UMAT Islam memiliki kalender Hijriah. Dimulai dari bulan Muharram dan diakhiri bulan Dzulhijjah. Masyarakat Jawa biasa menyebut bulan Muharram dengan nama bulan Suro.
Istilah Suro berasal dari kata “Assyura” yakni hari ke sepuluh di bulan Muharram.
Menurut orang Jawa, bulan Suro dianggap bulan prihatin. Karena tidak tepat melakukan kegiatan apa pun pada bulan tersebut. Karena diyakini sebagai malam sakral dan dapat mendatangkan musibah.
Tak heran, bulan Dzulhijjah selalu datang banyak undangan pesta pernikahan, karena pada bulan selanjutnya yakni Muharram dianggap tak baik untuk menyelenggarakan acara.
Namun, penulis tidak akan membahas tentang bagaimana mistisnya bulan Suro. Melainkan mendiskripsikan sebuah tradisi yang menarik di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Pesantren yang terletak di ujung timur pulau Jawa itu memiliki tradisi unik yang dinamakan “Munggah Putra”.
Tradisi ini sudah ada sejak Almarhum Almaghfurlah Mbah Kyai Mukhtar Syafa’at Abdul Ghofur menjadi pengasuh utama pesantren tersebut.Berawal dari mitos-mitos horor yang ada di pesantren. Mengatakan bahwa makhluk tak kasat mata gemar menjadi penghuni tempat yang kotor, kumuh, dan tak terawat.
Melihat kondisi asrama putra yang masih perlu dikontrol masalah kebersihannya, alhasil terlahirlah tradisi “Munggah Putra” di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Munggah putra adalah kegiatan santri putra agar membersihkan asrama mereka masing-masing. Memperbaiki penampilan asrama sebagus mungkin karena akan dinilai oleh para santri putri.
Tepat pada malam 10 Muharram setelah acara pengusapan anak yatim, santri putra akan meninggalkan asrama kemudian seluruh santri putri dan masyarakat sekitar pesantren diperbolehkan untuk berkunjung ke asrama putra. Diberikan waktu selama tiga jam, dari pukul 8.00 sampai pukul 22.00.
Lantas, mengapa dinamakan “Munggah Putra”? Kata munggah diartikan sebagai kata naik yang sama maknanya dengan berkunjung. Karena pada malam itu santri putri akan munggah ke asrama putra, maka dinamakan “Munggah Putra”.
Berbagai macam ide kreatif santri putra dituangkan demi menyambut kedatangan santri putri pada malam 10 Muharram. Gemerlap lampu warna-warni terpajang di setiap sudut asrama. Aroma wangi, tatanan yang rapi, lengkap dengan suguhan makanan ringan di atas meja yang tersaji.
Kerja keras dikerahkan demi menghasilkan nilai kebersihan dan kreasi yang maksimal. Jangan lupakan tawa riang para santri putri ketika berkelana menyusuri belokan asrama-asrama. Tak ada tempat kumuh, semua bersih dan wangi.
Adanya tradisi tersebut, tak lain hanya bertujuan untuk senantiasa menjaga kebersihan asrama. Memperbaiki fasilitas asrama yang sudah amoh.
Dan tentunya, meningkatkan eksistensi santri putra dalam pandangan si santri putri. Namanya juga anak muda, ”Gengsi kalau ketahuan kamarnya jorok!”. Tampang yes, kebersihan no! Malu, kan?
Setelah muggah putra selesai, santri putri dipersilakan untuk kembali di asrama. Sementara santri putra akan menanti siapa yang menjadi juara asrama paling bersih dan kreatif.
Mendapatkan sebuah apresiasi adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka. Jerih payah yang dilakukan selama satu pekan sebelumnya merasa terbayar.
Namun, hal paling utama bagi mereka adalah anggapan positif yang dilontarkan oleh santri putri dan tawa yang terdengar nyaring ketika berkunjung melihat karya mereka.
Sebuah nilai positif yang dapat diambil dalam tradisi tersebut. Tradisi yang mengajarkan bahwa menjaga kebersihan itu penting.
Menjadi santri selain bisa mengaji, juga pandai dalam merawat diri dan menjaga lingkungan agar tetap lestari. Tak hanya tentang kebersihan.
Dari kegiatan tersebut juga mengajarkan bagaimana cara bekerja sama dengan baik. Bermusyawarah tentang tatanan asrama yang rapi. Bergotong royong dalam mewujudkan ide-ide menghias asrama. Tanpa disengaja, kreasi santri akan muncul sendiri.
Adanya kisah mistis yang mereka dengar, justru menjadi senjata agar giat dalam menjaga kebersihan. Bukan semakin takut dan tak ada usaha untuk memperbaiki hal tersebut.
Tinggal di pesantren semakin betah, karena lingkungan yang bersih. Belajar pun akan semakin nyaman karena tak ada lagi sampah berserakan. Ilmu semakin mudah dipahami, karena tak ada lagi nyamuk yang mengelilingi.
Tradisi yang sangat patut ditiru karena mengandung banyak nilai positif. Menerapkannya di setiap datangnya tanggal 10 Muharram.
Selain meningkatkan ibadah pada malam itu, menyantuni anak yatim, juga dapat dilakukan kegiatan membersihkan lingkungan sekitar dari pada keluyuran malam tanpa tujuan. Ingat! Tempat kumuh sangat digemari oleh makhluk tak kasat mata. Waspadalah, mereka mengintai sudut kamarmu yang kumuh! (*)
*) Duta KKN Internasional di Thailand 2023 dari IAI Darussalam Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin