SIAPA tak mengenal banteng? Hewan satu ini dikenal dengan kesan garang. Karena keberadaan tanduk dan jika terancam, perilaku mereka kerap menyeruduk makhluk lain di sekitarnya.
Sementara itu, banteng juga jadi salah satu spesies keluarga dari famili Bovidae, bersama dengan sapi dan kerbau.
Perilakunya yang terkesan suka menyeruduk, di negara lain tepatnya Spanyol, bahkan sampai ada pertunjukan yang mempertontonkan aksi adu banteng dengan pawang ahli yang dinamakan Matador.
Banteng liar yang berasal dari Indonesia adalah banteng Jawa dengan nama latin Bos javanicus. Dijuluki sebagai hewan sosial, banteng merupakan hewan yang senang berkumpul dan hidup bersama.
Lambang banteng digunakan karena banteng merupakan hewan sosial yang suka berkumpul.
Seperti halnya musyawarah, di mana orang-orang harus berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu.
Namun kondisi saat ini, banteng merupakan satwa yang terancam punah karena perburuan serta kerusakan habitat.
Populasi satwa ini terus mengalami penurunan. Ini karena hilangnya habitat alami dan juga perburuan ilegal di masa lalu.
Kini, banteng masuk dalam daftar spesies yang terancam punah. Status konservasi banteng Jawa merupakan satu dari lima spesies banteng yang ada di dunia, dan satu spesies telah punah.
Berdasar data IUCN Redlist, banteng Jawa dikategorikan dalam status konservasi “endangered” atau “terancam kepunahan”.
Selain hilangnya habitat alami, satwa tangguh ini juga terancam karena adanya perburuan liar akan daging dan tanduk mereka.
Akibat ancaman tersebut, mengakibatkan sekitar 80 persen populasi banteng menurun drastis. Bahkan diperkirakan, di setiap habitat, populasi mereka tidak mencapai 100 individu.
Habitat alami banteng Jawa sebenarnya meliputi Pulau Jawa, Pulau Madura, dan Pulau Bali. Namun kini, populasinya hanya terkonsentrasi di beberapa tempat konservasi.
Beberapa di antaranya Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Merubetiri, dan Taman Nasional Alas Purwo.
Buat para pencinta alam, mengisi liburan dengan nuansa petualang di hutan belantara seperti di Taman Nasional Masai Mara, tidak perlu jauh-jauh datang ke Afrika.
Salah satu tempat yang direkomendasi Banyuwangi dengan nuansa yang hampir sama yaitu di Taman Nasional Baluran.
Taman nasional ini sebagian besar masuk wilayah Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Namanya diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu Gunung Baluran.
Taman Nasional Baluran adalah kawasan pelestarian alam yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tentunya Taman Nasional Baluran memiliki ekosistem asli.
Dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, serta menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Sementara itu, banteng yang berada di kawasan tersebut sebenarnya bersifat liar.
Dengan kondisi di tengah ancaman kepunahan, populasi banteng ternyata sesekali masih ada yang ditemukan di daerah permukiman manusia. Mereka beradaptasi sebagai hewan nocturnal (aktif pada malam hari).
Salah satu alasan yang membuat populasi banteng liar terancam adalah karena adanya kerusakan dari spesies tumbuhan invasif yang merusak habitat mereka.
Saat ini, kantong populasi utama banteng Jawa hanya tersisa berada di Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri, dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Keempat habitat tersebut sudah terisolasi oleh area permukiman dan budidaya.
Sehingga tidak memungkinkan bagi banteng-banteng tersebut untuk saling terhubung.
Baca Juga: Dominan Warna Hitam, Siswa Sekolah Kenakan Seragam Adat Banyuwangi Rutin Setiap Hari Kamis
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengakibatkan turunnya kualitas genetik dan berdampak pada berbagai hal. Misalnya seperti penyakit genetik hingga potensi banteng menjadi kerdil.
Untuk itu, ada beberapa upaya dalam menurunkan ancaman kelestarian banteng di Taman Nasional Baluran.
Seperti mengantisipasi perburuan. Juga melakukan penanganan tanaman invasif spesies Akasia nilotica seluas 6.000 hektare.
Tanaman akasia tersebut sangat kuat sehingga bisa mengurangi padang rumput sebagai habibat dan sumber makanan banteng Jawa.
Karena itu, pengelola Taman Nasional Baluran bersama para mitra berusaha terus memulihkan populasi banteng.
Dengan kemampuan reproduksi yang relatif cepat, di mana hampir setiap tahun banteng mampu bereproduksi, optimisme populasi banteng dapat pulih kembali.
Selain itu, perlu juga beberapa upaya untuk menyiapkan habitat yang lebih ideal bagi kehidupan banteng. (*)
*) Mahasiswi dan santriwati, Prodi Bimbingan dan Konseling Islam IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin