Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Destinasi Wisata, Jalan Menuju Keseimbangan Sosial

Redaksi • Kamis, 30 November 2023 | 21:00 WIB
Oleh: GHETSYA GHEFIRA*
Oleh: GHETSYA GHEFIRA*

JAWA Timur punya kekayaan sumber daya alam (SDA) dan budaya. Contoh daerah di Jatim yang potensial kaya akan SDA dan budaya adalah Madura dan Banyuwangi. Namun, kedua daerah ini masih ada tantangan besar yakni ketimpangan sosial.

Mari kita telusuri lebih dalam mengenai penyebab, bentuk, kasus konkret, dan upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi ketimpangan ini di kedua wilayah tersebut.

Salah satu masalah mendasar di Madura adalah tingkat pendidikan masyarakat. Beberapa kasus konkret ketimpangan sosial di Madura melibatkan kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, dan ketidak-setaraan dalam pembangunan.

Sedangkan Banyuwangi, kaya akan keindahan alam dan potensi pariwisata. Namun, masih ada perbedaan pendapatan antara kota dan desa, ketergantungan pada sektor pariwisata, serta keterbatasan fasilitas. Pembangunan yang terfokus pada wilayah tertentu, semakin memperbesar jurang kesenjangan.

Ketimpangan pembangunan antarwilayah tidak hanya mencakup distribusi pendapatan masyarakat, tetapi juga kesenjangan pertumbuhan ekonomi.

Beberapa wilayah yang memiliki potensi pariwisata menonjol, seperti Kecamatan Tegaldlimo dan Pesanggaran dengan garis pantai panjang, serta Kecamatan Songgon, Licin, dan Glenmore di dataran tinggi.

Ironisnya, pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut cenderung lambat. Ini tecermin dalam stagnasi angka kemiskinan di kecamatan tersebut.

Contoh yang ditemukan di Kecamatan Pesanggaran, masih banyak dusun yang tertinggal dan terlupakan. Dusun-dusun seperti Pancer, Sukamade, Sumberjambe, dan beberapa lainnya.

Namun di balik keterbelakangan tersebut, terdapat potensi pariwisata yang luar biasa.

Seperti Pantai Pulau Merah, Pantai Muara Baduk, Taman Nasional Meru Betiri, Pantai Sukamade, dan tempat wisata lainnya.

Mengapa wilayah dengan potensi pariwisata besar mengalami kesulitan pertumbuhan ekonomi? Salah satu jawabannya, kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan infrastruktur dan layanan dasar di daerah ini.

Dusun-dusun yang memiliki destinasi pariwisata potensial, sering tidak mendapatkan investasi memadai untuk mengoptimalkan daya tarik wisatanya.

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi hal itu. Program bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, peningkatan sarana pendidikan, serta pelatihan telah dilakukan.

Selain itu, generasi muda juga memegang peran penting dalam mengatasi ketimpangan.

Mereka dapat berpartisipasi dalam program sosial, meningkatkan pendidikan dan keterampilan, serta memanfaatkan teknologi untuk membantu mengatasi masalah ketimpangan.

Upaya pemerintah untuk meratakan pembangunan di seluruh Banyuwangi, mencerminkan tekad menuju keadilan. Memberikan perhatian setara terhadap seluruh wilayah bertujuan mengurangi kesenjangan.

Keadilan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan. Melibatkan penduduk secara merata, memastikan keputusan yang diambil mencerminkan kebutuhan dan aspirasi seluruh komunitas.

Keadilan mencakup memberikan akses setara terhadap pendidikan dan layanan dasar semua warga, tanpa memandang lokasi geografis atau latar belakang ekonomi.

Mendorong pemberdayaan ekonomi kreatif di seluruh Banyuwangi, menjadi langkah strategis untuk mencapai keadilan ekonomi. Ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada sektor tertentu.

Kesenjangan dan keadilan di Banyuwangi tidak hanya fenomena terpisah, melainkan saling berhubungan dan memainkan peran penting dalam membentuk kesejahteraan.

Melalui upaya bersama pemerintah, masyarakat, dan swasta, Banyuwangi dapat melangkah maju.

Dengan pemahaman mendalam tentang tantangan dan peluang, langkah-langkah ini membentuk fondasi kuat untuk masa depan yang lebih baik bagi seluruh penduduk.

Generasi muda perlu memahami akar permasalahan kesenjangan di Banyuwangi. Kesadaran ini menjadi dasar untuk merumuskan solusi yang relevan dan efektif.

Generasi muda dapat berperan dalam meningkatkan tingkat pendidikan dan keterampilan di Banyuwangi.

Baca Juga: Pemasaran UMKM Lebih Mudah dengan Vending Machine, Kolaborasi Kementerian BUMN RI dan BRI

Ini tidak hanya membuka pintu kesempatan bagi individu, tetapi juga berkontribusi pada pengentasan kesenjangan pendidikan dan ekonomi.

Menguasai dan memanfaatkan teknologi, adalah kunci mengurangi kesenjangan. Generasi muda dapat menjadi agen perubahan dengan mengembangkan inovasi dan solusi berbasis teknologi, untuk meningkatkan akses dan pemerataan.

Melalui peran aktif generasi muda dalam berbagai aspek ini, Banyuwangi dapat mengarah ke arah masa depan yang lebih adil tanpa adanya kesenjangan.

Dengan semangat kolaborasi dan kreativitas, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang mengarah pada masyarakat yang inklusif dan berkeadilan.

Kesenjangan dan keadilan saling terkait dan saling mempengaruhi kesejahteraan masyarakat. Upaya mereduksi kesenjangan, terutama dalam aspek ekonomi dan akses terhadap layanan, adalah langkah menuju penciptaan keadilan yang merata.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, Banyuwangi dapat bersama melangkah maju menuju masyarakat adil dan berkeadilan. (*)

*) Pelajar MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#pendidikan #budaya #Infrastruktur #wisata #pembangunan #Sosial #banyuwangi #madura