DI ANTARA nikmatnya Allah SWT yang telah menetapkan atas hamba-Nya, adalah beberapa runtutan musim kebaikan yang datang silih berganti tanpa henti. Musim terus datang mengikuti gerak revolusi dan rotasi yang terus menerus berputar. Supaya Allah Ta’ala mencukupkan ganjaran atas amal-amal mereka, serta menambahkan limpahan karunia-Nya.
Musim haji kian berlalu. Tetapi bukan berarti kesempatan kita untuk beramal mencari ganjaran dan rahmat-Nya sudah habis. Melainkan telah datang bulan mulia berikutnya, yakni bulan Muharram. Kenapa dikatakan mulia? Karena banyak peristiwa penting yang Allah SWT turunkan pada bulan tersebut.
Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘’Puasa yang paling utama setelah puasa bulan Ramadan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam.’’ (HR.Muslim).
Suro dimaknai sebagai bulan pertama dalam sistem kalender Jawa. Pada awal bulan Asyura sampai tanggal 10 Asyura tersebut, diwarnai dengan berbagai kegiatan Islami di berbagai pondok pesantren. Khususnya di pondok pesantren Mukhtar Syafa’at, Blokagung, Banyuwangi.
Pada moment ini umine mauidhoh hasanah terkait keutamaan-keutamaan serta peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram. Kemudian memberi beberapa amalan kepada seluruh santri.
Ada pun tradisi yang biasa dilakukan di pondok pesantren untuk memperingati 10 Muharram yaitu santunan anak yatim. Santunan ini diselenggarakan oleh seluruh santri dan pengasuh di masjid.
Pada hari tersebut, banyak santri yang menghibahkan baju, bersedekah uang, kemudian mengusap anak yatim pada acara santunan tersebut. Kegiatan itu bertujuan sebagai rasa antusias ikut serta merayakan Lebarannya anak yatim.
Selain itu kegiatan yang sangat dianjurkan oleh pengasuh untuk memperingati 10 Asyura adalah puasa tasu’a yang dilaksanakan tanggal 9 Muharram dan puasa Asyura yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.
Selain ritual puasa, ada amalan yang diberikan oleh pengasuh yaitu membuat azimat menulis lafaz Basmalah sebanyak 113 kali, dengan syarat penulisnya harus memiliki wudhu, menghadap kiblat, tidak boleh berbicara ketika sedang menulis. Selain itu, tulisan tidak boleh salah dan lafaz Basmalah tersebut harus jelas empat lubang. Yakni satu lubang di huruf mimnya lafaz bismi. Satu lubang di lafaz Allah. Satu lubang di lafaz ar-Rahman. Dan terakhir, satu lubang ar-Rahim.
Filsafat dari empat lubang ini adalah empat lubang mata air surga yang mengalirkan air jernih, susu, madu, dan arak. (*)
*) Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin