MENJALANI kehidupan sehari-hari paling tidak memiliki variasi, mulai dari penemuan jati diri, ber-ekspresi, ber-eksistensi, hingga menonjolkan potensi diri.
Semua hal itu dijalani dengan menikmatinya di setiap hari. Tanpa mempedulikan rintangan yang setiap saat menghampiri. Terus berpikir ke depan untuk produktivitas sebagai seorang pribumi.
Minimal sambil menyeruput segelas kopi, duduk tenang, serta bersyukur kepada Tuhan, tentang apa yang telah diberikan kepada kita hingga kini.
Sambil menentukan satu langkah dua langkah untuk sebuah pilihan yang kita pilih untuk ke depannya yang baik dan pas di hati.
Di dalam buku “Berpikir untuk Berjiwa Besar” (The Magic Of Thinking Big) karya David J. Schwartz, ada satu kalimat yang baik untuk kita ambil serat maknanya, yakni: “Kemampuan berpikir dengan membuat suatu kepercayaan untuk meluncurkan diri menuju keberhasilan menggunakan kekuatan keyakinan.”
Dari kalimat tersebut, bisa kita tarik benang merahnya untuk membuat hal itu sebagai notice atau alarm diri.
Agar kemampuan berpikir kita diimbangi dengan langkah yang dilandasi keyakinan akan suatu hal positif. Sehingga dapat melekat di kehidupan kita.
Berawal dari penemuan jati diri, yaitu biasanya dialami ketika masa usia remaja mengharuskan kita untuk menemukannya melalui aspek agama atau life-rule.
Di dalam agama, kita akan menemukan kesejatian hidup melalui ketenangan jiwa. Sehingga akan memunculkan suatu indikasi, agar supaya selalu tenang untuk menjalani hidup.
Meskipun banyak rintangan menghadang, namun perlu diingat, bahwa tenang bukan berarti tidak ada pergerakan. Akan tetapi sikap untuk menghadapi rintangan dengan tetap tenang.
Setelah penemuan jati diri, kemudian berlanjut ke berekspresi. Berekspresi merupakan suatu cara untuk menggambarkan suasana hati dan pikiran.
Dari berekspresi akan timbul suatu keterbukaan yang memudahkan untuk berinteraksi dan mudah bertukar pendapat dengan orang lain. Bahkan berinteraksi dengan orang yang tidak kenal sekali pun.
Memang tidak mudah untuk membangun kepercayaan dengan modal berekspresi. Karena kita juga membutuhkan eksistensi sebagai tunjangan atau daya pikat terhadap orang lain.
Eksistensi bukan berarti hanya sebagai sebuah istilah. Akan tetapi bisa berupa jabatan, soft skill, gelar, atau keterampilan.
Logikanya, ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain yang tidak memiliki daya pikat, maka hasilnya akan biasa saja.
Akan tetapi ketika berinteraksi dengan seseorang yang memiliki daya pikat, maka akan ada suatu kebanggaan bisa berinteraksi dengan orang tersebut. Hal itu wajar terjadi karena manusiawi.
Kekuatan kepercayaan dan keyakinan akan tumbuh ketika kita bisa percaya diri terhadap suatu hal yang kita kerjakan. Kita bisa mengajak diri kita untuk produktif menjalani kehidupan.
Banyaknya relasi juga efek dari sebuah kepercayaan. Serta keyakinan sebagai imbas dari sebuah kepercayaan diri. Hal tersebut akan terealisasi ketika diterapkan atau bahkan dipelajari. Sehingga potensi diri kita akan ikut pada akhirnya.
Setiap manusia memiliki potensi di bidangnya masing-masing. Dan dari potensi, kita bisa tahu ke depannya mau terjun di bidang apa! Potensi dapat diketahui dari berbagai hal. Bisa dari prestasi, atau melalui kontemplasi.
Di dalam potensi memiliki kesempatan untuk sebuah keberhasilan. Sedangkan keberhasilan bisa membawa kita menuju kesuksesan atau kejayaan. Sehingga bisa kita nikmati hingga di usia tua nanti. (*)
*) Santri Al-Aqsho Cemetuk, Cluring, Banyuwangi. Tercatat sebagai warga Sukorejo, Desa Sumberejo, Banyuputih, Situbondo.
Editor : Ali Sodiqin