TINGKAT kekurangan gizi di Indonesia masih tinggi. Menurut survei Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), ada 21 juta warga Indonesia yang kekurangan gizi, dan 21,6 persen anak mengalami stunting.
Sekitar 21 juta orang atau tujuh persen dari populasi kekurangan gizi, dengan asupan kalori per kapita harian di bawah standar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sebesar 2.100 kkal.
Kemenkes RI menegaskan, seluruh masyarakat perlu memahami pentingnya gizi dalam setiap siklus kehidupan. Tak terkecuali semasa remaja. Karena gizi adalah investasi bangsa.
Akan tetapi hingga saat ini beberapa masalah kesehatan masih dialami dan mengancam masa depan remaja Indonesia.
Di Banyuwangi kasus kekurangan gizi harus di perhatikan Bupati Banyuwangi mengatakan bahwa perkembangan saat remaja sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa.
Masalah gizi yang terjadi di usia remaja akan meningkatkan kerentanan serta berisiko melahirkan generasi yang mengalami kekurangan gizi.
Kekurang gizi adalah kondisi dimana tubuh tidak memperoleh asupan nutrisi yang cukup seperti asupan protein, vitamin, kalori hingga mineral.
Adapun efek dari kekurangan gizi tersebut akan menyebabkan tubuh kurus, wasting, hingga stunting.
Masalah yang banyak di alami pada remaja saat ini adalah kurangnya gizi yang disebabkan karena ingin memiliki penampilan langsing seperti selebriti idola atau takut gemuk dan tidak percaya diri.
Maka dari itu, salah satu masalah kesehatan yang masih dialami dan mengancam remaja Indonesia adalah kurang energi kronis. Atau sering kita lihat sebagai remaja dengan bentuk tubuh kurus.
Remaja kurus atau kurang energi kronis bisa disebabkan karena kurang asupan zat gizi. Baik karena alasan ekonomi, maupun alasan psikososial.
Kemenkes menyatakan, remaja mudah dipengaruhi oleh teman sebaya dan media sosial. Sehingga rawan terpengaruh oleh perilaku yang tidak sehat, atau mendapatkan informasi kesehatan dan gizi yang tidak benar (hoaks).
Misalnya, mengikuti pola diet selebritis, mengonsumsi jajanan yang sedang hits namun tidak bergizi. Atau kurang beraktivitas fisik karena terlalu sering bermain gim sehingga mager (malas gerak).
Kekurangan gizi ternyata dapat disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya penyakit tertentu di mana dapat menyebabkan nafsu makan seseorang menjadi berkurang.
Seperti gangguan pencernaan dan penyakit hati, hingga penyakit paru-paru. Juga bisa akibat kondisi kesehatan mental tertentu. Seperti depresi atau skizofrenia yang akan mempengaruhi mood seseorang untuk makan.
Ada pula sebab gangguan pencernaan yang berdampak pada proses penyerapan nutrisi. Contohnya seperti penyakit colitis ulserati dan crohn, mengalami demensia di mana menyebabkan seseorang mengabaikan kesehatan bahkan hingga lupa. Juga bisa karena mengalami penyakit terkait gangguan makan seperti anoreksia.
Berikut dampak kekurangan gizi pada remaja yang terjadi di Banyuwangi. Yang pertama yakni sulit untuk konsentrasi. Kemudian adanya penurunan berat badan, serta rambut dan kulit menjadi kering.
Sedangkan upaya perbaikan gizi remaja dapat dilakukan melalui beberapa program, antara lain: Perbaikan pola makan untuk memperbaiki asupan makanan sehat dan bergizi seimbang. Ini merupakan cara paling efektif untuk mengatasi serta mencegah dampak gizi buruk.
Pencegahan dapat dilakukan dengan mengonsumsi aneka makanan pokok dan makanan tinggi protein, lemak sehat, dan karbohidrat. Tidak lupa biasakan mengonsumsi 3–4 porsi sayur dan 2–3 porsi buah setiap hari.
Pemantauan status gizi buruk pada anak bisa berdampak terhadap tumbuh kembang, kemampuan belajar, dan masa depannya.
Upaya pemerintah untuk melakukan usaha perbaikan gizi telah diatur dalam berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berkaitan dengan ini, pemerintah telah memiliki target penurunan stunting yang membutuhkan dibutuhkan kerja sama semua pihak. Baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dukungan organisasi kemasyarakatan.
Sebagai remaja penerus bangsa, kita harus mengurangi kasus kekurangan gizi. Hal ini, upaya agar terhindar dari gizi buruk dengan menerapkan kebiasaan makan dan gaya hidup sehat.
Tidak mengikuti gaya orang barat dengan kebiasaan buruk, bahkan melakukan diet secara drastis.
Perbaikan gizi sangat penting untuk mewujudkan generasi bangsa yang sehat dan memiliki gizi yang terpenuhi. Karena itu, sebagai remaja kita harus mengatur pola makan dengan mengonsumsi makanan tinggi protein, vitamin, hingga mineral. (*)
*) Siswa MAN 1 Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin