SALAH satu topik yang sering dibahas saat saya mendampingi calon guru penggerak adalah pembelajaran berdiferensiasi.
Sebagai pengajar praktik yang mendampingi calon guru penggerak Saya melihat Ini sering menjadi topik yang menarik dan hangat untuk didiskusikan.
Karena topik ini adalah salah satu esensi kurikulum merdeka. Ternyata, banyak guru sudah menangkap pentingnya pembelajaran terdiferensiasi.
Pertanyaan terkait bagaimana prinsipnya, dan bagaimana cara menerapkannya di kelas? Menarik untuk kita bahas.
Salah satu miskonsepsi yang menyulitkan pembelajaran terdiferensiasi adalah "gaya belajar" murid. Teori pendidikan ini dikenal dengan Visual, Auditory, Reading/writing, Kinesthetic (VARK).
Menurut teori VARK, konon pembelajaran akan lebih efektif jika disesuaikan dengan gaya belajar murid.
Persoalannya, bagaimana mungkin guru mengakomodasi sekian banyak gaya belajar pada saat yang sama?
Bagaimana cara menyampaikan setiap materi dalam 4 atau lebih bentuk yang berbeda sesuai gaya belajar murid? Wah, makin asyik diskusinya. Mari kita simak berbagai hasil penelitian.
Tim Harold Pashler (2009) sudah memperingatkan, meskipun sangat populer, bukti ilmiah untuk teori gaya belajar "sangat lemah dan tak meyakinkan".
Pashler mengatakan, kita seharusnya merasa terganggu oleh hal ini, karena keyakinan yang keliru tentang cara belajar bakal membuat siswa tak optimal belajar dan guru tak optimal mengajar.
Hasil penelitian Rogowsky dkk (2015), yang tidak mendapati kegunaan dari melabeli seseorang dengan gaya belajar tertentu.
Anak yang merasa dirinya tipe auditori, saat dites secara auditori, hasilnya tidak lebih baik ketimbang yang lain. Dari berbagai macam tes, yang unggul ternyata anak yang terampil membaca teks.
Murid yang mengaku suka belajar secara auditori tetap akan sulit memahami matematika jika materinya disajikan hanya melalui suara, tanpa menggunakan grafik, rumus, dan aktivitas konkret.
Studi Knoll dkk (2017) menjawab pertanyaan bahwa : Apakah anak yang merasa yakin bahwa dirinya tipe visual berarti dia sungguh akan menyerap lebih materi visual?
Atau anak yang meyakini dirinya tipe verbal, benarkah akan menyerap lebih materi tulisan?
Tidak! Memilih antara visual atau verbal, itu tergantung selera anak saja, tetapi bukan berarti dia betul-betul memiliki potensi visual atau verbal lebih ketimbang yang lain.
Jadi, gaya belajar itu dinamis, hari ini siswa bisa audiovisual, besoknya bisa kinestetik.
Sejalan dengan studi terbaru dari Hushman & O'Loughlin (2019) yang meneliti ratusan pelajar. Menunjukkan bahwa ternyata menyesuaikan cara penyampaian materi dengan gaya belajar yang disukai anak-anak tidak meningkatkan prestasi mereka.
Masa iya, dalam pembelajaran fisika misalnya guru menggunakan media game. Siswa kinestetik disuruh main game, sementara siswa visual hanya disuruh melihat.
Ternyata, Yang membuat seorang mampu belajar lebih baik adalah metode atau strategi pembelajarannya. Seorang mudah belajar olahraga kalau lebih banyak kinestetiknya.
Bagaimana mungkin siswa bisa menendang bola dengan baik dengan hanya membaca buku atau melihat tayangan.
Maka latihan secara langsung menendang bola berkali-kali tentu akan lebih baik hasilnya dari yang hanya membaca buku atau melihat tayangan.
Jadi, Metode mengajar yang baik adalah metode multimedia, yang menghubungkan VARK secara tepat.
Maka, Alih-alih memberi penguatan, berbagai hasil riset justru berkata sebaliknya. Maka, teori gaya belajar ini tergolong pseudo-science alias tidak punya dasar ilmiah yang kuat.
Lantas, apa yang seharusnya dilakukan dalam pembelajaran berdiferensiasi? Menurut kepala BSKAP (Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan) Anindito Aditomo yang akrab kita kenal dengan pak Nino.
Pertama, Prinsip pembelajaran diferensiasi adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan awal murid. Ini diketahui melalui asesmen awal atau diagnostik.
Materi dan kecepatan pembelajaran kemudian dibuat agar memberi level tantangan yang tepat: tidak terlalu mudah (sudah bisa dilakukan sebelumnya), tapi juga tidak terlalu jauh dari kemampuan awal.
Kedua, Jika karakter materi dan profil siswa sudah terdeteksi melalui assesmen diagnostik, maka sediakan variasi baik konten, proses atau produk. Apakah ketiganya harus? sangat bagus, jika semua komponen pendukung siap. Namun, satu variasi saja sudah cukup.
Prinsipnya sederhana, tapi tentu perlu pemikiran dan kreativitas untuk bisa menerapkannya di kelas.
Namun, Justru inilah tantangan sebagai pendidik di era kurikulum merdeka untuk menciptakan pembelajaran yang tidak sekadar asyik dan menyenangkan tapi juga bermakna. Ayo jangan penjarakan diri kita dengan penjara-penjara yang kita ciptakan sendiri. Merdeka! (*)
*) Guru SMAN 1 Panarukan, Situbondo.
Editor : Ali Sodiqin