Making Indonesia 4.0 merupakan program pemerintah menanggapi Revolusi Industri 4.0 yang sedang mentransformasi dunia yang diresmikan 4 April 2018 silam. Program ini menjadi salah satu agenda nasional bangsa Indonesia dan Kementerian Perindustrian menjadi leading sektornya (setkab.go.id,2018).
Sejak tahun 2011, dunia memasuki suatu era yang dikenal dengan Fourth Industrial Revolution atau Revolusi Industri 4.0. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Kementerian Federal Pendidikan dan Riset Jerman saat Pameran Otomasi Hannover (Hannover Messe) tahun 2011 dengan nama Industrie 4.0. Istilah ini pada awalnya bukan secara langsung merujuk ke revolusi industri ke-4, akan tetapi lebih merujuk kepada strategi pengembangan teknologi baru di bidang industri manufaktur, untuk memberi solusi terhadap adanya mega trend, seperti: mass customization, digitalisasi, produk lifecycle yang singkat, dan lain-lain.
Setelah itu, tahun 2012 dan 2013 Jerman menyusun deskripsi, strategi, dan cakupan dari Industrie 4.0. Dari sini muncul konsep bahwa Industri 4.0 merupakan evolusi dari revolusi industri sebelumnya (Kemenperin, 2018).
Tulisan ini diharapkan menjadi inspirasi semangat bagi insan pendidik untuk terus berjuang dalam dunia pendidikan Indonesia, sehingga tetap berkontribusi dalam pembangunan di antaranya program Making Indonesia 4.0. Agar kita dapat memberikan kontribusi secara proporsional dan optimal, maka wawasan kita tentang program Making Indonesia 4.0 perlu disegarkan kembali.
Indonesia memiliki aspirasi untuk menjadi top 10 ekonomi dunia di tahun 2030 (BPPI, 2018), dan untuk mencapai aspirasi ini diperlukan strategi yang tertuang dalam konsep Making Indonesia 4.0, sebagai sebuah roadmap terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era Industry 4.0. Peta Jalan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari institusi pemerintah, asosiasi industri, pelaku usaha, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendidikan.
Pengembangan SDM tidak dapat dilepaskan dari peran pendidikan. Hadirnya Kurikulum Merdeka yang memberikan fleksibilitas dalam hal mengajar dan mengembangkan strategi pembelajaran, memberikan ruang bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran kontekstual yang berpihak pada murid, dan mengasah kreativitas dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta dapat menjawab tantangan zaman (Anggraena et al 2022:13-90).
Dengan esensi kemerdekaan berpikir bagi guru akan dapat memperbaiki proses belajar mengajar, dan dapat berdampak positif dalam aspek kehidupan yang bermuara pada peningkatan kualitas SDM. Penulis yakin, peningkatan kualitas SDM dari sisi perbaikan kualitas pembelajaran akan lebih signifikan, bila layanan pembelajaran yang mempertimbangkan perbedaan karakteristik peserta didik dilaksanakan sebaik mungkin.
Pemanfaatan teknologi merupakan salah satu karakteristik dalam pendidikan 4.0 untuk menjawab kebutuhan industri 4.0 (Fisk, 2017). Lingkungan pembelajaran abad ke-21 tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Pembelajaran harus inovatif dalam mengadopsi teknologi, yang menjadi dasar pergeseran strategi dan pendekatan pembelajaran dalam pendidikan abad ke-21 (Rizal et al, 2019).
Terkait transformasi teknologi dalam dunia pendidikan, pemerintah telah meluncurkan beberapa portal pembelajaran seperti Rumah Belajar pada tahun 2011 dan Platform Merdeka Mengajar tahun 2022. Google analytics mencatat, periode Januari 2014 sampai Juni 2021, Rumah Belajar memiliki 20.052.828 pengguna dengan total 217.031.030 kunjungan (kemdikbud.go.id, 2021).
Sedangkan Platform Merdeka Mengajar yang telah digunakan lebih 1,6 juta guru, dan telah terbentuk lebih dari 3.500 komunitas belajar para guru dan terkumpul lebih dari 55.000 konten belajar mandiri (Fiqi, 2022).
Peningkatan pengguna dan aktivitas portal ini mengindikasikan adanya literasi teknologi digital dalam dunia pendidikan. Memang, kedua portal yang disediakan pemerintah harus dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para guru untuk belajar, mengajar, berkarya, dan mengembangkan potensi.
Upaya para guru untuk terus meningkatkan kompetensi literasi digital akan dapat menghadirkan iklim pembelajaran yang berkualitas. Ini membuat siswa lebih siap menghadapi perubahan teknologi yang sedang berlangsung, dan membuahkan peningkatan kualitas SDM guru dan siswa. SDM yang berkualitas adalah modal dalam meraih cita-cita bangsa, termasuk aspirasi top 10 ekonomi dunia di tahun 2030. Jayalah negeri tercintaku Indonesia. (*)
*) Guru Biologi di SMA Negeri 1 Panarukan. Editor : Gerda Sukarno Prayudha