SASTRA dipelajari anak sejak kecil, bahkan kita kenal dengan sastra anak. Sastra anak menempatkan anak-anak sebagai fokusnya.
Ada yang mengartikan bahwa sastra anak itu adalah semua buku yang dibaca dan yang dinikmati oleh anak-anak.
Pernyataan itu kurang disepakati oleh Sutherland dan Arthburnot (1991:5), karena sastra anak bukan hanya meliputi buku yang dibaca dan dinikmati anak-anak, melainkan juga ditulis khusus untuk anak-anak dan memenuhi standar artistik dan syarat kesastraan.
Menurut Norton dalam Dadan (2006: 53), sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak yang dapat dilihat dan dipahami oleh anak-anak.
Jadi sastra anak tidak hanya karya sastra yang dibuat oleh anak-anak, tidak dibatasi oleh siapa pengarangnya. Melainkan untuk siapa karya itu diciptakan.
Sastra anak boleh saja karya orang dewasa tetapi isinya mencerminkan perasaan anak, pengalaman anak, serta dapat dipahami dan dinikmati oleh anak- anak sesuai dengan pengetahuan, perasaan dan nalar anak.
Sastra anak berupa lisan, tulis, dan aktivitas. Sastra lisan bisa berupa dongeng yang diceritakan ibu kepada anaknya, guru PAUD, TK kepada murid-muridnya.
Dongeng yang dipilih tentunya dongeng yang bagus, mengandung nilai moral yang baik.
Sastra tulis berorientasi pada unsur keindahan, berupa puisi, cerita fiksi, dan drama, yang dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik. Sehingga merangsang imajinasi anak.
Sementara sastra aktivitas berupa nyanyian. Bernyanyi merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak PAUD dan TK, aktivitas yang lain bisa berupa penampilan drama, pembacaan puisi/deklamasi.
Pesona sastra menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak, bisa memberi pengaruh bagi perkembangan jiwanya.
Bagi anak-anak, sastra bermanfaat untuk melatih perkembangan pribadinya (Huck, 1987; Norton, 1988).
Berikutnya sastra di tingkat SD. Pembelajaran sastra di sekolah dasar adalah pembelajaran sastra anak (Kinayati, 2009: 15). Dilihat dari segi genre, sastra anak dapat berupa puisi, cerita fiksi, dan drama anak.
Pada tingkat SD, anak-anak mulai mempelajari sastra. Bahkan anak-anak sudah diajarkan untuk mendalami makna puisi sehingga mampu membacakan puisi dengan penuh penghayatan. Karakteristik sastra anak lebih menonjolkan unsur fantasi pada prosanya.
Maka di tingkat SD, anak-anak juga diajarkan menulis prosa, anak-anak berimajinasi menggambarkan pengalaman, pemahaman, dan perasaan anak yang khas sesuai dengan karakteristiknya.
Pesona sastra pun mulai tampak. Hebatnya seorang pelajar SMP mampu mengekspresikan dirinya melalui sastra.
Sastra mulai menyentuh hati mereka yang diwujudkan dengan tampilan yang menakjubkan. Fungsi sastra bagi anak bisa menjadi media pendidikan sekaligus hiburan, menuntun kecerdasan anak, karena di dalam sastra memuat nilai moral dan pendidikan.
Sastra di tingkat SMP tak kalah memesona. Anak-anak mulai tumbuh menjadi remaja awal dengan segala keunikannya, mereka mendalami puisi, cerpen dan drama, lalu mengekspresikan dalam tampilan yang memukau.
Sastra di tingkat SMP masuk dalam cakupan mata pelajaran bahasa Indonesia, begitu juga di tingkat SD sampai SMA.
Fungsi sastra dalam dunia pendidikan tidak perlu ditanyakan lagi, selain estetis, rekreatif, sastra berfungsi moralitas yang memberikan edukasi mengenai moral baik dan moral buruk.
Di tingkat SMA sastra lebih memesona lagi. Mereka bermain sastra melalui media sosial. Karya mereka bagus, bermoral dan bernilai sastra.
Sejatinya bila karya sastra itu dibaca, dipahami isi dan maknanya, maka sastra tersebut berfungsi menjunjung nilai-nilai moral. Bahkan mereka belajar menulis novel.
Sastra sebagai karya fiksi, namun keberadaannya mampu mengubah pribadi seseorang, nilai-nilai kehidupan yang diajarkan dalam sastra, membentuk anak maupun remaja memiliki etika dan moral yang baik.
Sastra bermanfaat untuk berbagai kalangan. Mulai dari kecil hingga dewasa. Sastra anak tidak terlalu beda dengan sastra orang dewasa. K
eduanya sama-sama berada pada wilayah sastra mencakup kehidupan dengan segala perasaan, pikiran, dan wawasan kehidupan. Perbedaan hanyalah pada sastra anak menempatkan anak-anak sebagai fokusnya. (*)
*) Guru SMA Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin