan. Dengan demikian, harga jual pangan di masyarakat tidak terlalu tinggi. Sehingga masyarakat masih mampu untuk membeli.
Sementara itu, saat ini persediaan beras Bulog Banyuwangi mencapai 22.200 ton setara beras. Dengan jumlah tersebut, persediaan diklaim aman hingga 10 bulan ke depan.
Dengan persediaan yang mencapai 22.200 ton dan pengeluaran persediaan melalui program ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga (KPSH) yang mencapai 1.000 ton hingga 2.000 ton per bulan, persediaan pangan di Banyuwangi dipastikan aman setahun ke depan.
Saat ini, Bulog Banyuwangi terus melakukan serapan gabah. Tahun ini, target serapan mencapai 18.000 ton gabah.
Hal itu diwujudkan dengan mengamankan arus suplai produksi, persediaan, hingga distribusi ke konsumen rumah tangga. Butuh strategi khusus untuk benar-benar mewujudkan kondisi tersebut.
Sedangkan upaya perbaikan gizi masyarakat di antaranya sebagai berikut:
Pertama, sosialisasi tentang manfaat pola konsumsi pangan perorangan dan masyarakat yang Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) untuk hidup sehat, aktif, dan produktif.
Kedua, peningkatan promosi perilaku masyarakat tentang kesehatan, gizi, sanitasi, kebersihan, dan pengasuhan.
Ketiga, pemberdayaan masyarakat, terutama ibu rumah tangga, untuk percepatan penganeka-ragaman konsumsi pangan berbasis pangan lokal.
Termasuk sosialisasi manfaat dan menciptakan minat atau preferensi pada konsumsi pangan ikan, hasil peternakan, sayuran, dan buah lokal.
Keempat, perbaikan atau pengayaan gizi pangan tertentu dan penetapan persyaratan khusus mengenai komposisi pangan untuk meningkatkan kandungan gizi pangan olahan tertentu yang diperdagangkan.
Kelima, penguatan pelaksanaan dan pengawasan regulasi dan standar gizi dan keamanan pangan.
Sementara itu, perubahan iklim juga berdampak pada mata pencaharian dan produksi pangan masyarakat.
Jika kita melawan perubahan iklim dan beroperasi secara berkelanjutan, kita dapat memastikan cukup makanan untuk kita dan generasi mendatang. Ini adalah langkah lain dalam memerangi krisis pangan.
Berfokus pada satu tanaman pangan atau bahan pokok dapat menyebabkan hasil yang buruk dalam mengurangi krisis pangan.
Oleh karena itu, pelatihan tentang pentingnya pola makan yang beragam dan sehat untuk perbaikan gizi perlu dilakukan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan.
Generasi muda saat ini perlu membangun kepedulian terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan. Sebab, tantangan dalam mencukupi kebutuhan pangan ke depan semakin kompleks dan nyata.
Hal ini disebabkan masih tingginya konversi lahan pertanian, perubahan iklim yang sulit diprediksi, serta jumlah tenaga kerja sektor pertanian yang terus berkurang.
Upaya penyediaan bahan pangan sangat penting, karena pangan merupakan kebutuhan dasar dan bagian dari hak asasi manusia yang harus dipenuhi.
Jika ketersediaan pangan kurang, karena tidak sebanding kebutuhan, dikhawatirkan tidak hanya menciptakan ketidakstabilan ekonomi.
Hal ini juga bisa berpengaruh negatif terhadap sendi-sendi pembangunan lain. Termasuk keamanan dan ketahanan nasional.
Dalam konteks ini, pembangunan pertanian sangat penting diperhatikan. Sektor inilah yang menghasilkan produksi pangan di dalam negeri.
Jika pembangunan pertanian berjalan dengan baik, akan memberikan hasil produksi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. (*)
*) Pelajar MAN 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin