PADA Juli 2023 Bank Dunia menyatakan Indonesia sebagai negara kelas menengah atas. Mengutip data Kementerian Keuangan, Indonesia kembali mencatatkan pendapatan nasional bruto (GNI) mengalami kenaikan sebesar 9,8% yaitu USD 4,170 (2021) menjadi USD 4,580 (2022) dengan ambang batas yang dikeluarkan dari Bank Dunia sebesar USD 4,466 (2022). Lalu bagaimana kita menyikapi status ekonomi Indonesia ini?
Posisi Menguntungkan
Indonesia diuntungkan dengan naiknya status ini. Beberapa faktor di antaranya:
Pertama, sektor UMKM mampu mendongkrak perekonomian Indonesia. Kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar 61,07% atau sebesar Rp 8.573,89 triliun.
Kontribusi UMKM menjadi basis baru penerimaan negara selain pajak, ekspor hasil minyak dan gas, serta pendapatan lainnya. Potensi positif ini perlu dukungan pemerintah daerah secara keberlanjutan, karena lebih mampu memantau setiap UMKM di wilayahnya.
Kedua, keberanian Indonesia untuk melarang ekspor bahan baku mentah seperti nikel dapat meningkatkan nilai jual sumber daya tambang.
Fenomena hilirisasi nikel saat ini tidak hanya menjadi isapan jempol semata, artinya Indonesia sudah serius untuk melarang penjualan barang logam dan mineral dalam bentuk mentah dan mewajibkan penjualan barang setengah jadi untuk meningkatkan nilai produk yang akhirnya berimbas pada kenaikan penjualan dan pendapatan negara.
Ketiga, keterlibatan Indonesia dalam kancah dunia yang semakin aktif membawa dampak positif terhadap PDB. Penyelenggaraan kegiatan G20 di Indonesia membawa manfaat ekonomis meliputi: PDB meningkat sebesar 7,4 triliun; menyerap tenaga kerja UMKM sebesar 33.000 orang, dan mendorong investasi sektor UMKM sebesar 80% dari negara-negara G20. Sekaligus menarik wisatawan mancanegara sebesar 3,6 juta, serta menciptakan lapangan kerja sebesar 700 ribu.
Cara Menyikapi Posisi Saat Ini
Keberhasilan Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah atas perlu disikapi positif. Kecenderungan yang terjadi adalah: “Apa pengaruhnya bagi kita dengan status baru tersebut? Akankah penghasilan ikut naik?”
Persepsi demikian tidak akan terjadi dalam waktu singkat, akan tetapi secara kontinu akan mulai dirasakan. Penilaian dalam lingkup sempit hanya memikirkan dampak terhadap kehidupannya sendiri.
Persepsi tersebut membutuhkan pandangan dalam ruang lingkup luas, yaitu dampaknya secara makro yang cenderung tidak dirasakan secara langsung.
Sikap positif yang dibutuhkan dapat diimplementasikan dengan terus melakukan inovasi dan meningkatkan segala potensi meliputi sumber daya alam dan manusia secara berkelanjutan.
Contohnya inovasi untuk meningkatkan nilai UMKM melalui konsep Customer Relationship Management (CRM) yaitu sebuah konsep yang mengoordinasi semua proses bisnis dengan menitikberatkan tiga aspek. Yaitu penjualan, marketing, dan pelayanan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.
Konsep tersebut dapat diaplikasikan pada UMKM yang baru berdiri untuk meningkatkan jumlah pelanggan terlebih dahulu dan apabila semakin berkembang dapat menggunakan model bisnis yang lebih lengkap seperti Canvas Business Model (CBM) untuk menganalisis berbagai aspek produksi, pelanggan, keuangan, dan investasi.
Peningkatan infrastruktur untuk menunjang segala aktivitas bisnis pada entitas terutama berskala menengah ke bawah juga belum terlaksana dengan baik.
Sebagai contoh infrastruktur peningkatan jaringan internet belum maksimal dan belum merata, padahal dengan infrastruktur maksimum dapat mendongkrak e-commerce di Indonesia semakin maju.
Data BPS tahun 2021 mencatat 25,92% sistem e-commerce telah terlaksana meskipun di angka kecil. Karena saat yang sama sebesar 1.774.589 (75,15%) jenis e-commerce masih terpusat di Pulau Jawa. Artinya, infrastruktur pendukung e-commerce belum merata, menyebabkan usaha niaga berbasis online tersebut masih kecil.
Karena itu, komitmen kuat pemerintah untuk membangun “Tol Langit” dibutuhkan untuk segera menyelesaikan pembangunan infrastruktur jaringan internet dan bisa dimanfaatkan pengusaha UMKM.
Selain itu, pembangunan infrastruktur pengolahan barang tambang menjadi barang setengah jadi melalui smelter, membutuhkan dukungan publik.
Data Kementerian ESDM menjelaskan, tahun 2019 Indonesia sebagai negara dengan penghasil nikel terbesar di dunia dengan produksi 800 ribu Ton dari 2,67 juta Ton produksi nikel dunia.
Pemerintah memproyeksikan hilirisasi minerba dan migas bisa menyentuh USD 715 milyar dan membuka 9,6 juta lapangan kerja.
Karena itu, bentuk dukungan membangun proyek smelter bisa berupa perlindungan terhadap investor, pengawasan secara ketat penggunaan dana, dan pembangunannya sesuai standar, sehingga harapan hilirisasi bisa dicapai secara maksimal.
Sementara itu, Indonesia juga memasuki tahun politik. Terkadang muncul kabar infrastruktur saat ini dengan sudut pandang miring, seakan tidak menimbulkan dampak ekonomis yang signifikan.
Namun jika melihat status Indonesia yang naik kelas, sesungguhnya terdapat dampak makro-ekonomi dan terlebih penilaian tersebut dari Bank Dunia. Karena itu, kita perlu memperkaya literasi untuk lebih bijak menyikapi perubahan Indonesia dari segala aspek termasuk di dalamnya adalah aspek ekonomi. (*)
*) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga.
Editor : Ali Sodiqin