Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Daya Lenting Masyarakat Banyuwangi Hadapi Banjir

Ali Sodiqin • Jumat, 1 September 2023 | 00:30 WIB
Oleh: CITRA DINDA DWI LESTARI*
Oleh: CITRA DINDA DWI LESTARI*

SALURAN irigasi ini menjadi satu-satunya rute pengairan bagi wilayah permukiman penduduk. Saat musim hujan, saluran irigasi ini menjadi salah satu daerah yang tergenang.

Selain disebabkan volume air melimpah, penyebab utama dari banjir adalah akumulasi sampah pertanian dan domestik yang menyumbat aliran saluran irigasi.

Dampak dari banjir biasanya terlihat dalam bentuk tumpukan sampah pertanian dan rumah tangga yang terbawa arus. Situasi ini menunjukkan, sampah tersebut telah menghambat aliran saluran irigasi, mengakibatkan air meluap, dan membanjiri jalan sepanjang jalur irigasi.

Sampah-sampah yang menghalangi saluran irigasi ini termasuk plastik yang digunakan sebagai penutup tanah untuk penanaman, bungkus plastik makanan, pampers, dan lain sejenisnya.

Akumulasi sampah mengindikasikan kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Beberapa waktu lalu, masyarakat juga menghadapi banjir bandang. Kejadian ini sudah terjadi tiga kali. Pada dua banjir awal, penyebabnya karena penyumbatan saluran irigasi.

Namun, yang mengejutkan pada banjir ketiga lebih parah. Masyarakat tidak mengantisipasi tingkat keparahan ini, karena biasanya hanya banjir ringan yang tidak sampai merusak rumah. Banjir tersebut juga mengakibatkan pohon-pohon tumbang.

Hal ini hanya bisa diterima oleh masyarakat, karena kurangnya perhatian terhadap lingkungan. Padahal, lingkungan memainkan peran penting dalam kehidupan kita dan masyarakat secara umum.

Dari beberapa lokasi terdampak banjir bandang, ada beberapa wilayah yang menderita kerusakan parah. Ini disebabkan oleh akumulasi sampah di rumah-rumah mereka.

Namun, tidak sepenuhnya adil untuk menyalahkan masyarakat. Karena banjir ini terjadi akibat curah hujan yang terus dan tak henti-hentinya.

Banjir termasuk jenis bencana air yang paling sering terjadi di Indonesia. Berdasar data BNPB, selama periode tahun 2018-2019, tercatat setidaknya 1.240 kejadian banjir di seluruh Indonesia.

Kejadian bencana di suatu daerah biasanya berhubungan langsung dengan kerugian masyarakat. Kerugian yang timbul dapat bersifat materiil maupun non-materiil.

Kerugian materiil melibatkan kerusakan struktur bangunan, kehilangan harta benda, dampak terhadap lapangan pekerjaan, dan kerugian ekonomi lainnya. Sementara kerugian non-materiil meliputi kehilangan nyawa dan dampak psikologis para korban.

Karena itu, bantuan yang diberikan kepada para korban pascabencana menjadi sangat penting. Baik bantuan berbentuk bantuan finansial, maupun dukungan untuk pemulihan trauma.

Pertanyaannya, apa langkah yang perlu diambil agar banjir bandang ini dapat diatasi? Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pembentukan sikap daya tahan dan kesadaran individu.

Konsep habitus memainkan peran kunci dalam membentuk daya tahan dalam masyarakat. Daya tahan pada dasarnya adalah kemampuan untuk bangkit kembali setelah menghadapi bencana.

Daya tahan diilustrasikan melalui ketahanan dan kemampuan untuk pulih setelah beberapa kali terkena banjir bandang.

Keberadaan semangat gotong royong dan saling membantu dalam masyarakat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap kemampuan untuk pulih dari dampak bencana.

Meskipun demikian, perlu diakui bahwa individu dengan habitus yang lebih baik, memiliki kemampuan belajar dari pengalaman bencana yang mereka alami. Sehingga mereka memiliki daya tahan lebih kuat.

Habitat individu dalam masyarakat ini tidak terlepas dari modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolis yang mereka miliki. Modal ini menjadi dasar bagi daya tahan masyarakat dalam menghadapi bencana yang terjadi.

Daya lenting (resiliensi) mengacu pada suatu sistem yang memungkinkan untuk kembali ke kondisi semula setelah mengalami gangguan.

Baik dengan cara bertahan, maupun beradaptasi terhadap perubahan. Dalam konteks ini, daya lenting menggambarkan kapabilitas masyarakat yang terdampak banjir, dalam mengembalikan situasi mereka ke keadaan awal.

Usaha pemulihan dilakukan oleh negara, komunitas, keluarga, dan individu, Pemulihan melalui perbaikan, rekonstruksi, atau penggantian apa yang hilang akibat bencana.

Karena itu, daya lenting masyarakat, atau kemampuan mereka dalam mengatasi dampak bencana, tidak hanya bergantung pada faktor internal individu masing-masing. Melainkan juga dipengaruhi sejumlah faktor eksternal.

Selanjutnya, banyak kasus banjir terjadi karena kurangnya kesadaran terhadap lingkungan. Kesadaran diartikan sebagai kemauan sukarela seseorang untuk mematuhi peraturan dan mengakui tanggung jawabnya.

Contoh sederhana, kesadaran terhadap diri sendiri dapat diwujudkan dengan patuh pada peraturan dan bersikap bertanggung jawab terhadap berbagai aspek kehidupan.

Oleh karena itu, mari kita ajak semua orang untuk membangun daya lenting yang kuat dalam menghadapi bencana. Serta untuk menjaga kesadaran terhadap lingkungan.

Dengan bersama-sama mengamalkan kesadaran dan mengambil tindakan tepat, kita dapat mengurangi risiko banjir dan dampaknya pada masyarakat serta lingkungan. (*)

*) Siswi Kelas X, MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#irigasi #kesadaran #banjir #pohon tumbang #bencana #plastik #Sampah #gotong royong #volume air