Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Selamat Hari Guru: Masihkah Guru Digugu lan Ditiru?

Ali Sodiqin • Rabu, 29 November 2023 | 18:00 WIB
Oleh: MUTTAFAQUR ROHMAH*
Oleh: MUTTAFAQUR ROHMAH*

HARI guru sudah berlalu, namun pertanyaan masihkah guru digugu lan ditiru tidak mengenal waktu, akan terus dipertanyakan.

Selaras dengan pekerjaan guru yang tidak mengenal waktu, bukan begitu? Pandangan kepada guru beragam, bergantung pada konteks budaya dan sosial serta kondisi lingkungan masyarakat.

Secara umum, masyarakat menghormati dan menghargai peran guru sebagai pembimbing dan pendidik, bahkan tidak jarang yang menilai bahwa guru sebagai fasilitator dan inspirator.

Masyarakat, terutama yang memiliki nilai-nilai tradisional yang kuat, guru masih dianggap sebagai sosok yang harus dihormati.

Masyarakat tersebut melihat guru sebagai model yang patut ditiru juga digugu.

Tantangan-tantangan seperti perubahan nilai-nilai sosial atau pergeseran budaya dapat berdampak pada persepsi, penilaian, dan cara pandang terhadap guru.

 Tingkat pendidikan serta kesadaran masyarakat juga dapat mempengaruhi dalam menilai guru.

Masyarakat yang sangat menghargai pendidikan tinggi dan memahami pentingnya peran guru, guru cenderung mendapatkan lebih banyak penghargaan.

Pandangan terhadap guru dapat mempengaruhi oleh beberapa tantangan dan tatanan dalam sistem pendidikan, seperti kurangnya sumber daya, masalah disiplin, atau perubahan kurikulum dari tahun ke tahun.

Kemajuan teknologi dan akses mudah ke informasi dapat mempengaruhi cara masyarakat melihat dan memandang guru.

Siswa dan orang tua yang lebih terbuka untuk mencari informasi secara mandiri bagaimana seorang guru mampu berdiri di atas kaki-kaki kokohnya sendiri atau guru hanya sebagai wujud nama saja tanpa asa, yang kosong tanpa penghargaan.

Keterlibatan guru dalam kegiatan sosial dan masyarakat dapat memperkuat atau merusak citra guru.

Seorang guru yang aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan kegiatan-kegiatan sosial, atau tanda kutip “sering kelihatan dan muncul” akan mendapatkan penghargaan dan perhatian lebih besar, daripada guru yang hanya terlihat berseragam di dalam kelas, lalu ucul saat tidak mengajar, pulang, istirahat di rumah, lupa bersosialisasi dengan tetangga, besoknya berangkat ke sekolah, dan begitu seterusnya.

“Digugu dan ditiru” memperlihatkan kaitan dan kedekatan yang terjalin erat layaknya benang merah yang tidak tampak antara guru dan siswa. Jalinan benang merah melepas jarak dan batas kelas.

Guru, dalam perspektif ini, dianggap sebagai pemimpin intelektual dan moral yang memberikan arah bagi perkembangan dan kemajuan siswa.

Kedekatan emosional guru, siswa, juga orang tua siswa menggambarkan “sistem kekerabatan tanpa jalinan dan pertalian darah”.

Pada sudut pandang ini masyarakat yang memandang guru dengan penuh penghormatan meyakini bahwa guru bukan hanya sekadar penyampai informasi, tetapi juga penanam nilai-nilai etika dan moral.

Guru menjadi model yang dihormati oleh siswa, dengan perilaku dan sikapnya menjadi pedoman bahkan dogma dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa.

Sikap “digugu dan ditiru” terwujud dalam upaya siswa untuk meneladani perilaku positif dan pengetahuan yang dimiliki oleh guru.

Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga mentor, contoh nyata yang memberikan inspirasi dan semangat tinggi kepada siswa untuk mencapai potensi maksimalnya.

 Melalui interaksi di kelas atau di luar kelas, guru menciptakan lingkungan belajar yang membangun, aman, dan nyaman.

Seiring berjalannya waktu, konsep “digugu dan ditiru” memainkan banyak peran penting dalam perkembangan siswa.

Guru sebagai figur yang patut dihormati dan ditiru menciptakan fondasi kuat untuk pendidikan yang berkelanjutan dan masyarakat yang lebih baik.

Meskipun ada berbagai dinamika yang dapat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap guru, masih banyak orang yang menyadari dan percaya pentingnya peran guru dalam membentuk generasi penerus bangsa. Sebab, guru dengan tulus berdedikasi pada pendidikan dan perkembangan siswa.

Sehingga pantas jika konsep “digugu dan ditiru” melibatkan interaksi yang erat antara guru dan siswa melukiskan hubungan saling menghormati dan menginspirasi.

Guru bukan hanya tentang pembawa pengetahuan, sekadar transfer ilmu, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan nilai pribadi siswa.

Dengan menghargai guru sebagai pemimpin intelektual, masyarakat membangun landasan kuat untuk pertumbuhan siswa dan perkembangan sosial yang berkelanjutan, serta merangkul makna pendidikan yang lebih luas dalam menciptakan masa depan yang cerah, bahagia, dan sentosa.

Semoga belum terlambat untuk menyampaikan sekali lagi di hari ini Selamat Hari Guru untuk seluruh guru mana pun berada! Mari kita jalin rasa dan asa yang sama demi masa depan anak-anak bangsa! Semangat! (*)

*) Pengajar Bahasa Indonesia, Kepala Untag Banyuwangi Press (Pusat Penerbitan dan Publikasi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi).

Editor : Ali Sodiqin
#pendidikan #budaya #masyarakat #ditiru #Digugu #guru #Sosial #Hari Guru