MAJUSI atau Zoroastrianisme merupakan suatu golongan, aliran, bahkan bisa juga diartikan suatu ajaran agama, yang proses penghambaan-nya dilakukan dengan cara menyembah satu objek, yaitu menyembah terhadap api.
Yang sudah dilakukan secara turun-temurun. Dan ajaran Majusi ini meredup setelah terutusnya revolusioner dunia dan akhlak umat manusia oleh Nabi Muhammad SAW.
Sebenarnya, Majusi merupakan sebuah julukan untuk para pengikut dari ajaran agama Zoroastrianisme yang melakukan peribadatan.
Dalam buku berjudul “Tales of the Caucasus”, Dumas memberikan penjelasan secara konkret tentang keberadaan kuil-kuil peninggalan dari sebuah agama Zoroastrianism. Peninggalan ini di wilayah Azerbaijan yang dibangun di sekitar api abadi.
Zoroastrianism merupakan aliran, agama atau kepercayaan untuk melakukan peribadatan penyembah api yang lahir pada abad ke-6 Masehi di Iran. Dalam keyakinan Zoroatrianism, api adalah manifestasi dari roh kudus Ahura Mazda.
Menurut Wikipedia, Ahura Mazdā (juga dikenal sebagai Ohrmazd, Ahuramazda, Hormazd, dan Aramazd) adalah Tuhan tertinggi pada kepercayaan Zoroastrianisme.
Ajaran Zoroastrianism sendiri telah berkembang lebih dari 2.000 tahun lalu di daratan Iran dan sekitarnya di masa itu.
Lalu, Zarathustra kemudian menjadi tonggak yang memelopori kejayaan agama Zoroastrianism di Azerbaijan dengan memperbarui kandungan dan nilai-nilai ajarannya.
Pada masa kejayaan Zoroatrianism, banyak berdiri berbagai kuil megah yang dibangun berdekatan dengan sumber api abadi. Ada satu kuil yang masih tersisa dari ajaran Zoroastrianism ini yang hingga kini masih berdiri yaitu Menara Meidan, letaknya di tepi Laut Kaspia.
Zarathustra merupakan seorang yang diyakini sebagai nabi bagi penganut ajaran agama Zoroastrianism ini.
Munculnya Nabi Zarathustra (Zoroaster) adalah cikal bakal Majusi di dunia. Ibnu Katsir saat membahas surat An-Nisa ayat 150 menyebutkan, satu pendapat bahwa kaum Majusi pada awalnya beriman kepada Nabi mereka yang bernama Zaradust (Zoroaster), namun mereka kemudian kafir terhadap syariat nabi tersebut.
Lalu, apa hubungan ajaran Majusi dengan Banyuwangi?
Mendengar kata Banyuwangi atau biasa dijuluki “The Sunrise of Java” tempat matahari terbit pertama kali di Pulau Jawa.
Banyuwangi memiliki sebuah destinasi wisata yang mempunyai kriteria yang sama dengan keabadian api Majusi. Destinasi itu biasa disebut dengan “blue fire” atau api biru abadi di Gunung Ijen.
Menurut Wikipedia, Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Gunung ini memiliki ketinggian 2.386 meter dari permukaan laut (dpl). Gunung Ijen terakhir meletus pada tahun 1999 silam.
Salah satu fenomena alam yang paling terkenal dari Gunung Ijen adalah blue fire (api biru) di dalam kawah gunung tersebut. Pendakian gunung ini bisa dimulai dari dua tempat, yakni dari arah Banyuwangi atau dari Bondowoso.
Blue fire yang berada dalam kawasan wisata kawah Ijen sudah menjadi suatu hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Khususnya orang-orang yang berdomisili di daerah Banyuwangi dan sekitarnya.
Masyarakat lokal maupun mancanegara sengaja datang dan berkunjung ke tempat wisata menantang ini. Destinasi wisata blue fire ini juga termasuk dalam sebuah fenomena langka di dunia.
Keindahan blue fire di kawasan Kawah Gunung Ijen saat malam hari, justru akan menjadi obat lelah yang menggairahkan bagi para pelancong yang membutuhkan ketenangan dari hiruk-pikuk kota, atau dengan pekerjaannya.
Walaupun untuk mencapai kawasan ini mereka rela untuk melewatkan tidur, guna bisa menyaksikan indahnya destinasi wisata blue fire Ijen.
Sementara itu, terbentuknya Kawah Ijen terjadi sekitar 70 ribu tahun lalu. Dahulu Kawah Ijen adalah kaldera dari Gunung Ijen Purba yang ada sejak 300 ribu tahun lalu. (*)
*) Mahasiswa IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Editor : Ali Sodiqin