Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pemanfaatan Sampah Berdaya Jual, Bernilai Kesehatan, dan Ramah Lingkungan

Ali Sodiqin • Selasa, 19 September 2023 | 02:00 WIB
Oleh: GRACEILA OKTAMANICKA DAYU*
Oleh: GRACEILA OKTAMANICKA DAYU*

SEJAK lahir manusia tidak pernah terlepas dari sampah, bahkan tanpa sadar, kita turut serta memproduksi.

Kebanyakan masyarakat masih terbiasa membebaskan diri dari sampah yang dihasilkan rumah tangga dengan membuangnya ke sungai atau membakar.

Baik sampah organik, anorganik, dan sampah bahan berbahaya, serta sampah beracun.

Jika melihat jenis sampah yang ada, sangat mudah dan berpeluang besar apabila sampah tersebut bisa diolah menjadi sesuatu yang memiliki daya jual.

Bisa dibayangkan potensi yang terlewat begitu saja karena menyia-nyiakan sampah. Bahkan tergambar jelas bahayanya ketika sampah dibuang di sungai.

Perlu adanya tindakan nyata. Kesadaran peduli lingkungan yang tinggi, serta semangat besar masyarakat untuk mewujudkan sampah menjadi bahan atau produk yang bisa dijual, serta membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Pengelolaan sampah saja dirasa tidak cukup. Selagi bisa menciptakan peluang kerja untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, mengapa tidak dicoba. Harus ada terobosan dan inovasi yang bisa diciptakan.

Agar harapan tersebut bisa tercapai. Beberapa dia ntaranya adalah pemberdayaan hewan magot atau larva Black Soldier Fly (BSF), pengolahan sampah menjadi eco enzyme, serta pengelolaan sampah menjadi ecobrick.

Pemberdayaan Magot

Kini sudah tidak asing lagi mendengar kata hewan magot. Magot dapat menguraikan sampah-sampah organik hasil dari sampah rumah tangga.

Melalui pemberdayaan magot, tidak hanya berfungsi sebagai pengurai sampah, namun banyak juga para peternak yang membutuhkan magot untuk bahan konsumsi ternaknya.

Sehingga manfaat yang bisa diambil ialah, sampah rumah tangga dapat terurai, dan hasil pemberdayaan maggot bisa diperjualbelikan. Sehingga bisa menjadi bisnis tambahan bagi masyarakat.

Eco Enzym

Pembuatan eco enzym ini masih membutuhkan sampah organic sebagai bahan utamanya. Di mana bahannya berasal dari sisa sayur atau buah yang mentah (belum melalui proses perebusan, dan juga tidak busuk), gula (maltosa) dan air.

Semua bahan tersebut dicampur jadi satu dan dibiarkan selama tiga bulan, nanti larutan ini akan berwarna cokelat tua dengan bau mirip cuka.

Ini dapat memberikan manfaat dan dampak luas bagi masyarakat dari segi lingkungan, ekonomi, kesehatan, bahkan kecantikan.

Eco Brick

Inovasi eco brick merupakan salah satu cara menjawab tantangan pengelolaan sampah anorganik.

Dengan memanfaatkan sampah botol plastik, tutup botol serta bungkus dari makanan-makanan yang bisa diolah menjadi sebuah produk bermanfaat seperti dijadikan pembuatan meja, kursi, tembok, maupun barang kesenian lainnya.

Dari ketiga inovasi tersebut saja sudah bisa digambarkan dampak positifnya terhadap lingkungan bahkan juga terhadap perekonomian keluarga karena hasil dari inovasinya dapat dijual.

Mungkin memang tidak bisa berjalan cepat dan butuh proses, namun salah satu dusun di Banyuwangi telah mencoba inovasi ini, yakni Dusun Panjen di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu.

Desa di lereng Gunung Raung itu, beberapa pekan ini telah bergerak melakukan pemanfaatan sampah untuk bisa menghasilkan produk yang berdaya jual dan membantu mengatasi darurat sampah.

Dengan melibatkan ibu-ibu PKK setempat, mereka didampingi oleh mahasiswa Stikes Banyuwangi yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Pengabdian Masyarakat (PM).

Mahasiswa melakukan pendekatan berbasis Project Based Learning. Mulai dari sosialisasi tentang dampak sampah yang tidak diolah sampai dengan peluang bisnis dari hasil olahan sampah, masyarakat begitu antusias bergerak mencoba menerapkan inovasi tersebut.

Mereka yang awalnya minim pengetahuan tentang cara pemilahan sampah, pengelolaan sampah dan pemanfaatan sampah, kini perlahan telah memahami dan mulai menerapkan dalam lingkup rumah tangga masing-masing.

Setiap minggunya mereka didampingi untuk mengolah sampah menjadi hasil produksi eco enzym dan eco brick. Dan kegiatan ini akan terus dikontrol oleh tim PKM-PM Stikes Banyuwangi untuk memastikan bahwa inovasi yang telah masyarakat Dusun Panjen lakukan dapat berjalan baik.

Adanya inovasi ini, harapannya bisa memotivasi masyarakat lainnya untuk bisa melakukan pengelolaan sampah secara optimal.

Tidak hanya dipilah, namun dapat dimanfaatkan. Ketika telah banyak masyarakat yang sadar akan bahayanya membuang sampah sembarangan dan manfaatnya apabila sampah itu dikelola, maka dapat membantu menurunkan kejadian darurat sampah di Banyuwangi, atau kejadian lain yang disebabkan sampah seperti banjir atau wabah penyakit. (*)

*) Mahasiswa S1 Keperawatan Stikes Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#Organic #magot #Lingkungan #plastik #Sampah #inovasi #rumah tangga