Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kopi dan Sufi, Sinergi Tak Terbantahkan

Ali Sodiqin • Rabu, 18 Oktober 2023 | 21:30 WIB
Oleh: M. AZIZ RIFQIAN*
Oleh: M. AZIZ RIFQIAN*

PEMBAHASAN mengenai kopi seakan tidak pernah ada habisnya. Dalam mindset masyarakat Indonesia, kebanyakan beranggapan kopi harus hitam dan pahit.

Tetapi sebenarnya tidak melulu seperti itu. Komoditas kopi masuk Indonesia tahun 1696 oleh Belanda.

Saat itu Belanda membawa kopi jenis Arabika yang dibawa dari India, seiring berjalannya waktu muncullah kopi jenis Robusta dan Liberika.

Lantas, apa kaitan kopi dengan sufi? Bukankah para sufiah ada sebelum munculnya kopi?

Sering muncul dalam pikiran kita, bahwa mengapa harus kopi, dan mengapa ulama terdahulu beranggapan bahwa kopi adalah minuman yang mampu mendekatkan diri kepada Allah.

Sudah menjadi pengetahuan umum, ulama sufiah memiliki keterkaitan kuat dengan kopi. Berbicara mengenai kopi dan perjalanannya menjadi sajian minuman yang mendunia tak bisa lepas dari Islam, mulai dari kisah awal mula penemuannya, pengolahan, hingga penyebaran, kisah- kisahnya banyak yang dikaitkan dengan Islam.

Menilik sejarah kopi bermula di Abyysinia (Ethiopia) di Afrika. Kopi merupakan serapan Bahasa Inggris yaitu coffee, dalam Bahasa Arab kopi disebut qohwah.

Bermula dari seorang pemuda penggembala bernama Kaldi yang tidak sengaja memakan biji-bijian di semak belukar. Kaldi merasakan perubahan yang luar biasa setelah memakannya.

Lalu ia menceritakan ke masyarakat, hingga menyebar menjadi bahan makanan.

Dahulu biji kopi diolah bersama sayuran. Kisah Kaldi tidak jauh beda dengan kisah tokoh Islam yaitu Ghothul Akbar Nooruddin Abu al-Hasan al-Shadhili, seorang sufi dari Yaman.

Ketika perjalanan menuju Ethiopia, Gothul merasa lelah dan memakan makanan buat tanaman kelinci.

Dahsyatnya, ia merasakan energi seolah kembali setelah memakannya. Ulama sufi ini pun menceritakan kepada masyarakat.

Minuman kopi memiliki ikatan sangat kuat dengan ulama. Dalam beberapa kajian para ulama juga berkomentar mengenai kopi di antaranya Al Allamah Abdul Qodir Bin Muhammad Al Jaziry dalam kitabnya Umdatus Shofwah Fi Hukmil Qohwah, bahkan banyak pula ulama yang mengeluarkan fatwa mengenai kebolehan untuk minum kopi, diantaranya adalah Syidi Syekh Zakariya Al-Anshory, Syidi Syekh Abdurrohman Bin Ziyad, dan Syidi Abdullah Al-Hadad.

Nama-nama tersebut adalah kalangan ulama sufi yang ikut berkomentar mengenai kopi. Bahkan banyak ulama yang menciptakan sebuah karangan kitab yang menjelaskan mengenai hukum kopi dan faedah meminum kopi.

Dari Indonesia, ada ulama bernama Al-Allamah Syeikh Ikhsan Jampes Kediri, dalam kitabnya Irsyadul Ikhwan Fi Syurbil Qohwah Waaddukhon. Begitu juga dijelaskan dalam kitab Tarikh Ibnu Toyyib mengenai keutamaan minum kopi.

Ada beberapa landasan mengapa kopi sangat besar manfaatnya bagi cendekiawan, terlebih untuk kemajuan agama Islam.

Karena memang para ulama sufiah memaksimalkan waktu malam untuk membahas perihal agama ditemani dengan cangkir berisi kopi hangat.

Kandungan kafein dalam kopi membuat mereka memiliki ketahanan tubuh kuat dan tahan melek untuk bertasawuf kepada-Nya.

Teori ini sudah dibuktikan Ibnu Sina dalam karya berjudul al-Qanun fi al-Tibb, sebuah kitab yang membahas efek kopi dalam perspektif medis.

Ibnu Sina menjelaskan asal muasal kopi, jenis kopi, hingga manfaat kopi bagi kesehatan. Bahkan, ternyata bukan rasanya yang enak, tapi juga kopi dapat membuat kelembaban kulit terjaga.

Aroma khas kopi juga menambah stimulus kesehatan tubuh dan pikiran.

Kita sejenak menghirup bau kopi, rasanya seperti menghirup sesuatu yang membuat pikiran lega. Kita merasakan aromatherapy yang tanpa sadar membuat kita candu.

Di era gen-Z ini, sumber informasi semakin mudah kita dapatkan. Ini semakin menaikkan eksistensi informasi objek kajian. Sehingga kopi semakin mudah dikenal hingga akar-akarnya.

Manfaat kopi, pengaruh kopi, semua hal positif atau negatif, sangat mudah kita dapatkan, bahkan kopi yang semula hanya biji-bijian ternyata menyimpan banyak manfaat.

Seperti menjaga kesehatan otak, kesehatan liver, menurunkan risiko diabetes, menjaga berat badan ideal, sampai mengurangi risiko penyakit jantung.

Begitu hal negatif mengonsumsi kopi. Konsumsi berlebihan akan mengakibatkan efek diuretic yang dapat menimbulkan dehidrasi.

Gangguan tidur (insomnia) sampai meningkatkan denyut nadi. Tentu, setiap hal memiliki porsi masing-masing. Sesuatu yang berlebihan akan menimbulkan hal tidak baik.

Penulis menekankan pada objek kaitan antara kopi dan Islam sangat besar. Peran kopi membantu ulama terasa hingga tak sedikit dari tokoh muslim yang menjadikannya sebagai karangan.

Banyak penjelasan tentang kopi, namun masih sedikit yang tahu hubungan kopi dan ulama sufi.

Kita sebagai generasi baru, wajib memiliki wawasan mengenai hal ini. Karena kita adalah generasi penyambung lidah pendahulu.

Sangat penting bagi kita lebih mendalami agar pengetahuan tidak terputus seiring berjalannya waktu. (*)

*) Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#Pengolahan #penyebaran #islam #sufi #kopi