PERAN santri tidak luput dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Semangat juang yang tinggi untuk membela kebenaran menjadi senjata utamanya dalam berjuang.
Tak lagi berhadapan dengan penjajah, kini tugas jihad santri sebetulnya masih sama besarnya. Pengaruh globalisasi yang semakin pesat menjadi musuh sekaligus senjata mereka dalam berjuang di zaman modern ini.
Stigma bahwa santri adalah kelompok orang-orang kolot yang tidak menerima perkembangan zaman, sudah waktunya dipatahkan. Penggambaran peran santri di era globalisasi.
Tak lagi berhadapan dengan penjajah, bukan berarti tantangan santri menjadi lebih mudah dan sederhana.
Ideologi dan pemikiran santri yang sangat terbuka dengan referensi keilmuan, dibarengi karakter diri yang kokoh, menjadi kekuatan besar penguatan karakter bangsa di dunia global.
Tak hanya isu lokal, tren modernitas global kini telah menjadi ranah santri dalam merespons isu-isu masyarakat.
Sejalan dengan prinsip dasar kaum santri, yakni Al-muhafadhah ala al-qadim as-shalih wa al-akhdu bi al-jadidi al-ashlah yang bermakna memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.
Di kalangan pesantren dan ulama Nusantara, prinsip inilah yang menjadi identitas diri untuk ikut serta membangun masyarakat bersama masyarakat itu sendiri.
Melalui prinsip ini, seorang santri dididik untuk turut peka terhadap isu sekitarnya dan turut bekerja bersama isu tersebut.
Hal ini yang menjadikan santri sebagai agen terdepan dalam menentukan respons terkini melalui pendekatan agama yang moderat.
Santri dapat melebarkan sayapnya melalui dua kecenderungan yang tengah berkembang di masyarakat. Inteligensi dan urban muslim, adalah kategori yang muncul sebagai buah dari transformasi Islam sebagai pola hidup dan berpikir masyarakat modern.
Hal ini sekaligus menjadi indikator bahwa era globalisasi membutuhkan peran agama di dalamnya, bukan malah meniadakan.
Baca Juga: Hutan Produksi Karetan Kembali Terbakar, Anggota Polsek Purwoharjo Memadamkan Api
Kategori inteligensi, fungsi santri diperluas untuk dapat andil dan fokus membahas isu-isu masyarakat, terutama hal-hal yang berada di antara negara dan agama.
Santri berperan luas untuk menjadi aktor dalam pembentukan masyarakat ideal (madani). Tak lagi berkutat dengan keilmuan agama semata, santri juga menjadi jembatan antara agama dan birokrasi.
Dengan begitu, suasana kehidupan sebuah bangsa yang kental akan nilai-nilai keislaman di dalamnya akan tercipta harmonisasi.
Berbeda dengan kategori inteligensi, urban muslim memandang bahwa agama sebagai fenomena yang berpengaruh terhadap gaya hidup.
Tren bisnis, mode, serta budaya menginginkan tampilnya unsur-unsur keislaman yang tampak sederhana dan artifisial. Bagi santri, kategori ini dapat menjadi batu loncatan untuk mendekati masyarakat secara lebih halus.
Sebab, budaya dan gaya hidup merupakan pintu masuk utama nilai-nilai keislaman, seperti yang telah dicontohkan para Wali Songo dalam dakwahnya pada masyarakat Nusantara.
Fakta ini membuktikan bahwa santri, melalui karakternya, adalah unsur penting dalam menghadapi isu negatif globalisasi.
Karakter egaliter dan demokratis santri dapat melawan otoritarianisme, sedangkan ketidakadlian sosial dan ekonomi dapat diatasi dengan karakter bersahaja dan tawaduk (rendah hati) santri.
Begitu juga dengan kecurangan-kecurangan politis yang kerap terjadi, dapat diatasi dengan karakter jujur dan ikhlas santri.
Sedangkan karakter moderat dan inklusif santri berperan untuk mengatasi konflik agama dan terorisme.
Penguatan karakter dan peran santri ini sangat dibutuhkan. Di era revolusi industri 5.0 nanti, agama akan kembali berperan dalam memimpin sains.
Re-spiritualisasi masyarakat menjadi tugas besar santri untuk mengarahkan perkembangan masyarakat modern.
Secara tidak langsung, peradaban manusia sebenarnya turut bergantung kepada peran santri dalam merespons dan mengendalikan isu-isu global yang krusial.
”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.”
Tugas santri bukan hanya berperan tapi juga bermanfaat bagi sesama. Pemikiran yang telah ditanamkan menjadi orang itu harus bermanfaat!
Semakin berkembangnya zaman, dunia mulai dikuasai tangan penjajah. Tanpa kita sadari kita harus bisa menjadi generasi emas untuk Indonesia. Santri untuk Indonesia. (*)
*) Mahasiswa Prodi Bimbingan dan Konseling Islam, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.