Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rawon Pecel Jember vs Pecel Rawon Banyuwangi: Persaingan dan Persatuan Rasa

Ali Sodiqin • Rabu, 30 Agustus 2023 | 22:30 WIB
Oleh: MUF DAROINI*
Oleh: MUF DAROINI*

MINGGU, 20 Agustus 2023 lalu, kabar heboh menggema dari Jember. Betapa tidak, Bupati Jember dengan bangga meluncurkan makanan khas baru bernama 'rawon pecel'.

Namun, yang cukup menarik, kabar ini lebih viral di Banyuwangi ketimbang di kota peluncurannya sendiri. Mengapa? Karena bagi warga Banyuwangi, makanan tersebut tak asing lagi, hanya namanya yang dibalik dari 'pecel rawon'.

Bayangkan saja, ciri khas nikmatnya rawon daging yang gurih dipadukan dengan segarnya sayur pecel. Perpaduan unik ini tak hanya ditemui di Banyuwangi atau Jember, bahkan sampai ke Surabaya. Masyarakat Jawa Timur telah lama menikmatinya.

Namun, apa yang terjadi setelah peluncuran tersebut? Media sosial dihebohkan dengan pro-kontra. Ternyata, banyak warga Banyuwangi yang merasa gerah, merasa bahwa ada klaim sepihak dari Jember terhadap makanan tersebut.

Makanan tak hanya merepresentasikan rasa yang memanjakan lidah, namun juga menggambarkan keragaman budaya dan sejarah yang mendalam dari setiap daerah. Dibalik setiap suapan, ada cerita panjang tentang bagaimana sebuah makanan lahir, berkembang, dan menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat.

Ketika ada klaim sepihak atas suatu makanan tanpa mempertimbangkan latar belakang sejarah dan budayanya, tentu bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman. Pasalnya, klaim tersebut tidak hanya menyentuh soal hak cipta, tapi juga integritas sejarah dan identitas budaya daerah yang bersangkutan.

Namun, di tengah kontroversi ini, ada sisi lain yang sering kali terabaikan. Dunia kuliner memang penuh dengan persaingan. Sebagai respons atas klaim atau perebutan hak atas suatu makanan, sering kali para pelaku usaha justru semakin kreatif.

Mereka berlomba-lomba menghadirkan inovasi dan variasi baru dari makanan yang tengah diperdebatkan. Persaingan ini, pada akhirnya, mendorong lahirnya kreasi-kreasi baru yang memperkaya palet rasa kita.

Di balik segala kontroversi dan persaingan, ada satu pihak yang memiliki kekuatan untuk menentukan: konsumen. Ya, kita, para pencinta kuliner, memiliki peran penting dalam menilai dan mengapresiasi setiap makanan yang hadir di hadapan kita.

Bukankah keberagaman inilah yang membuat dunia kuliner semakin menarik? Sebagai konsumen, kita harus cerdas dalam menikmati setiap hidangan, menghargai cerita di baliknya, dan memberikan apresiasi yang sesuai tanpa harus terjebak dalam perdebatan yang tak berujung.

Mengapa harus bertikai hanya karena makanan? Bukankah lebih baik kita rukun dan menghargai inovasi masing-masing daerah? Klaim ini seharusnya tak membuat masyarakat Banyuwangi dan Jember terpecah, namun justru mempererat persatuan. Masakan Indonesia begitu kaya dan beragam, setiap daerah memiliki ciri khasnya sendiri yang patut diapresiasi.

Masyarakat Banyuwangi, alih-alih membuang energi untuk berdebat, lebih baik kita manfaatkan momentum ini untuk meningkatkan kualitas dan mempromosikan 'pecel rawon' kita sendiri. Caranya? Mulai dari diri kita sendiri.

Setiap kali kita menikmati 'pecel rawon', kita tak hanya menyantap sepiring makanan, namun juga menghargai warisan budaya kita. Ajak teman-teman, keluarga, bahkan turis untuk mencicipi kelezatannya.

Dalam isu kedaerahan seperti ini, sikapi dengan kepala dingin. Klaim adalah klaim, namun rasa dan sejarah tak bisa dipalsukan. Apresiasi setiap daerah dengan cinta dan rasa bangga, tapi tanpa merendahkan yang lain.

Sebagai penutup, alangkah indahnya jika pecel rawon kita bisa sejajar dengan kelezatan sego tempong dan rujak soto yang sudah terkenal khas Banyuwangi.

Bukan karena klaim, tapi karena keunikan dan kelezatan yang tak tertandingi. Mari kita rukun, nikmati pecel rawon khas Banyuwangi kita, dan jadikan Indonesia lebih kaya dengan kuliner yang memesona. Selamat makan! (*)

*) Lulusan Magister Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Lare Oseng Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#rawon #pecel #makanan #polemik #konsumen #Kuliner #banyuwangi #jember #klaim #ciri khas