Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mabrurnya Sang Penyantun Janda

Ali Sodiqin • Jumat, 4 Agustus 2023 | 02:00 WIB
Oleh: GUFRON MUSTHOFA*
Oleh: GUFRON MUSTHOFA*

HAJI mabrur adalah cita-cita semua orang yang menunaikan haji. Karena Allah SWT menjanjikan pahala surga baginya. Namun, pahala haji yang tak dibarengi dengan ilmu manasik dan usaha menggapai hikmah haji akan kalah, jika dibandingkan dengan menyantuni janda dan duafa yang membutuhkan. 

Kisah menyantuni janda lemah adalah lebih tinggi pahalanya daripada pahala haji, direkam oleh sebuah kitab Tadzkiratul Auliya, atau hagiografi para wali, karya Fariduddin Al-Athar Al-Naisaburi dalam bahasa Persia, diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Muhammad Al-Ashiliy Al-Washtaniy Al-Syafi’i.

Disebutkan dalam kitab tersebut, ulama besar Abdurrahman Abdullah ibnu Al Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi (Wafat 181 H/ 797 M) sedang melaksanakan haji. Dia tertidur di Masjidilharam, dan bermimpi melihat dua malaikat yang bercakap-cakap tentang jumlah jamaah haji yang mencapai 600 ribu orang. Namun, semuanya tidak diterima, kecuali pahala haji seorang tukang sol sepatu yang tidak jadi berangkat haji.

Abdullah bin Mubarak terbangun dari tidur, berkeinginan untuk pergi ke Damsyiq untuk bertemu dengan Ali bin Al-Muwaffaq dan mengetahui amalan yang dilakukan, sehingga ia mencapai derajat yang dicatatkan baginya pahala haji. Bahkan menjadi sebab Allah menerima pahala haji kaum muslim tahun tersebut.

Setelah Ibnu Mubarok tiba di Damsyiq dan bertemu orang yang membuatnya penasaran, dia mengajaknya ke masjid, untuk mengutarakan maksud dan tujuannya. Setelah menyampaikan identitasnya, tuan rumah kaget hingga pingsan. Karena orang di depannya adalah ulama yang masyhur.

Setelah siuman, dia menyampaikan bahwa “selama 30 tahun berniat untuk berhaji. Dia menabung sedikit demi sedikit upah menjadi tukang sol sepatu. Setelah terkumpul 350 dirham, rasanya akan berangkat haji; namun harus bersabar, karena perlu menambahkan 50 dirham lagi untuk menggenapkan 400 dirham agar bisa berangkat haji tahun ini”.

Pada suatu hari, istrinya yang hamil mengidam dan menginginkan masakan tetangga yang aromanya sampai pada indra penciumannya. Setelah sampai pada rumah tetangganya, mendapati seorang janda sedang memasak. Wanita itu mengatakan, ia mempunyai anak yatim yang masih kecil, belum makan selama sepekan. Kemudian menemukan bangkai keledai dan mengambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Wanita itu memohon maaf seraya berkata “Itu halal bagi kami, tapi haram bagi kalian'”.

Setelah menjelaskan kepada istrinya tentang masakan itu, mereka menyiapkan makanan kepada janda dan anak yatim. Fia memutuskan tidak berangkat haji, namun memilih menyerahkan uang 400 dirham tersebut kepada janda tersebut.

Ibnu Mubarok berkata, “Engkau benar, benarlah malaikat dalam mimpiku. Allah maha adil dalam hukum dan keputusan. Allah maha mengetahui tentang hakikat segala sesuatu.”

Esensi Haji Mabrur

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin disebutkan, tanda kemabruran haji ada tiga. Pertama adalah ith‘amut tha‘am atau memberi makan; Kedua adalah thiibul kalam atau ucapan yang santun dan baik; Ketiga ifsaus salam adalah menebarkan kedamaian, dan keselamatan. Tiga makna haji mabrur tersebut disarikan dari dua buah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Nilai universal haji yang pertama adalah peduli pada sesama terangkum dalam kisah Ali bin Al-Muwaffaq yang menyerahkan bekal hajinya kepada seorang janda.  Kasih sayangnya kepada sesama yang sedang menjaga kelangsungan hidup, mengalahkan kerinduan untuk berhaji. Rasanya tidak pantas baginya menghadap Sang Pemilik Kakbah, bila tidak mempedulikan ciptaan-Nya sedang kesulitan.

Nilai kedua adalah thibul kalam. Ini adalah sebuah komunikasi yang menghormati dan menenteramkan, dan santun. Kapan pun, di mana pun serta media apa pun dalam berkomunikasi dianjurkan menggunakan narasi yang santun, dan cara yang baik. Sehingga kondisi suatu komunitas akan menjadi teduh, damai, tenang, dan tenteram.

Nilai ketiga ifsaus salam. Spirit menebar kedamaian dan keteduhan, santun dalam berkomunikasi dan kepedulian sosial merupakan pilar dalam membangun peradaban. Itulah esensi ibadah haji yaitu mabrur. Tidak hanya balasan surga bagi yang sudah haji mabrur, namun menjadi surga kedamaian dan kasih sayang bagi lingkungan sosial saat masih hidup di dunia. Semoga kita semua dianugerahi kemabruran. (*)

*) Kepala KUA Kecamatan Gambiran, Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#haji #mabrur #duafa #janda #masjidilharam