Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kerbau dan Imajinasi Petani

Ali Sodiqin • Kamis, 29 Juni 2023 | 18:00 WIB
Oleh: Nurul Ludfia Rochmah*
Oleh: Nurul Ludfia Rochmah*

CERITA petani dan kerbaunya masih dapat kita nikmati dalam aktivitas budaya kebo-keboan di Banyuwangi. Hingga kini, Alasmalang, Aliyan, dan beberapa wilayah di Banyuwangi, menjadi pusat kegiatan budaya kebo-keboan.  Keberadaannya menghidup-hidupi adat leluhur, baik murni sebagai ritual kearifan lokal, maupun sudah dikemas dalam bingkai provanisasi. Akankah sinergi petani dan kerbaunya akan berlangsung seiya sekata selamanya?

Yang menarik, mengapa kegiatan budaya ini dinamai kebo-keboan? Penamaan ini melibatkan kerbau atau kebo dalam Bahasa Oseng dalam prosesi ritualnya meskipun kerbau tiruan atau jadi-jadian. Beberapa orang akan berperan sebagai kerbau dalam prosesi ritual ini. Dipilihnya hewan ini karena dekat dengan aktivitas petani di sawah. Petani tradisional memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah. Memang, selain kerbau masih ada alternatif sapi sebagai hewan pembajak sawah. Namun, sebagai simbol kekuatan, kesabaran, dan kedekatan dengan bumi, maka karakter kerbau lebih kuat dijadikan ikon prosesi kebo-keboan.

Sebagai bagian penting dari prosesi kebo-keboan, yang berperan sebagai kerbau adalah manusia. Dipandu oleh seorang buldrah, pawang masalah pertanian dan modin banyu, seorang pengatur masalah pengairan sawah, beberapa orang yang berperan sebagai kerbau dalam prosesi tersebut mengalami trance. Pada sesi peras kerbau, kebo-keboan digambarkan menuruti perintah pawang setelah diberi doa dan mantra. Saat diberi mantra untuk membajak sawah, mereka akan berlarian, lepas kendali, dan berkubang pada lumpur. Ketika benih padi diperebutkan oleh masyarakat karena dipercaya dapat digunakan sebagai tulak balak, kebo-keboan itu berusaha merebut benih tersebut. Untungnya pawang dapat mengendalikan kebo-keboan yang sedang trance tersebut dengan dibacakan mantra-mantra.

Adalah Buyut Karti, leluhur Alasmalang yang mengajak warganya mewujudkan rasa syukur atas panen yang melimpah dan mendoakan seluruh isi desa agar dijauhkan dari bala bencana dalam bentuk selametan dan ritual keboan. Seluruh warga desa melaksanakan dengan khusyuk sebagai bagian dari menciptakan sinergi antara manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan, dan alam semesta. Rangkaian upacara atau ritual dilaksanakan sesuai dengan kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Tidak ada niat apa pun selain menyatukan diri sebagai insan yang lemah kepada semesta yang berkuasa dan bersinergi dengan alam agar kehidupan berjalan secara harmonis.

Kerbau sebagai simbol kekuatan, keberanian, kesederhanaan, dan kesetiaan hidup sebagai petani lalu diperankan oleh manusia yang didandani sebagai kebo-keboan merupakan wujud imajinasi petani. Rangkaian prosesi kebo-keboan adalah wujud imajinasi petani Alasmalang.

Imajinasi telah dibangun dan dihidup-hidupi oleh para petani Alasmalang dan menjadi daya bagi perjalanan mereka mencari sumber penghidupan sebagai petani. Imajinasi ini telah menjadi sugesti yang kuat untuk tetap menjalani kehidupan. Menjadi petani adalah kebahagiaan. Menjadi petani adalah jalan untuk meneruskan hidup dengan senang hati, pasrah, dan ikhlas. Menjalani takdir sebagai petani,

Ketika zaman berganti, bagaimana dengan konsep imajinasi petani saat itu? Zaman itu adalah ketika mereka berhadapan dengan kemajuan teknologi, tuntutan perkembangan kehidupan sosial ekonomi, pergeseran nilai dan cara pandang, dinamika tuntutan generasi milenial, dan sebagainya. Semakin ke sini, generasi milenial enggan membantu atau meneruskan profesi orang tuanya sebagai petani. Petani pun akhirnya harus beradaptasi dengan teknologi pertanian, agar pekerjaannya lebih ringan. Populasi kerbau sebagai hewan pembantu membajak sawah semakin sedikit. Imajinasi petani sedikit berganti.

Hasil mengamati dan bertanya sana-sini, “Lebih banyak mana petani kini yang memakai kerbau sebagai hewan penarik singkal dan teter, dibandingkan dengan mesin pembajak?” Pertanyaan saya dijawab, “Masih ada kok, yang menggunakan kerbau sebagai mitra mengolah tanah. Namun memang, lebih banyak yang menggunakan mesin pembajak sawah karena lebih efektif dan efisien.”

Inilah yang saya maksud sebagai pergeseran imajinasi petani tentang kerbau dan semua kekhusyuan dalam proses bertani. Ritual upacara dan prosesi kebo-keboan lambat laun menjadi cerita yang dipentaskan saja, karena sudah tidak direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah masih ada masa untuk mengembalikan imajinasi kejayaan kerbau atau sapi di sawah petani kita. Tentu saja bukan hal yang mudah ketika teknologi sudah membuat pekerjaan petani menjadi mudah. Generasi pasca-Alpha nanti akan memiliki imajinasi baru tentang kerbau-kerbau di sawah, pada waktu lampau. Bahkan yang mungkin, dalam imajinasi mereka yang terjadi kerbau yang diperankan manusia pada festival kebo-keboan adalah definisi kerbau sesungguhnya. Kerbau-kerbau masa lampau yang menjadi teman petani membajak sawah hanya menjadi kenangan Osing yang sudah lekang. (*)

 *) Guru Penulis dari MAN 1 Banyuwangi.

Editor : Ali Sodiqin
#Alasmalang #tradisi #budaya #Aliyan #kebo-keboan #banyuwangi #opini