Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ngaji Disambi Ngopi

Ali Sodiqin • Kamis, 18 Mei 2023 | 15:07 WIB
Muhammad Gufron Fauzi
Muhammad Gufron Fauzi
MUNGKIN sebagian besar orang sudah tidak asing lagi dengan istilah ngaji dan ngopi. Di pesantren, istilah ini kerap diungkapkan para santri yang sudah mondok lama. Kata ngaji merujuk kepada kegiatan yang dilakukan setiap hari oleh santri, mulai Subuh hingga malam. Seolah sudah menjadi kebiasaan di kalangan para santri.

Bukan santri namanya kalau tidak mengaji. Begitulah ungkapan yang dilontarkan sesepuh pondok (santri yang sudah lebih lama mengabdi di pondok tersebut). Dia menambahkan, mengaji nggak enak rasanya tanpa ngopi.

Siapa yang tidak tahu kopi. Tanaman yang sudah lama dibudidaya dan memiliki nilai ekonomis tinggi ini. Kopi berasal dari Afrika, yaitu pegunungan di Ethiopia. Namun, kopi baru dikenal masyarakat dunia setelah tanaman tersebut dikembangkan di Yaman, bagian selatan Arab.

Di Indonesia, kopi mulai dikenal setelah pendudukan Belanda tahun 1696. Belanda awalnya membawa kopi jenis Arabica dari Malabar, India ke Pulau Jawa. Budidaya kopi pertama dilakukan oleh kompeni di Kedawung, daerah agrikultur dekat Batavia (Jakarta).

Di Jawa Timur, ada beberapa daerah sentra penghasil kopi-kopi berkualitas wahid. Sebut saja Banyuwangi, dengan memiliki Gunung Ijen berketinggian lebih dari 2000 meter dari permukaan laut (dpl). Banyuwangi memiliki lahan ideal untuk kebun kopi. Maka tidak heran, jika dari tahun ke tahun, produksi kopi Banyuwangi terus meningkat.

Tahun 2021 silam, produksi kopi Banyuwangi menembus angka 16.000 Ton. Sangat fantastis. Selain Banyuwangi, juga ada Jember. Produksi kopi terbesar Jember ada di Kecamatan Sukorambi dengan total produksi 1.790 Ton. Sekitar 27 kecamatan di Jember memiliki kebun kopi.

Selanjutnya ada Kabupaten Malang, dengan total luas perkebunan kopi mencapai 15.086 hektare. Ini menjadikan Malang salah satu kabupaten penghasil kopi terbesar di Jawa Timur. Di Malang, kopi jenis robusta lebih banyak ditanam dibandingkan dengan jenis Arabika. Karena jenis robusta lebih cocok ditanam di dataran Malang, minat konsumen terhadap kopi jenis ini juga lebih tinggi ketimbang jenis lain.

Ada banyak jenis minuman kopi saat ini. Di antaranya Latte, Cappucino, Americano, Flat White, es kopi susu, café au lait, dan kopi hitam. Dan juga banyak café menamai kopi-kopi miliknya dengan nama yang mereka buat sendiri. Seperti kopi setan, kopi bulan, dan lain sebagainya.

Ngopi adalah sebuah kegiatan yang lazim dilakukan oleh semua santri. Baik yang sudah di jenjang perguruan tinggi, maupun yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Semua gemar dengan minuman yang satu ini. Baik kopi hitam maupun kopi yang dicampur susu atau pun caramel, semuanya diminati.

Namun, bukan istilah ngaji dan ngopi itu yang dimaksud. Melainkan makna yang terkandung di dalam istilah ngaji disambi ngopi. Inilah yang menjadi pokok pembahasan. Ngaji bukan semata kegiatan rutin yang dilakukan dari pagi hingga malam. Namun, ngaji juga dimaknai dengan “ngatur jiwo” atau mengatur jiwa. Tujuan santri mengaji, selain ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta keberkahan, juga sebagai penenang jiwa, dan mengaturnya agar sesuai dengan norma dan kaidah agama.

Lalu, apa hubungan ngaji dengan ngopi? Kenapa mengaji harus dibarengi dengan ngopi? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini yang kemudian muncul.

Menurut sesepuh pondok, ngaji perlu dibarengi dengan ngopi. Karena kedua hal tersebut saling berhubungan. Kurang nikmat rasanya jika ngaji tanpa ngopi. Ngopi yang dimaksud di sini bukanlah ngopi-ngopi pada biasanya. Namun, ngopi yang dimaksud di sini adalah “ngolah pikir” atau mengolah pikiran. Selain mengaji, seorang santri juga harus mengolah pikirannya.

Banyak pelajaran yang tidak ada di umum, semuanya ada di pesantren. Mulai dari belajar ilmu agama, belajar tentang kehidupan bermasyarakat, belajar ikhlas, belajar disiplin, dan belajar keterampilan-keterampilan yang mungkin dibutuhkan saat kembali ke rumah kelak. Dan masih banyak lagi ilmu penting lain di pondok pesantren.

Pondok pesantren ada yang mengibaratkan sebagai lautan ilmu dan santri sebagai nelayan. Seperti halnya lautan yang menyediakan berbagai jenis ikan dan hal-hal lainnya, pondok pesantren juga menyediakan banyak sekali ilmu yang sangat bermanfaat. Tinggal melihat, alat apa yang dibawa oleh nelayan untuk mendapatkan ikan yang diinginkan. Dan seberapa banyak jumlahnya.

Selain diibaratkan sebagai lautan ilmu, pondok pesantren juga diibaratkan sebagai pasar dan santri sebagai pembelinya. Bak sebuah pasar, pondok pesantren menyediakan lengkap berbagai kebutuhan santri. Tinggal seberapa banyak uang yang dibawanya, dan seberapa besar kemampuan membawa belanjaan itu.

Dengan begitu banyaknya ilmu yang bisa didapat di pondok pesantren, santri dituntut bisa mengolah pikiran dengan sebaik mungkin. Agar tujuan mencari ilmu yang bermanfaat dan berkah dapat terlaksana dengan baik, sesuai dengan yang niatnya.

Ngaji disambi ngopi, sebenarnya adalah sebuah ungkapan yang ditujukan kepada batiniah para santri. Bagaimana mereka mengamalkan ilmu yang telah didapat dalam kehidupan sehari-hari. Seperti hukum-hukum fikih dan ilmu tasawuf yang didapat saat mengaji. Percuma kalau hanya tahu hukumnya, tetapi tidak menerapkannya. Maka dari itu, mengaji perlu dibarengi dengan ngopi. (*)

*) Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #ngopi #artikel #ngaji #opini