Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Selektif Konsumsi, Selektif Bersikap

Ali Sodiqin • Sabtu, 5 Agustus 2023 | 02:30 WIB
Oleh: UBAIDILLAH ALAHRORI*
Oleh: UBAIDILLAH ALAHRORI*

DEWASA ini, dengan teknologi semua orang dapat dengan mudah mengakses informasi. Namun, tidak semua informasi bersifat pasti adanya. Kita perlu selektif dalam mengonsumsi sekian informasi apakah hoaks atau bukan.

Dalam rentang waktu tiga tahun sejak Agustus 2018 hingga awal 2022, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI mencatat setidaknya ada 9.546 hoaks tersebar di berbagai platform medsos.

Itu artinya, banyak isu yang penyebarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga, kita jangan langsung terpengaruh isu-isu yang belum jelas validitasnya.

Selain mudahnya mengakses isu-isu atau pun informasi, semua orang juga mudah untuk menanggapi balik. Tanggapan itu bisa berupa komentar atau pun konten video.

Dalam hal ini, yang perlu menjadi perhatian yaitu: Pertama, fakta informasi yang ditanggapi benar atau tidak. Kedua, cara menyikapi atau menanggapi bijak atau tidak.

Untuk perhatian kedua, yaitu cara menyikapi suatu konten berita dan lainnya, seharusnya kita perlu pembenahan terlebih dulu sebelum menanggapi suatu hal. Sebuah tanggapan muncul dari penilaian secara subjektif.

Penilaian yang dimaksud yaitu kesimpulan dari hasil komparasi-pertimbangan tentang isu konten dari sudut pandang masing-masing konsumennya.

Sehingga, tidak heran jika satu hal menimbulkan banyak tanggapan yang berbeda-beda, bisa itu tanggapan baik atau pun sebaliknya. Penilaian bahwa suatu hal itu benar maka tanggapannya baik, begitu juga sebaliknya.

Bicara tentang ”penilaian” itu sendiri tidak akan lepas dari persepsi benar-salah. Suatu hal itu dipersepsikan benar tergantung perspektif masing-masing konteks dan pihak. Artinya, benar itu bersifat relatif tergantung siapa, kapan, dan di mana.

Beda halnya kebenaran, yang ini mutlak kuasa Tuhan. Ketentuan-ketentuan tentang kebenaran sudah ditetapkan dengan syariat. Dengan demikian, semua hal yang masih relatif sifatnya bisa saja benar menurut pihak sini, bisa salah menurut pihak sana.

Adalah hal bodoh jika memaksakan pendapat diri diterima, sedangkan setiap orang mempunyai pendapat sendiri.

Dengan begitu, penilaian kita tentang suatu hal itu benar menurut kita, bukan lantas hal tersebut kebenaran. Demikian halnya salah, kita tidak perlu bersikeras, ”Hal ini salah, maka jangan begini.”

Ketika mindset ini tertanam, maka tidak akan mudah menyalahkan seseorang karena berbeda prinsip dan sudut pandang. Boleh saja kita istilahkan ”sikap toleran”.

Sebuah berita, misalnya, yang tersebar di media sosial menyebut seorang ibu membuang bayi sebab hamil di luar nikah. Secara otomatis muncul penilaian salah di mata pembaca dan muncullah komentar-komentar miring.

Padahal yang menurut mereka salah, ternyata bisa jadi benar versi si ibu itu. Perlakuan si ibu boleh saja salah, akan tetapi komentar mereka belum tentu ”kebenaran” sekalipun memang ”benar”.

Karena kebenaran itu mutlak milik Tuhan, sedangkan kita hanya bisa berspekulasi berlandas pedoman yang sudah ada dalam arti ”kebenaran itu abstrak di sisi manusia”.

Lalu, bagaimana sikap bijak jika benar itu relatif sedangkan kebenaran itu abstrak? Dalam filsafat, ada tiga mazhab yaitu korespondensi, deduksi, dan efektivitas. Penganut korespondensi berlandasan faktual untuk mencari kebenaran.

Kaum deduksi berlandasan akal untuk mencari kebenaran. Pengikut efektivitas memandang segi keefektifan suatu konsep agar dapat dikatakan kebenaran.

Filsafat modern memadukan tiga kebenaran ini untuk mencapai kebijaksanaan. Dalam contoh si ibu tadi, secara korespondensi kita analisis fakta dulu benar-tidaknya berita tersebut. Dengan deduksi, kita nilai ternyata itu salah sesuai penilaian akal.

Terakhir, kita pikirkan sikap atau tanggapan apa yang mungkin efektif untuk tidak terjadi pengulangan kesalahan yang sama.

Akhirnya seseorang akan mencari sikap yang bermanfaat untuk suatu isu-berita di era mudahnya menanggapi suatu hal dengan mindset kebijaksanaan filsuf. Tidak hanya berkomentar yang malah menambah ribut karena persepsi benar sepihak.

Lebih dari itu, menanggapi suatu hal dengan ikut ”mencarikan” solusi jika dirasa salah tanpa menimbulkan keributan karena komentar miring. Falyataammal. (*)

*) Santri Pelajar, Jurusan Fiqh Ushul-Fiqh, Ma’had Aly, Situbondo.

Editor : Ali Sodiqin
#Filsafat #konten video #hoaks #Mazhab #kemenkominfo #teknologi #kebenaran