SUHU dingin akhir-akhir ini terasa tidak biasa. Ada yang berpendapat, fenomena ini disebabkan jauhnya matahari dari bumi (aphelion). Ada juga pendapat, peristiwa ini disebabkan angin muson dari Australia.
Namun sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh salah satu dari kedua faktor tersebut. Dampak iklim dan musim di bumi ditentukan oleh beberapa faktor, termasuk kemiringan sumbu bumi yang menyebabkan pergantian musim (musim panas dan musim dingin), bukan hanya jarak bumi dengan matahari.
Seperti kita pahami, bumi maupun planet-planet lain umumnya tidak memiliki orbit yang berbentuk bulat sempurna, melainkan berbentuk oval. Sehingga, menyebabkan terbentuk titik terdekat dan terjauh bumi dari matahari yang disebut aphelion dan perihelion.
Dua hal ini bukan fenomena yang terjadi dalam kurun beberapa tahun tertentu, melainkan akan selalu terjadi setiap tahun.
Jadi, jelas bahwa aphelion akibat bentuk orbit bumi yang elips, dan ini terjadi sebagai konsekuensi alami dari struktur orbit bumi. Namun, tanggal persis aphelion bisa berbeda setiap tahun karena lintasan bumi tidak sempurna dan mengalami perubahan secara perlahan seiring waktu.
Pada saat aphelion, jarak bumi dengan matahari 152 juta kilometer (km) dan saat titik terdekat bumi memiliki jarak 147 juta km dari matahari. Rata-rata jarak bumi dan matahari adalah 150 juta km.
Selain fenomena aphelion, suhu dingin di Indonesia kali ini karena adanya angin muson dari Australia. Pada Juli hingga Agustus, Australia akan berada pada periode musim dingin. Tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dingin menuju Indonesia.
Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di beberapa wilayah Indonesia juga turut berpengaruh pada suhu dingin di malam hari. Setidaknya bukan hanya hawa dingin yang kita rasakan. Beberapa dampak negatif angin muson di antaranya:
Pertama, ketersediaan air bersih kurang. Angin muson timur membawa udara kering dan panas dari Australia ke Indonesia selama musim kemarau. Udara ini mengurangi jumlah hujan yang jatuh sehingga menyebabkan musim kemarau.
Selain itu, angin muson timur juga membawa udara lembap dari laut ke daratan, memperkuat efek kemarau. Saat angin muson timur datang atau musim kemarau, ada beberapa daerah yang kehabisan stok air bersih. Khususnya pada masyarakat daerah terpencil. Mengingat daerah terpencil memiliki risiko lebih tinggi dalam kesulitan air bersih.
Kedua, tanaman mati. Ketersediaan air di musim kemarau juga patut diwaspadai karena tanpa air tumbuhan tidak dapat tumbuh dengan baik. Sehingga, angin muson timur membawa pengaruh cukup merugikan bagi petani.
Ketiga, risiko kebakaran meningkat. Udara kering yang terus berembus akan menyebabkan potensi kebakaran meningkat. Beberapa jenis tanaman akan menggugurkan daun untuk mengurangi penguapan air.
Daun kering yang menumpuk di atas tanah sangat mudah terbakar dan menjalar ke mana-mana. Walaupun mungkin tidak setiap daerah akan merasakan dampak ini, namun daerah yang jauh dari sumber air patut waspada.
Namun, sebenarnya angin ini juga membawa dampak positif antara lain:
Pertama, meningkatnya hasil pertanian. Bagi petani yang sudah memahami konsep pertanian dan musim tanam, akan dapat meraup untung. Khususnya petani palawija yang merupakan tanaman yang tidak membutuhkan banyak air.
Sehingga dengan jumlah air sedikit, tanaman palawija dapat berkembang baik. Hal lainnya juga bisa dirasakan bagi petani yang memiliki usaha penjemuran. Hasil penjemuran tanaman tersebut juga akan lebih bagus.
Kedua, cuaca laut lebih mendukung nelayan. Tidak hanya petani yang merasakan dampak positif. Nelayan juga dapat merasakan dampak positif. Cuaca yang hangat dan cerah akan membuat nelayan dapat melaut dengan tenang.
Para nelayan tidak akan khawatir mengenai potensi hujan yang mengganggu kegiatan melaut. Hal ini akan meningkatkan produktivitas nelayan.
Ketiga, pakaian cepat kering. Bagi para pemilik usaha laundry akan lebih untung dengan adanya angin muson, karena dengan waktu relatif singkat baju atau pakaian akan lebih mudah kering. (*)
*) Mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin