Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Minimalkan Stunting, Maksimalkan Pengetahuan

Ali Sodiqin • Kamis, 14 September 2023 | 01:00 WIB
Oleh: ELITA ENDAH MAWARNI*
Oleh: ELITA ENDAH MAWARNI*

MENURUT data Dinkes Banyuwangi tahun 2022, stunting (tengkes) di Banyuwangi tercatat berada di angka 20,1 persen.  Hal tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2021 yakni 24 persen.

Meski sudah turun, pemerintah terus berupaya mencegah dan menahan kenaikan angka tengkes. Upaya penting yang ditekankan yakni menahan kenaikan tengkes, karena mencegah lebih efektif daripada menangani kasus saat sudah terjadi.  

Tengkes bersifat irreversible. Artinya, ketika dalam masa perkembangan otak terjadi pada anak usia nol sampai dua tahun bisa diselamatkan, maka dia akan tumbuh secara optimal.

Selain itu, jika ada keterlambatan dalam pencegahan stunting di usia nol hingga dua tahun, maka ini dianggap sebagai “lost generation “.  

Hal ini bisa dilakukan ketika masa kehamilan atau seribu hari pertama kehidupan, dipenuhi kebutuhannya.

Karena pada masa tersebut rawan untuk calon anak mengalami tengkes. Pada ibu hamil yang kurang gizi hingga mengalami anemia, calon bayi sangat berpotensi mengalami tengkes.

Tengkes berdampak pada penurunan IQ non verbal kinerja kognitif dan penguasaan ilmu menurun, kelemahan berolah raga, dan mudah kena penyakit. Penyebabnya bisa faktor langsung maupun tidak langsung.

Penyebab langsung adalah asupan gizi dan penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung adalah pendidikan, status ekonomi keluarga, status gizi ibu saat hamil, sanitasi air dan lingkungan, BBLR pengetahuan ibu maupun keluarga.

Berbicara tentang pola asuh ibu terhadap balita, erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan ibu. Pengetahuan yang kurang, dapat menjadikan pola asuh ibu kurang. Sehingga mempengaruhi kejadian stunting.

Dari hasil penelitian mengatakan, ibu dengan pengetahuan rendah berisiko 10,2 kali lebih besar anak mengalami tengkes dibandingkan ibu berpengetahuan cukup.

Pengetahuan erat hubungannya dengan pendidikan. Di mana diasumsikan, dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut semakin luas pengetahuannya.

Orang dengan tingkat pendidikan baik, akan mudah menerima informasi daripada orang dengan tingkat pendidikan kurang. Informasi tersebut bisa dijadikan bekal ibu untuk mengasuh balitanya.

Namun, tingkat pendidikan yang rendah juga tidak menjamin ibu tidak mempunyai pengetahuan cukup mengenai gizi keluarganya.

Bisa jadi, ada faktor rasa ingin tahu yang tinggi pada ibu tersebut, sehingga pemahaman mengenai makanan yang tepat untuk anaknya lebih luas.

Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pendidikan non-formal seperti televisi, internet, koran, majalah, penyuluhan, dan sebagainya.

Aspek positif dan aspek negatif dalam pengetahuan seseorang, akan menentukan sikap mereka. Semakin banyak aspek positif, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu.

Peran orang tua dalam memahami gizi dipengaruhi oleh faktor umur,  inteligensi (kemampuan untuk belajar dan berpikir), serta lingkungan.

Seseorang dapat mempelajari hal-hal baik juga buruk, tergantung sifat kelompoknya. Selain itu, faktor budaya, pendidikan, dan pengalaman juga berpengaruh pada pengetahuan seseorang.

Pengetahuan Ibu tentang Tengkes

Ibu yang minim memahami tengkes, bisa jadi karena kurangnya informasi tentang stunting. Selain itu, tidak semua ibu berkunjung ke Posyandu.

Dari beberapa hasil penelitian menyebutkan, pengetahuan ibu tentang tengkes masih kurang, dan terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan kejadian tengkes.

Pengetahuan orang tua tentang gejala, dampak, dan cara pencegahan tengkes, dapat menentukan sikap dan perilakunya dalam pemeliharaan kesehatan pencegahan stunting.

Upaya pencegahan tidak bisa lepas dari pengetahuan orang tua tentang stunting. Dengan pengetahuan yang baik, dapat memunculkan kesadaran orang tua akan pentingnya pencegahan stunting.

Kesadaran orang tua akan membentuk perilaku kesehatan, terutama dalam pencegahan stunting. Seperti pemenuhan gizi mulai dari ibu hamil, gizi anak, menjaga lingkungan dan sanitasi rumah yang baik, dan perilaku hidup bersih.

Karena itu, perlu kerja sama baik antara pemerintah dan lintas sektor. Perlu juga mendorong pelibatan kader Posyandu, kader PKK, kader penyuluh KB, kader sanitasi, tim pendamping keluarga, kader pembangunan manusia, dan karang taruna.

Bahkan, TNI/Polri, maupun lembaga non-pemerintah seperti universitas, dunia usaha, LSM, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, juga perlu ikut andil.

Tujuannya meningkatkan pengetahuan terkait tengkes pada masyarakat, khususnya ibu yang mempunyai peran dalam pengasuhan anak.

Perlu ditingkatkan sosialisasi dan edukasi mengenai penanganan stunting melalui media massa, mungkin lebih digencarkan lagi. Supaya pengetahuan tengkes dapat menyentuh berbagai kalangan masyarakat.

Dengan upaya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang tengkes, semoga bisa mendukung upaya pencegahan stunting.

Terus kobarkan semangat mengedukasi, mentransfer pengetahuan tentang stunting, dengan cara-cara yang lebih kreatif dan inovatif oleh semua pihak. (*)

*) Dosen S1 Gizi Stikes Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#infeksi #kurang gizi #kehamilan #ibu #dinkes #IQ #pola asuh #Tengkes #stunting