KASUS kebakaran hutan memiliki kaitan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang ketujuh.
Yaitu energi terjangkau dan bersih. Kebakaran hutan sering disebabkan oleh praktik pembukaan lahan dengan membakar. Ini juga dapat memicu emisi gas rumah kaca.
Kondisi ini bertentangan dengan upaya mencapai energi terjangkau dan bersih yang menjadi fokus SDGs ketujuh.
Upaya mengatasi kebakaran hutan mencakup perubahan dalam penggunaan energi, seperti menggantikan kayu bakar dengan sumber energi terbarukan.
Selain itu, pencegahan kebakaran hutan juga dapat mendukung tujuan SDGs lainnya, seperti pelestarian ekosistem darat (SDGs ke-15) dan perlindungan iklim (SDGs ke-13).
Sementara itu, hasil pengukuran kualitas udara di Banyuwangi pada semester pertama 2023 menunjukkan bahwa kualitas udara masih dikategorikan sangat baik.
Indeks kualitas udara yang digunakan mengklasifikasi kategori baik berada pada skor 70-90. Pada pengukuran tersebut, indeks kualitas udara di Banyuwangi mencapai skor 87,43.
Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi menyatakan, kualitas udara yang baik di Banyuwangi dapat dijelaskan oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah kelestarian hutan yang masih terjaga dengan baik. Selain itu, daerah ini juga memiliki banyak area terbuka yang hijau. Kehadiran area hijau ini diyakini membantu mengurangi tingkat polusi udara yang berasal dari emisi kendaraan dan industri.
Indeks Kualitas Udara (AQI) di Banyuwangi saat ini menunjukkan tingkat yang baik, menunjukkan bahwa udara di daerah tersebut relatif bersih dan sehat untuk pernapasan.
Namun, sebagai pembanding, situasi berbeda di Kalimantan Selatan, di mana data AQI dan tingkat polusi udara PM2.5 terakhir diperbarui pada 14:56, 15 September 2023. Provinsi tersebut saat ini mengalami tingkat polusi udara yang lebih tinggi dengan AQI mencapai 80.
Kondisi ini bisa menjadi perhatian serius karena tingkat AQI di atas 50 sudah dianggap sebagai tingkat pencemaran udara yang mempengaruhi kesehatan.
Baca Juga: Peringati Hari Santri, ASN Pakai Sarung dan Berkopiah, Ipuk: Santri Harus Bisa Memahami Makna Jihad
Polusi udara PM2.5 juga dapat memiliki dampak kesehatan yang serius. Terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua. Pemerintah setempat perlu mengambil tindakan untuk mengatasi masalah ini dan menjaga kualitas udara yang sehat bagi warga.
Dengan perbedaan mencolok ini, Banyuwangi menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengelolaan lingkungan yang baik dapat menghasilkan kualitas udara yang lebih baik dan dampak positif pada kesehatan masyarakat.
Sementara itu, Kalimantan Selatan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam upaya mengatasi polusi udara yang kompleks dan merugikan.
Diperlukan langkah-langkah konkret dan kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas udara di Jakarta, dan mengurangi dampak negatifnya pada kesehatan warga.
Untuk mengatasi kebakaran hutan dalam jangka waktu panjang, perlu dilakukan upaya terpadu. Pencegahan adalah kunci utama, dengan peningkatan pengawasan, penegakan hukum ketat, dan pendidikan masyarakat.
Pengelolaan lahan yang berkelanjutan, termasuk rehabilitasi lahan, serta promosi pertanian dan energi terbarukan.
Pengaturan air dan drainase harus ditingkatkan untuk menjaga kelembaban lahan. Kerja sama antar pemerintah dan lembaga, teknologi pemantauan, partisipasi masyarakat, dan perundang-undangan yang kuat diperlukan.
Dalam jangka waktu yang panjang, fokus pada pembangunan berkelanjutan dan kesadaran masyarakat akan membantu mengatasi masalah kebakaran hutan dan melindungi lingkungan.
Pemerintah Indonesia telah mengambil serangkaian tindakan untuk mengatasi polusi udara. Apalagi, hasil pengamatan menunjukkan kondisi polusi udara musim kemarau tahun ini merupakan yang terburuk.
Penyebab utamanya adalah asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung sejak Juni lalu.
Generasi Z memiliki potensi besar untuk membantu mengatasi kebakaran hutan di Kalimantan dengan memanfaatkan teknologi.
Mereka dapat mengembangkan aplikasi dan alat pemantauan menggunakan sensor, drone, dan satelit untuk mendeteksi dini kebakaran hutan.
Di media sosial, mereka dapat menyebarkan informasi tentang bahaya kebakaran hutan dan kampanye lingkungan.
Aplikasi pendidikan dapat diciptakan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan dan lahan gambut.
Kolaborasi dengan startup teknologi lingkungan dapat menghasilkan solusi berkelanjutan. Dalam kampanye daring dan petisi, mereka dapat mendesak perusahaan dan pemerintah untuk berkomitmen pada pelestarian hutan.
Penggunaan data dan analisisnya dapat memberikan pemahaman lebih baik tentang penyebab kebakaran hutan. Melalui inovasi dan kesadaran, Generasi Z dapat memainkan peran penting dalam melindungi lingkungan. (*)
*) Pelajar MAN 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin