Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cegah Stunting Sebelum Genting

Ali Sodiqin • Sabtu, 21 Oktober 2023 | 00:30 WIB
Oleh: RESSY NOVIA ARTHANIZA*
Oleh: RESSY NOVIA ARTHANIZA*

HINGGA kini, isu stunting (tengkes) masih menjadi fokus dan permasalahan nasional yang butuh penanganan khusus.

Berdasar data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, Banyuwangi memiliki angka stunting 18,8 persen yang masih di bawah target RPJMN 2022-2024, yaitu 14 persen.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, penyebab tengkes tidak hanya mengacu pada satu faktor, melainkan multi-faktor.

Mulai dari kurangnya akses ke bahan pangan bergizi, terbatasnya layanan kesehatan, praktik pengasuhan yang kurang baik, serta kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang layak.

Stunting merupakan kondisi di mana tinggi badan anak yang tidak normal karena kebutuhan nutrisi sejak berada dalam kandungan hingga berusia dua tahun kurang terpenuhi.

Berdasar Riset Kesehatan Dasar (2018), angka stunting di Indonesia mencapai 30,8 persen. Artinya, satu dari tiga balita di Indonesia menderita tengkes.

Kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk adalah penyebab tingginya angka stunting di Indonesia.

Menurut riset Kementerian Kesehatan (Kemkes), stunting yang disebabkan oleh tidak adanya air bersih dan sanitasi buruk mencapai 60 persen, sementara yang dikarenakan gizi buruk “hanya” 40 persen.

Dengan tingginya angka stunting di Indonesia dapat diketahui bahwa peran air bersih tidak dapat diabaikan begitu saja. Karena air bersih digunakan untuk berbagai aktivitas oleh masyarakat.

Air bersih dan sanitasi menjadi faktor esensial dalam pencegahan tengkes. Karena hubungan konsumsi air kotor dengan stunting terletak pada banyaknya mikroorganisme (seperti patogen dan bakteri E.coli) pada air kotor yang bila dikonsumsi terus-menerus dapat mengganggu sistem tubuh manusia.

Beberapa penyakit yang disebabkan oleh air kotor antara lain diare dan cacingan. Anak yang sulit mendapatkan akses air bersih, bisa mengalami diare berulang kali.

Padahal, saat mengalami diare, ada banyak cairan dan mikronutrien (nutrisi penting) yang terbuang dari dalam tubuh anak.

Selain memperhatikan ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak, terdapat juga beberapa hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk meminimalkan potensi tengkes pada anak sejak dini.

Di antaranya mengonsumsi secara rutin Tablet tambah Darah (TTD), memberikan ASI eksklusif pada bayi hingga berusia enam bulan, memberikan MPASI yang bergizi dan kaya protein hewani untuk bayi yang berusia di atas enam bulan. Juga memantau perkembangan anak dan membawa ke posyandu secara berkala.

Itulah beberapa upaya untuk mendeteksi sejak dini terjadinya gangguan tengkes pada anak. Pencegahan sejak dini adalah salah satu cara terbaik untuk mengurangi prevalensi stunting.

Prosedur yang tidak kalah penting adalah melakukan skrining rutin dan follow up tinggi badan balita yang persisten.

 Program posyandu sudah dibuat baik dan dapat menjadi solusi konkret, untuk menjangkau semua lapisan masyarakat.

Sementara itu perlu diketahui, wilayah Kecamatan Wongsorejo merupakan daerah kering yang ketinggiannya berada pada 400 meter dari permukaan laut. Curah hujan rata-rata tiap tahun berkisar hanya 1.127 - 1.250 mm.

Sumbangan saluran air bersih yang sudah dilakukan oleh beberapa pengusaha muda, sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Partisipasi pengusaha muda Banyuwangi ini bisa menjadi contoh. Sehingga pihak lain bisa lebih memperhatikan sekitar yang membutuhkan bantuan air bersih.

Dengan adanya upaya dan partisipasi warga tersebut, kita sebagai remaja yang merupakan calon orang tua dan agent of change, dapat memainkan perannya dalam penurunan stunting.

Remaja yang menjalankan perilaku hidup sehat, termasuk konsumsi makanan bergizi, dan memiliki wawasan mendalam tentang stunting.

Remaja juga akan berpotensi menyuarakan permasalahan dan dampak tengkes ke sesamanya atau bahkan menyebarkannya ke masyarakat luas.

Untuk itu, kita sebagai remaja harus lebih memperhatikan pola makan dan pola hidup sehat, guna mewujudkan generasi emas anti stunting. (*)

*) Pelajar MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#kandungan #konsumsi #gizi #Tengkes #banyuwangi #pola makan #air bersih #stunting