Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Membentuk Generasi Penuh Empati dan Pemahaman

Ali Sodiqin • Kamis, 7 September 2023 | 00:00 WIB
Oleh: MUHAMMAD HUNIM*
Oleh: MUHAMMAD HUNIM*

BULLYING (perundungan) didefinisikan sebagai tindakan agresif / penindasan yang dilakukan secara berulang terhadap seseorang yang lebih lemah atau rentan secara fisik, emosional, atau sosial.

Ini melibatkan penggunaan kekuatan atau intimidasi untuk menyakiti, menghina, atau merendahkan korban, dengan tujuan mendominasi dan mengendalikan mereka.

Bentuk perundungan berupa fisik (pukulan, tendangan, atau merampas barang), verbal (ejekan, cacian, atau ancaman), relasional (mempermalukan, mengisolasi, menyebarkan rumor).

Selain itu, dengan adanya kemajuan teknologi, juga dapat terjadi perundungan secara daring melalui media sosial.

Bullying biasanya dilakukan seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kekuatan atau keunggulan atas korban, seperti fisik yang lebih kuat, status sosial di masyarakat atau kelompok yang tinggi, atau keahlian tertentu.

Tujuan pelaku adalah untuk mengekspresikan dominasi, mendapatkan kepuasan, atau rasa ingin menguasai sesuatu.

Dampaknya bisa sangat merugikan korban secara fisik, maupun psikologis. Korban mungkin mengalami gangguan emosional seperti kecemasan, depresi, mempunyai rasa rendah diri yang berlebihan, dan stres berkepanjangan.

Mereka juga dapat mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial, merasa tidak aman, dan bahkan mengalami insomnia bahkan juga bisa sampai penurunan prestasi akademik.

Penyebab perundungan bervariasi dan kompleks. Sering melibatkan banyak faktor yang saling terkait antara lain:

Pertama, faktor ketidakadilan sosial. Seperti ketimpangan kekuasaan, diskriminasi, atau ketidaksetaraan, dapat menciptakan lingkungan di mana intimidasi dan penindasan menjadi lebih sering terjadi.

Kedua, faktor lingkungan keluarga yang tidak sehat. Ketidakstabilan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, kurangnya pengawasan atau perhatian orang tua, atau pola pengasuhan buruk, dapat mempengaruhi perilaku anak dan membuat mereka lebih rentan menjadi pelaku atau korban perundungan.

Ketiga, faktor kurangnya sosial dan ekspektasi tinggi. Lingkungan yang kompetitif, tekanan akademik berlebihan, atau harapan yang tidak realistis, dapat menciptakan situasi seseorang merasa perlu mengejek atau menindas orang lain.

Keempat, faktor kurangnya pengawasan orang dewasa. Kurangnya pengawasan orang dewasa di sekolah, tempat kerja, atau komunitas, dapat memberikan kesempatan perundungan terus berlanjut.

Kelima, faktor perbedaan sosial / fisik. Individu yang mempunyai perbedaan sosial seperti etnis, agama, atau perbedaan fisik, seperti masa otot dan penampilan, dapat menjadi sasaran perundungan.

Karena perbedaan tersebut dianggap sebagai faktor yang membedakan dan dapat merendahkan mereka.

Penting diingat, penyebab bullying tidak hanya penyebab tersebut. Setiap situasi atau konteks memiliki dinamika yang unik.

Terkadang, perundungan bisa menjadi hasil dari interaksi beberapa faktor yang saling memperkuat.

Untuk mengatasinya, perlu pendekatan komprehensif melalui kolaborasi semua pihak. Termasuk individu, keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah. Berikut adalah beberapa solusi yang membantu mengatasi perundungan:

Pertama, pendidikan dan kesadaran: meningkatkan kesadaran tentang bullying, dampaknya dan bagaimana mengidentifikasinya adalah langkah penting.

Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye pendidikan di sekolah, seminar bagi orang tua atau siswa, serta pengenalan kurikulum yang memasukkan pendidikan anti bullying.

Kedua, pembentukan lingkungan yang aman: membangun lingkungan yang aman dan inklusif di sekolah, tempat kerja, dan komunitas sangat penting.

Ini melibatkan pembentukan kebijakan nol toleransi terhadap bullying, penerapan prosedur pengaduan, dan penegakan disiplin yang konsisten bagi pelaku bullying.

Ketiga, pelatihan keterampilan sosial: mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang baik pada individu, terutama pada usia dini, dapat membantu mencegah terjadinya bullying.

Ini meliputi pengajaran empati, pengelolaan emosi, komunikasi yang efektif, serta kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara damai.

Keempat, melibatkan orang tua. Peran orang tua sangat penting dalam mendukung anak-anak mereka untuk mencegah dan mengatasi bullying.

Orang tua perlu mengawasi aktivitas anak mereka, mendengarkan dengan empati, memberikan dukungan, dan melibatkan diri dalam upaya pencegahan bullying di lingkungan sekolah dan komunitas.

Kelima, bimbingan dan konseling. Menyediakan akses layanan bimbingan konseling bagi korban, dapat membantu mereka mengatasi dampak psikologis.

Bimbingan dan konseling juga dapat diberikan kepada pelaku untuk mengatasi masalah perilaku mereka.

Keenam, partisipasi komunitas. Melibatkan komunitas secara luas dalam upaya pencegahan bullying itu penting. Organisasi masyarakat, lembaga sosial, dan kelompok relawan dapat berperan dalam mengedukasi masyarakat, mengorganisasi kegiatan anti bullying, dan memberikan dukungan kepada korban dan keluarganya.

Ketujuh, penggunaan teknologi dengan bijak. Penting untuk mengerjakan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab.

Ini meliputi kesadaran tentang cyber bullying, penggunaan privasi dan keamanan online, serta pemahaman tentang konsekuensi tindakan negatif di dunia maya.

Kedelapan, intervensi dan rehabilitasi. Pelaku bullying juga perlu mendapatkan perhatian dan intervensi yang tepat.

Pendekatan rehabilitasi yang melibatkan psikolog, konselor, atau pekerja sosial, dapat membantu mereka untuk mengubah perilaku agresif. Serta memahami akibat negatif tindakan mereka.

Penting untuk melawan dan mencegah bullying dengan menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, mempromosikan kesadaran tentang efek negatif bullying, serta memberikan dukungan dan sumber daya kepada korban.

Kita semua berjuang melawan rintangan dan menghadapi masalah kehidupan. Jadi alihkan energi kita untuk membangun orang lain. Serta bersama kita bisa meraih kebaikan dan kesuksesan.

Ingatlah, kekuatan sejati ada dalam kemampuan kita untuk menciptakan perubahan positif. Mari kita hentikan perundungan dan bersama-sama membentuk dunia lebih baik.

Jangan ada lagi di antara kita, saudara, teman, atau pun orang lain menjadi korban, bahkan menjadi pelaku perundungan. (*)

*) Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#perundungan #intimidasi #media sosial #bullying #korban #depresi #status #stres #akademik