Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Memaknai Gebyar-Gebyar Perayaan Agustusan

Ali Sodiqin • Jumat, 1 September 2023 | 23:30 WIB
Oleh: NIKO PAHLEVI HENTIKA*
Oleh: NIKO PAHLEVI HENTIKA*

BULAN Agustus memang sudah lewat. Berbagai acara gebyar-gebyar perayaan tahunan Agustusan mulai tingkat RT sampai nasional, juga sudah selesai.

Dalam acara Agustusan sering kita saksikan di berbagai RT, RW, kelurahan, dan desa mengadakan lomba-lomba. Mulai lomba makan krupuk, lomba balap karung, lomba balap kelereng, panjat pinang dan sebagainya.

Pada tingkat desa, kecamatan, dan kabupaten/kota juga kita saksikan gebyar perayaan dengan lomba gerak jalan, karnaval, jalan sehat, dan semacamnya.

Acara lain yang juga sering diadakan, yaitu pentas seni dan tasyakuran kemerdekaan.

Penyelenggaraan gebyar perayaan Agustusan seperti yang sudah kita saksikan memang perlu dan penting kita berikan apresiasi.

Untuk siapa pun yang berkontribusi atas terselenggaranya acara tersebut. Baik dana swadaya iuran masyarakat, tenaga, pikiran, dan waktu yang disumbangkan.

Terutama untuk panitia yang sudah bekerja keras untuk menyukseskan perayaan Agustusan.

Saya sendiri juga telah merasakan susah-payahnya sebagai ketua panitia Agustusan kemarin. Bagaimana untuk menyelenggarakan acara Agustusan dalam skala perumahan saja butuh berhari-hari untuk begadang sampai dini hari. Apalagi untuk menyelenggarakan acara dalam skala yang lebih besar?

Tentu saja agar acara gebyar Agustusan yang sudah terselenggara dengan kontribusi dana, pikiran, tenaga, dan waktu tidak berlalu begitu saja, sebagai sebuah event rutin belaka yang tanpa makna.

Maka, kita sebagai anak bangsa harus bisa memaknai acara gebyar perayaan tersebut dengan baik dan mendalam. Acara-acara tersebut harus diingat sebagai sarana untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang berjuang dan gugur demi kemerdekaan anak-cucu.

Kita harus ingat bagaimana perjuangan keringat, dana, tetes air mata, bahkan nyawa dipertaruhkan untuk bangsa ini.

Lewat acara-acara Agustusan, seharusnya dapat mengingatkan kita pada nama-nama pahlawan nasional.

Paling tidak nama-nama pahlawan yang sudah diabadikan lewat nama-nama jalan yang dilalui pada saat karnaval, lomba gerak jalan atau jalan sehat dalam Agustusan.

Misalnya, kita harus ingat siapa orang yang pertama kali mengangkat senjata melawan VOC, Sultan Agung Mataram. Kita harus ingat perang terbesar yang dilakukan oleh leluhur kita terhadap Belanda, yaitu perang Diponegoro.

Di mana dalam periode 1825-1830 jatuh ribuan korban jiwa, yaitu 20.000 tentara Jawa, 200.000 jiwa orang sipil, sedangkan korban dari Belanda sebanyak 15.000 tentara.

Kita harus ingat pula, banyak di antaranya pahlawan yang keluar masuk penjara untuk perjuangan kemerdekaan.

Bung Karno, misalnya selama periode 1929-1942 sudah kenyang keluar masuk penjara dan diasingkan. Bung Hatta juga pernah keluar masuk tahanan sebelum akhirnya diasingkan selama 6 tahun di Banda Neira (1936-1942).

Selanjuntya, jika kita pasang bendera di depan rumah setiap Agustus. Maka kita harus  ingat kita pernah dilarang dan dibreidel untuk sekadar mengibarkan merah-putih.

Dan kita akan ingat salah satu peristiwa yang memorial, yaitu peristiwa 19 September 1945 di Hotel Yamato. Di mana arek-arek Suroboyo berjuang-bertaruh nyawa untuk mengibarkan bendera merah-putih.

Kita harus memaknai acara menghias lingkungan dengan gapura, mengecat pagar dengan warna merah-putih. Memasang umbul-umbul dan berbagai macam pernak-pernik adalah sebagai rasa gembira dan syukur atas kemerdekaan.

Kita adakan lomba-lomba Agustusan, agar warga dapat bergotong-royong, saling akrab, dan bersatu satu sama lain. Dan dalam acara tasyakuran Agustusan sebagai bentuk terima kasih kita kepada Allah Tuhan Yang Mahaesa, karena atas berkat rahmat-Nya kita dapat merdeka.

Tentu saja, masih banyak hal yang dapat dimaknai dalam acara gebyar perayaan Agustusan di tempat masing-masing. Dan masih terbuka luas untuk pemberian makna positif yang lain.

Intinya, jangan sampai acara Agustusan berlalu tanpa makna. Dan yang lebih parah, jangan sampai muncul celetukan mung entuk kesele tok, mung ngentek-ngentek’i peces. (*)

*) Wakil Dekan FISIP Untag Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#Tasyakuran #agustusan #karnaval #apresiasi #perayaan #Lomba #gerak jalan #Merah-Putih #kemerdekaan