PENGEMBANGAN bisnis dan industri pangan lokal Banyuwangi, makin tahun makin berkembang saja. Berbagai kelompok usaha atau kelompok pengusaha sudah mulai memantapkan diri.
Mereka mengembangkan usaha melalui dua cara yaitu fasilitasi kepada UMKM untuk pengembangan bisnis pangan segar, industri bahan baku, dan industri pangan olahan, serta pangan siap saji, yang aman berbasis sumber daya lokal.
UMKM pangan lokal Banyuwangi memiliki peran penting dalam menumbuhkan industri pangan lokal, yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan ketahanan pangan. Salah satu yang paling diminati kalangan muda yaitu usaha kuliner.
Dengan berbekal inovasi bidang makanan dan modal yang tidak terlalu besar, bisnis ini cukup menjanjikan. Pengembangan UMKM juga tidak luput dari kontribusi pembiayaan dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya yang masih memiliki keterbatasan informasi mengenai UMKM potensial lengkap dengan kelayakan usahanya.
Penggolongan UMKM didasarkan oleh batasan omzet pendapatan per tahun, jumlah kekayaan aset, serta jumlah pegawai. Sedangkan yang tidak masuk kategori UMKM atau masuk dalam hitungan usaha besar, yaitu usaha ekonomi produktif yang dijalankan oleh badan usaha dengan total kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah.
Sebuah usaha dikatakan sebagai UMKM bila memiliki keuntungan Rp. 300 juta, dan memiliki aset atau kekayaan bersih minimal sebanyak Rp. 50 juta. Kriteria dalam UMKM adalah sebuah usaha yang dimiliki oleh suatu lembaga atau badan usaha, atau perseorangan.
UMKM di bidang pangan, produksi gula aren organik memiliki gambaran tersendiri. Para perajin tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Bukit Hijau.
Total anggotanya 30 perajin gula aren. Dalam sebulan, mereka mampu memproduksi hingga 5 Ton gula merah aren organik. Pemasarannya merambah sejumlah kota di Jawa Timur.
Berbagai upaya terus dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk peningkatan perekonomian daerah. Melalui program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa), bantuan peralatan produksi diserahkan untuk 30 kelompok tani produsen gula aren organik di Desa Kluncing, Kecamatan Licin.
Desa Kluncing memang banyak dijumpai pohon aren. Terhitung sebanyak 1.500 pohon aren yang tumbuh liar di desa ini, ditambah dengan 400 pohon yang ditanam oleh warga. Sehingga total ada 1.900 pohon aren.
Pasar peminat gula aren organik buatan mereka sudah merambah hingga ke luar daerah seperti Malang, Situbondo, dan Surabaya. Dengan bantuan tersebut, harapannya produksi juga meningkat sehingga bisa merambah pasar yang lebih luas lagi. Perekonomian masyarakat secara spesifik Desa Kluncing akan meningkat pula.
Dalam perkembangannya, UMKM Banyuwangi juga masih dihadapkan pada masalah mendasar. Seperti sulitnya akses UMKM pada pasar atas produk-produk yang dihasilkan, dan lemahnya pengembangan serta penguatan usaha, termasuk keterbatasan akses terhadap sumber-sumber pembiayaan dari lembaga-lembaga keuangan.
Keterbatasan akses sumber-sumber pembiayaan yang dihadapi UMKM, terutama dari lembaga-lembaga keuangan formal, seperti perbankan, menyebabkan mereka bergantung pada sumber-sumber informal.
Bentuk dari sumber-sumber informal ini beraneka ragam, mulai dari rentenir, hingga berkembang dalam bentuk unit-unit simpan pinjam, koperasi, dan bentuk-bentuk yang lain. Keberadaan lembaga-lembaga keuangan informal ini kemudian disebut Lembaga Keuangan Mikro (LKM).
Permasalahan yang dihadapi UMKM Banyuwangi masih melingkupi secara struktural sehingga masih banyak pelaku UMKM yang sebetulnya feasible tetapi tidak bankable (mampu tapi secara ekonomi kurang mendukung).
Untuk mengatasi masalah tersebut salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melalui “Kemitraan Usaha” antara pelaku UMKM dengan pihak terkait, sehingga diharapkan melalui kemitraan usaha dapat secara cepat dilaksanakan hubungan timbal balik.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah memiliki peran besar dalam perekonomian rakyat, upaya pengembangan dan pemberdayaan UMKM di Jawa Timur telah banyak dilakukan, baik oleh Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten, Kota, BUMN, dan BUMD.
Dalam upaya membuat pengembangan kemitraan usaha antara pelaku UMKM dalam rangka peningkatan peran dan kinerja UMKM dalam perekonomian Jawa Timur digunakan analisis SWOT.
Kemitraan dalam pengembangannya sangat membantu pelaku UMKM sehingga pelaku UMKM dapat terus berinovasi dan melakukan pengembangan sehingga produk UMKM yang dihasilkan dapat bersaing dengan produk domestik dan produk internasional.
Kelompok generasi muda Banyuwangi merupakan lapisan masyarakat yang potensial untuk dilibatkan dalam berbagai upaya adaptasi dan inovasi di sejumlah sektor termasuk pada sektor UMKM.
Peran pemuda pasti berdampak positif jika terus mendukung pengembangan UMKM Banyuwangi. Peran generasi muda menyebabkan perubahan perilaku dalam perekonomian, kemandirian yang bagus, kreatif dan mampu menciptakan peluang-peluang usaha Penggunaan hasil produk UMKM perlu dilakukan pemuda sebagai peran nyata mendukung pengembangan UMKM Banyuwangi. (*)
*) Pelajar MAN 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin