Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Banyuwangi Bijak untuk Air Bersih dan Sanitasi Layak

Ali Sodiqin • Rabu, 15 November 2023 | 19:00 WIB
Oleh: BALQIS ADILAH OKTARINA*
Oleh: BALQIS ADILAH OKTARINA*

AIR bersih adalah salah satu jenis sumber daya berbasis air yang berkualitas baik, dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi.

Atau digunakan dalam melakukan aktivitas makhluk hidup sehari-hari. Termasuk di antaranya adalah sanitasi.

Air bersih dan sanitasi layak adalah kebutuhan dasar yang penting bagi setiap manusia. Syarat-syarat air yang bersih adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat.

Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air tersebut telah tercemar oleh bakteri atau zat-zat berbahaya lainnya.

Sementara itu beberapa waktu lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mewaspadai beberapa wilayah di Banyuwangi yang menjadi tempat daerah rawan air bersih.

Hal ini terjadi, karena kekeringan akibat musim kemarau panjang. Pemerintah mewaspadai terjadinya kekeringan tersebut dapat mengakibatkan kurangnya air bersih.

Juga kekeringan mengakibatkan kebakaran hutan di wilayah-wilayah kurangnya resapan air seperti di gunung, hutan, kebun, dan lain-lain.

Krisis air bersih akibat kekeringan akibat kekeringan sudah terjadi di wilayah Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Kondisi ini menjadi perhatian khusus banyak pihak. Tidak terkecuali Polresta Banyuwangi.

Karena itu, kepolisian bekerja sama dengan instansi pemerintah daerah mengambil langkah peduli dalam mengatasi masalah krisis air bersih.

Warga yang terdampak kekeringan tersebut merasakan dampak positif dari tindakan efektif yang diambil pihak kepolisian bersama pemerintah daerah dalam mengatasi masalah ini.

Selain itu, kepolisian juga berkoordinasi dengan pihak terkait guna mengidentifikasi langkah-langkah dalam jangka panjang, dalam mengatasi permasalahan ketersediaan air bersih di wilayah ini.

Sementara itu, hingga kini jumlah penduduk dunia mencapai kurang lebih 6,1 miliar orang. Dari populasi sebanyak itu, sekitar ,1 miliar di antaranya mengalami kekurangan air bersih.

 Sebanyak 2,6 miliar penduduk dunia juga mengalami gangguan sanitasi.

Di Indonesia, pelayanan air bersih dan sanitasi diakui masih tertinggal jauh dari negara maju. Jumlah penduduk yang belum terlayani air bersih masih cukup besar. Yakni kurang lebih mencapai 60 juta warga.

Oleh karena itu, sebelum memasuki program pembangunan nasional, perlu adanya kajian agar kebijakan air bersih dan sanitasi sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah kita sekarang.

Sedangkan dampak langsung dari kurangnya air yang layak yakni gagal bercocok tanam. Tentu saja hasil panen petani yang terganggu itu mengakibatkan persediaan bahan pangan ikut berkurang.

Sedangkan sanitasi yang buruk dan kelaparan, bisa berdampak pada munculnya penyakit akibat kurang pangan, gizi buruk, dan bahkan terjadi kematian.

Berdasar data United Nations Children’s Fund (UNICEF) tahun 2015 silam menunjukkan, sebanyak kurang lebih 70.000 anak di Indonesia meninggal akibat diare.

Ini karena buruknya kualitas sanitasi dan ketiadaan air bersih yang memadai. Oleh karena itu, data tahun 2015 silam tersebut jangan sampai terjadi di masa sekarang.

Tindakan cepat tanggap harus dilakukan ketika terjadi krisis air bersih dan gangguan sanitasi di Banyuwangi.

Seperti yang dilakukan Polresta Banyuwangi yang dengan cepat menyalurkan bantuan berupa air bersih sebanyak 10 tangki berisi air bersih kepada warga terdampak kekeringan.

Ini didukung dengan langkah Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan Banyuwangi yang membuat program pembangunan jaringan perpipaan.

Sehingga pengembangan air bersih yang telah rutin dilakukan tetap terjaga. Sedangkan Palang Merah Indonesia (PMI) Banyuwangi juga mendistribusikan air bersih di desa-desa yang berpotensi mengalami krisis air karena kekeringan.

Ini merupakan bukti bahwa setiap masyarakat harus ikut serta berperan dan bertanggung jawab dalam menciptakan dan mengelola air minum yang layak.

Masyarakat harus benar-benar menyadari akan pentingnya keamanan air minum yang dikonsumsi dan sanitasi. Karena dua hal tersebut sangat berpengaruh bagi kesehatan.

Kita para generasi muda, dapat berperan serta menjaga kelayakan air dan sanitasi. Caranya dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Juga mengikuti gerakan menanam bibit-bibit tanaman atau pohon pada lahan yang kosong. Sehingga dapat menambah daerah resapan air. Yang pada akhirnya  dapat mengurangi kekeringan di sekitar kita.

Setelah tahun lalu, pemerintah juga fokus membangun sumur bor di sejumlah wilayah rawan air. Tahun ini dilanjutkan dengan program pembangunan jaringan perpipaan untuk mendukung distribusi air bersih.

Dengan harapan, masyarakat bisa semakin mudah mengakses air bersih sebagai upaya mendukung penurunan stunting. Serta, adanya program inovasi Dinas PU Pengairan sejak tahun 2022 yang bernama Program Sekolah merawat Daerah Aliran Sungai (Sekardadu). (*)

*) Pelajar MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#makhluk #bijak #hidup #logam #banyuwangi #sanitasi #air bersih