Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tahu Walik: Menggoyang Lidah dan Pariwisata Banyuwangi

Ali Sodiqin • Kamis, 7 September 2023 | 03:00 WIB
Oleh: MUMTADZ ZAID BIN TSABIT*
Oleh: MUMTADZ ZAID BIN TSABIT*

DI sudut timur Pulau Jawa, tepatnya di Banyuwangi, tersembunyi sebuah kuliner yang telah merebut perhatian banyak lidah dan hati para pencinta kuliner. Namanya: Tahu walik.

Makanan khas Banyuwangi yang terbuat dari tahu dan beragam bumbu tradisional ini, telah menjadi kegemaran tidak hanya bagi penduduk setempat. Tetapi tahu walik juga digemari para wisatawan yang mencari pengalaman kuliner otentik.

Tahu walik atau yang memiliki arti ‘Tahu Kebalik’ memiliki daya tarik yang unik karena tidak hanya memanjakan selera.

Tetapi juga mengandung makna budaya yang dalam. Dalam proses pembuatannya, tahu yang biasanya diiris tipis-tipis, namun tahu ini proses pembuatannya dengan dibalik terlebih dahulu.

Kemudian, ditambahkan bahan seperti campuran pentol, lalu digoreng hingga krispi. Kelezatan tahu yang gurih dan krispi ini sudah cukup untuk membuat siapa pun ketagihan. Namun, keunikan tahu walik tidak hanya terletak pada rasa semata.

Di balik setiap gigitan tahu walik, terdapat proses pembuatan yang inovatif. Bayangkan tahu yang awalnya hanya digoreng biasa, kini pembuatannya harus dibalik terlebih dahulu dimana isian dalam tahu posisinya ada di luar, sementara kulitnya kini berada di dalam.

Hal tersebutlah yang membuat makanan ini kerap hadir di setiap menu-menu warung kecil hingga kafe-kafe besar.

Tidak hanya bagi penduduk setempat, tahu walik juga telah menjadi magnet wisata kuliner. Wisatawan yang datang mencari lebih dari sekadar makanan, mereka ingin merasakan sentuhan budaya lokal yang otentik.

Makanan khas ini menjadi jendela yang membuka dunia para pengunjung terhadap kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai budaya Banyuwangi.

Dari cara penyajian hingga cerita di balik setiap suapan, tahu walik adalah pengalaman menyeluruh yang meleburkan budaya dan rasa.

Namun, dengan popularitas datang tanggung jawab. Penting bagi masyarakat Banyuwangi untuk menjaga kelestarian tahu walik dan budaya yang terkait dengannya. Perubahan zaman dan modernisasi dapat mengancam keberlanjutan kuliner ini.

Diperlukan upaya dari pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha untuk merancang langkah-langkah strategis dalam melestarikan tahu walik.

Inisiatif seperti pelatihan kepada generasi muda dalam cara pembuatan yang otentik, promosi kuliner lokal, dan peningkatan kualitas bahan baku harus dilakukan agar tahu walik tetap lestari dan berkualitas.

Tahu walik telah membuktikan, bahwa makanan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga merangkul warisan budaya dan menyatukan orang-orang. Melalui setiap gigitan, kita bisa merasakan sejarah, keragaman, dan semangat suatu daerah.

Keberhasilan tahu walik sebagai makanan khas yang dicari banyak orang, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan menghargai warisan kuliner lokal.

Makanan ini adalah lebih dari sekadar santapan lezat; ia adalah perwujudan rasa, aroma, dan cinta terhadap akar budaya yang tak ternilai harganya. (*)

*) Ketua Umum PC IMM Banyuwangi. Mahasiswa Prodi Teknik Industri, ITBM Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#ketagihan #krispi #lidah #rasa #warung #makanan khas #Kuliner #tahu walik #banyuwangi #cafe