HUTAN hujan tropis sering dijuluki sebagai paru-paru dunia. Karena sekitar 40 persen oksigen diproduksi oleh hutan hujan tropis. Tak hanya sebagai pemasok oksigen dan pengikat karbon dioksida, hutan hujan tropis juga mampu mencegah erosi pada tanah.
Hutan hujan tropis juga memiliki peran menyerap, membersihkan, dan mendaur ulang air serta udara. Tak hanya itu kekayaan aneka ragam hayati pun terdapat di dalam hutan hujan tropis.
Brazil merupakan negara dengan hutan hujan tropis terluas di dunia. Lalu setelahnya adalah Kongo dan Indonesia. Pada tahun 2021, luas hutan Indonesia mencapai 88,4 juta hektare. Tak heran Indonesia disebut salah satu negara paru-paru dunia.
Namun di balik segala kekayaan alam Indonesia yang melimpah, masih ada saja tangan-tangan yang tak bertanggung jawab yang menyebabkan hutan Indonesia mengalami deforestasi.
Ada banyak penyebab deforestasi, salah satunya yaitu penebangan hutan untuk industri perkebunan skala besar. Sebenarnya, hutan di berbagai negara pun mengalami hal yang sama.
Di Brazil pengalihan hutan hujan tropis di kawasan Amazon saat ini mencapai titik tertinggi dalam satu dekade terakhir. Penyebab utamanya juga tak lain adalah penebangan liar dan penyerobotan lahan hutan secara ilegal.
Jika deforestasi terus dilakukan di berbagai negara, dampaknya bukan hanya hilangnya tutupan hutan tropis. Secara otomatis juga berdampak pada kelangsungan hidup flora fauna di dalamnya. Jika hutan berkurang, paru-paru dunia terancam.
Menipisnya lapisan ozone karena kurangnya produksi oksigen, serta tak ada lagi yang mengikat karbon dioksida.
Lapisan ozone adalah senyawa oksigen alami yang tersusun oleh tiga molekul dan terbentuk di bagian atas atmosfer bumi. Fungsi ozone untuk melindungi bumi dari radiasi sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Seiring waktu, lapisan pelindung radiasi ultraviolet semakin menipis.
Lapisan ozone diteliti sejak tahun 1970-an. Hasil penelitian tersebut menyatakan, ozone menipis sekitar 4 persen setiap 10 tahun. Ini menyebabkan beberapa bagian atmosfer mengalami pelubangan seperti Antartika.
Lubang lapisan ozone Antartika tahun 2021 sudah mencapai 24,8 juta kilometer persegi, yang setara dengan luas Amerika Utara.
Penyebab menipisnya lapisan ozone selain karena deforestasi, juga karena aktivitas manusia. Zat CFC (Chloro Fluoro Carbon) pada pendingin ruangan, lemari es, dan mesin pendingin lainnya, kaleng semprot, busa pengembang, dan bahan pelarut, mejadi sebab menipisnya lapisan ozone.
Meskipun jumlahnya sangat kecil di atmosfer, tetapi dapat memberikan efek rumah kaca sebesar 10.000 kali jika dibandingkan dengan karbondioksida.
Kerusakan lapisan ozone tak hanya berdampak pada pemanasan global. Iklim bumi juga bisa berubah. Bahkan, jika penyaring ultraviolet rusak, mengakibatkan kanker kulit karena tingginya radiasi UV-8 dan katarak pada mata.
Tak banyak kita ketahui, selain pohon ada juga mikro-organisme laut yang turut membantu memasok oksigen. Bahkan oksigen yang dihasilkan mikro organisme tersebut lebih besar di bandingkan oksigen yang dihasilkan pohon. Mikro organisme laut tersebut adalah fitoplankton.
Fitoplankton alias mikroalga fitoplankton memperoleh energi melalui fotosintesis, menyerap CO2, lalu mengubahnya menjadi Oksigen. Tidak hanya menghasilkan Oksigen, fitoplankton juga mengikat CO2 dari atmosfer.
Fitoplankton mampu menghasilkan sekitar 50 persen – 85 persen oksigen di bumi. Sedangkan oksigen yang dilepas satu pohon saat berfotosintesis sebesar 23 persen.
Seharusnya, dengan adanya dua pemasok oksigen yang besar, kita bisa memperbaiki lubang pada lapisan ozone yang semakin menipis.
Tentu dengan memelihara hutan, dengan cara melakukan reboisasi setelah penebangan, melakukan penyuluhan betapa pentingnya hutan untuk kehidupan, serta memberi sanksi kepada penebang pohon illegal.
Peran kita juga bisa turut melestarikan hutan dengan meminimalkan pemborosan kertas. Karena dengan begitu tak ada lagi penebangan pohon untuk memenuhi kebutuhan belajar kita.
Tak hanya pohon yang harus dijaga, kita juga harus menjaga kelestarian fitoplankton dengan mengolah limbah sebelum dibuang ke laut.
Kita juga perlu mengurangi pemakaian Zat CFC pada AC, parfum bergas, serta kendaraan. Terbukti saat pembatasan aktivitas karena pandemi, polusi kendaraan dan polusi perindustrian menurun akibat lock down tahun lalu.
Dari hasil penelitian para ahli mengonfirmasikan, lapisan ozone sedikit pulih. Dari fakta tersebut, tidak menutup kemungkinan lapisan ozone kita akan kembali utuh.
Dari pemaparan tersebut bisa disimpulkan, hutan merupakan salah satu potensi penting bagi kehidupan.
Jika satu pohon dianggap sebagai pahlawan dalam menyelamatkan satu kehidupan, lantas hutan sebagai paru-paru dunia yang menyelamatkan ratusan kehidupan, kita sebut apa? Pantaskah kita membalasnya dengan membuatnya rusak? (*)
*) Mahasiswi Tadris Bahasa Indonesia, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin