TAHUN Baru Islam merupakan salah satu momen penting yang dinanti umat muslim. Tahun Baru Islam yang ditandai dengan peringatan satu Muharram memiliki makna yang mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Dalam momen yang bersejarah ini, umat Muslim merenungkan arti perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah serta mengambil hikmah dari perjuangan beliau.
Secara etimologis Muharam berarti bulan yang diutamakan dan dimuliakan. Makna bahasa ini memang tidak terlepas dari realitas empirik dan simbolik yang melekat pada bulan itu, karena Muharam sarat dengan berbagai peristiwa sejarah, baik kenabian maupun kerasulan.
Muharram bagi umat Islam merupakan salah satu dari empat bulan yang diistimewakan Allah SWT.
Muharam yang menjadi permulaan bulan diperingati sebagai awal kebangkitan. Di bulan ini, sambil memperingati tahun baru Hijriah, umat Islam menyelenggarakan berbagai kegiatan Islami yang bermanfaat, dan melaksanakan berbagai kesunahan yang ada di dalamnya seperti ibadah puasa dan menyantuni anak yatim.
Pada bulan Muharram pula Allah melipatgandakan segala amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia dan membuka luas rahmat-Nya, sehingga manusia dianjurkan untuk berlomba-lomba memperoleh rahmat itu.
Dalam Ensiklopedia Islam dijelaskan bahwa hari kesepuluh dalam bulan Muharam dipandang sebagai hari yang mempunyai keutamaan.
Sebab, pada hari Asyura itu, Allah SWT menentukan banyaknya peristiwa di muka bumi yang menyangkut pengembangan agama Islam.
Pada hari Asyura banyak terjadi peristiwa penting dalam sejarah para nabi, dan masih banyak lagi keistimewaan lainnya.
Bagi masyarakat Jawa, malam satu suro dan pergantian tahun menjadi momen yang sangat keramat dan disucikan sehingga sangat cocok untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mendengar kata satu suro, mungkin di benak kita memikirkan banyak hal mistis dan mitos yang memang kerap menyertainya.
Maklum, dari mulai film horor hingga cerita turun-temurun, seolah memberikan label terhadap malam satu suro sebagai malam yang mistis.
Istilah suro yang telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya Jawa, berasal dari ‘asyura (bahasa Arab) yang berarti kesepuluh (maksudnya tanggal 10 bulan Suro). Istilah itu kemudian dijadikan sebagai bulan permulaan hitungan dalam takwim Jawa.
Sementara itu dalam Islam, istilah suro sebagaimana yang telah dipahami oleh mayoritas masyarakat Islam, adalah bulan Muharam.
Bagi masyarakat Jawa sendiri, bulan suro bukan saja bulan awal tahun baru dalam sistem penanggalan Jawa. Bulan ini dianggap sebagai bulan keramat yang dipenuhi aura mistis dan misterius. Berbagai upacara dan ritual tradisional kerap dilakukan demi ngalap berkah.
Terkait dengan itu, sejarah telah mencatat banyak kejadian-kejadian besar yang terjadi di bulan ini. Bulan suro memang selalu dihubung-hubungkan dengan Islam.
Selain bertepatan dengan tahun baru Islam (Hijriah) di bulan Muharram, dari sisi sejarahnya sistem penanggalan Jawa memang memiliki keterkaitan dengan sistem penanggalan Islam (Hijriah).
Dalam kehidupan sehari-hari beberapa mitos malam satu suro yang diyakini dalam kebudayaan sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih diyakini seperti, tidak boleh bicara atau berisik.
Tidak sedikit orang Jawa yang melakukan ritual malam bisu di malam satu suro. Ritual ini kerap dilakukan di area Keraton Yogyakarta. Bukan cuma tidak boleh bicara, orang yang melakukan ritual ini juga dilarang makan, minum, bahkan merokok.
Pada malam satu suro juga diyakini banyak orang yang bersekutu dengan setan sedang mencari tumbal untuk kekayaan atau kesaktian mereka.
Sejatinnya, bulan Muharram dan suro mempunyai makna yang sama. Yang membedakan keduanya hanyalah dalam hal penyebutan dan tradisi yang mengiringi, dan menjadi salah satu momentum yang sangat dimuliakan dan dianggap suci.
Sehingga masyarakat berupaya menyucikan dirinya dari segala dosa dan perbuatan tercela dengan memohon magfirah Allah Sang Mahapengampun.
Kemudian meniti hidup baru dengan langkah yang lebih positif, serta semangat baru pula. Diyakini sebagai bulan yang sakral atau suci yang tepat untuk merenung, tafakur, dan introspeksi, untuk mendekatkan dengan Yang Mahakuasa. (*)
*) Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin