BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi menyatakan, terdapat empat kecamatan yang dikategorikan rawan krisis air bersih.
Daerah tersebut meliputi Kecamatan Wongsorejo, Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Bangorejo, dan Kecamatan Tegaldlimo.
BPBD telah melakukan cek lokasi dan berkoordinasi dengan para kepala desa di empat kecamatan tersebut.
Selain itu tandon telah disiapkan untuk menampung air bersih, terutama di daerah rawan kekeringan. Polresta Banyuwangi juga ikut berperan dalam penanggulangan krisis air di beberapa wilayah.
Kabar baiknya, meskipun Banyuwangi masuk kategori daerah rawan kekeringan, sampai hari ini belum mendapatkan laporan terjadinya kekeringan.
Salah satu penyebab terjadinya krisis air adalah fenomena El Nino. Ini fenomena pemanasan suhu muka laut di kawasan Samudera Pasifik.
Efek sampingnya, curah hujan di Indonesia menurun cukup signifikan. Musim kemarau yang disertai El Nino dapat memicu kekeringan di sejumlah daerah.
Krisis air merupakan awal dari timbulnya krisis-krisis lain. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup manusia. Efek langsung yang dirasakan masyarakat adalah hilangnya akses terhadap sumber air bersih.
Hilangnya akses terhadap sumber air bersih dapat mengancam kesehatan dan keselamatan warga. Dampak lain krisis air adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hasil pemetaan BMKG per 8 Agustus 2023 menyatakan, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam zona merah atau sangat mudah terjadi kebakaran lahan.
Beberapa titik di Banyuwangi juga rawan terjadi kebakaran lahan dan hutan. Di antaranya di kawasan Gunung Ijen, Gunung Merapi Ungup-Ungup dan kawasan Gunung Ranti.
Pemerintah Banyuwangi mengimbau agar wisatawan yang sedang berkunjung di kawasan Gunung Ijen dan sekitarnya tidak membakar dedaunan maupun kertas secara sembarangan.
Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan karena Banyuwangi telah memasuki musim kemarau yang menyebabkan tumbuhan di kawasan tersebut mulai berguguran dan meranggas.
Besarnya dampak yang disebabkan oleh fenomena krisis air ini menjadi perhatian pemerintah dan pihak-pihak yang bersangkutan.
Andil pemerintah dalam menanggulangi masalah krisis air adalah dengan mendistribusikan air bersih ke daerah yang membutuhkan.
Selain itu, pemerintah telah mengantisipasi kebakaran lahan dengan melakukan patroli gabungan TNI dan Polri rutin di wilayah hutan. Serta memberikan penyuluhan dan edukasi masyarakat tentang bahaya karhutla, serta aturan pengelolaan lahan.
Tidak hanya pemerintah, masyarakat Banyuwangi juga turut berperan dalam menanggulangi masalah krisis air.
Masyarakat dapat menjaga ekosistem air seperti sungai, danau, dan hutan yang berfungsi sebagai sumber air dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengolah limbah sebelum dibuang, dan mengadakan reboisasi.
Masyarakat juga perlu memiliki persediaan air bersih yang cukup.
Caranya, dengan mengurangi aktivitas pemborosan air dalam aktivitas sehari-hari. Seperti mencuci, mandi, dan menyiram tanaman.
Selain itu, masyarakat Banyuwangi juga harus menaati imbauan pemerintah, agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Namun tampaknya upaya pemerintah dan masyarakat tersebut harus dibarengi langkah pencegahan lain yang bersifat jangka panjang.
Sebagai generasi muda, kita harus mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi krisis air.
Generasi muda dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan air yang berkelanjutan melalui kampanye sosial.
Kampanye dapat dilakukan secara online dengan menyebarkan edukasi lewat sosial media mereka. Selain itu, Generasi muda dapat menerapkan kebiasaan penggunaan air yang bijaksana, seperti mematikan keran saat tidak digunakan, memperbaiki kebocoran, dan mengurangi pemborosan air.
Teknologi di dunia sudah semakin canggih. Kita sebagai generasi muda dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk mengembangkan solusi inovatif yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah krisis air, seperti menggunakan aplikasi pintar untuk pemantauan konsumsi air atau sistem pengolahan air yang lebih efisien.
Generasi muda juga dapat menjadi suara yang kuat dalam mendukung kebijakan pemerintah yang berfokus pada perlindungan sumber daya air dan lingkungan.
Tidak hanya itu, Generasi muida dapat aktif terlibat dalam program-program lingkungan, seperti reboisasi, pembersihan sungai, untuk menjaga ekosistem air yang sehat dan bersih.
Dengan peran aktif generasi muda dalam mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi bencana krisis air, diharapkan agar dapat memperbaiki pengelolaan sumber daya air dan penanganan krisis air yang lebih efektif untuk masa kini, dan masa yang akan datang. (*)
*) Pelajar MAN 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin