Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Terjaga Air Bersih, Keberlanjutan Hidup Dapat Diraih

Ali Sodiqin • Senin, 2 Oktober 2023 | 22:00 WIB
Oleh: HANNY ASYA ARIANI*
Oleh: HANNY ASYA ARIANI*

HASIL Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Kementerian Kesehatan tahun 2020 menyatakan, bahwa tujuh dari 10 rumah tangga Indonesia mengonsumsi air minum yang terkontaminasi bakteri E-coli.

Akses air minum layak di Indonesia mencapai 93 persen. Sedangkan akses air minum aman hanya 11,9 persen.

Air kebutuhan sanitasi yaitu air yang tidak berbau, tidak berasa, dan tidak keruh. Selain itu, air tersebut tidak mengandung bakteri serta mengandung kadar kimiawi yang rendah.

Adapun standar air bersih untuk minum yaitu terlindung dari sumber pencemaran, binatang pembawa penyakit, dan tempat perkembangbiakan hewan atau bakteri.

Secara fisik air bersih layak minum yaitu tidak berbau, warnanya jernih, rasanya tawar, dan tidak terpapar langsung sinar matahari, memiliki suhu sejuk sekitar 10–25 derajat Celcius, dan tidak memiliki endapan.

Sementara itu, krisis air bersih pernah melanda korban banjir di Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi tahun lalu.

Warga tak bisa mendapatkan air layak pakai, membuat mereka hanya menggantungkan kiriman air bersih dari pemerintah.

Selain itu, krisis air bersih juga melanda wilayah Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, akibat kekeringan. Namun semua masa sulit itu sudah berhasil dilewati.

Krisis air bersih berdampak sangat buruk terhadap kehidupan makhluk hidup. Sebab, keberadaan air bersih sangat penting untuk keberlangsungan aspek kehidupan dan keseimbangan lingkungan.

Coba bayangkan bagaimana jika krisis air bersih terjadi? Pastinya akan mengganggu kestabilan ekosistem bukan? Kira-kira apa saja ya dampaknya?

Krisis air bersih berisiko tinggi munculnya penyebaran penyakit. Misalnya, penyakit diare, korela, disentri, polio, hingga stunting pada anak.

Dilansir dari data Bappenas, 31 persen kematian anak di Indonesia disebabkan oleh diare dan berbagai penyakit saluran pencernaan lainnya.

Ketika air tidak tersedia, orang mungkin tidak akan mencuci tangan, sehingga menambah kemungkinan seseorang terkena diare dan penyakit lainnya.

Sektor pertanian memerlukan air untuk irigasi tanaman. Jika terjadi krisis air, otomatis aktivitas bercocok tanam untuk menghasilkan sumber pangan akan terganggu dan terhambat.

Alhasil, manusia hingga hewan akan kelaparan dan berujung pada kematian karena kurangnya pasokan makanan.

Untuk mencegah dampak-dampak itu terjadi, mengurangi krisis air bersih dapat dilakukan dengan membuat penampungan air hujan.

Indonesia memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Saat musim hujan, kita dapat membuat tempat penampungan air hujan.

Dengan membuat tempat penampungan seperti ini, ketergantungan akan air tanah dan air permukaan bisa dikurangi.

Menanam pohon atau reboisasi juga dapat membantu menjaga ketersediaan air bersih. Pohon merupakan fasilitas penyaring air alami.

Tidak hanya berperan sebagai penyaring air, pohon juga bisa menyimpan air tanah serta menyimpan sebagian besar pasokan air bersih.

Kegiatan menghemat penggunaan air sangat penting karena dapat melestarikan sumber daya air bersih.

Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghemat penggunaan air, misalnya mematikan keran air jika sedang tidak digunakan, menggunakan air bekas cucian beras untuk menyiram tanaman, menampung air hujan, dan masih banyak lagi.

Beberapa hal tersebut memang terlihat sepele, tetapi kegiatan-kegiatan tersebut sangat membantu untuk menjamin pasokan air bersih dalam jangka waktu yang panjang. Pasti kita semua tidak ingin anak cucu kita nanti kekurangan air bersih bukan?

Pemkab Banyuwangi berupaya menggencarkan langkah pencegahan dan penurunan angka stunting, yang salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya akses air bersih dan sanitasi layak.

Salah satunya dengan membangun infrastruktur perpipaan guna memastikan ketersediaan air bersih hingga pelosok desa.

Kita sebagai generasi muda wajib ikut serta menjaga ketersediaan air bersih, dengan bersatu dan menggerakkan masyarakat.

Menghindari krisis air bersih dapat dimulai dengan melakukan hal-hal kecil. Seperti menggunakan air secara efektif dan tidak berlebihan, memanfaatkan air bekas untuk sesuatu yang lebih berguna.

Juga melaksanakan gerakan membersihkan sungai bersama masyarakat, dan hal-hal inovatif lainnya yang mungkin terlihat sepele, padahal berdampak besar bagi keberlangsungan hidup makhluk hidup. Jadi, ayo kita laksanakan hal-hal kecil ini. Kalau bukan kita, siapa lagi? (*)

*) Siswi MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#Lingkungan #krisis air #air tanah #air minum #bakteri #banyuwangi #rumah tangga #e-coli #air bersih