Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Kopiah Ganjar

Ali Sodiqin • Jumat, 28 April 2023 | 19:29 WIB
Andang Subahariyanto
Andang Subahariyanto
SEPEKAN lalu, 21 April 2023, Megawati Soekarnoputri menyematkan kopiah hitam di kepala Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Prosesi itu menandai deklarasi Ganjar Pranowo sebagai calon presiden PDI-P (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Singkat, sederhana, tapi sarat makna.

Bagi saya, peristiwa tersebut bukan saja berdimensi politik, tapi sekaligus kebudayaan. Tindakan politik, tapi kaya makna kultural. Yang merefleksikan ketokohan dan kebesaran Megawati. Yang mengelola politik dengan rasa budaya.

Megawati kukuh dengan kesabarannya, dengan suara hatinya. Tidak grusa-grusu, kata orang Jawa. Dia memang telah membuktikan keunggulan manajemen kesabaran itu. Yang mempertemukan ”otak” dan ”hati”. Yang mendialektikakan ”realita” dan ”idea”. Lalu, menemukan penghayatan bahwa politik bukan sekadar kalkulasi pragmatis memperoleh kekuasaan. Bukan sekadar berhitung untuk memenangi pemilu.

Baginya, politik adalah jalan pengabdian kepada nilai-nilai luhur, seperti keadilan sosial, kesejahteraan, kemakmuran, kedaulatan rakyat, persatuan-kesatuan bangsa. Nilai-nilai itu tidak boleh direduksi sekadar alat maksimalisasi perolehan kekuasaan. Ujung dari politik memang kekuasaan. Tapi, kekuasaan mestilah diabdikan buat pemenuhan nilai-nilai substantif tersebut. Maka, politik dilakoninya sebagai manifestasi kecintaan kepada rakyat.

Dengan penghayatan seperti itu Megawati tak mengenal istilah ”kalah”. Tak ada kata ”lelah”. Perjuangan nilai-nilai substantif melalui jalan politik tak boleh berhenti hanya karena kekalahan kontestasi politik. Dan, Megawati membuktikannya. Kekalahannya pada Pemilu 2004 dan 2009 tak menyurutkan perjuangannya. Tak ada kata ”tua” dalam perjuangan nilai-nilai substantif. Begitulah tesis utamanya.

Saya melihat pelajaran penting itulah yang disampaikan kepada Ganjar Pranowo. Melalui penyematan kopiah di atas kepalanya. Persis di hari yang istimewa. Ganjar pun wajib peka, lalu meneladaninya.

Pilihan waktunya saja istimewa, penuh makna. Tanggal 21 April, pukul 13.45. Bagi bangsa Indonesia, 21 April dikenal sebagai Hari Kartini. Diperingati sebagai hari emansipasi perempuan bangsa Indonesia. Ada nilai substantif mendasar di sana. Perlawanan pada sistem diskriminatif, perjuangan emansipatoris. Ganjar wajib peka terhadap isu diskriminasi. Baik berlatar gender, ras, agama, dan sosiokultural lain.

Tanggal 21 April 2023 pukul 13.45 juga bertepatan dengan waktu istimewa bagi umat Islam di Indonesia. Kita tahu, sebagian umat Islam di Indonesia telah mengakhiri puasa Ramadan pada tanggal itu dengan merayakan Idul Fitri. Sementara itu, sebagian lain baru merayakan esoknya, 22 April.

Penyematan kopiah kepada Ganjar oleh Megawati dilakukan setelah pukul 13.45 pada 21 April. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, waktu tersebut (pukul 13.45) biasa dibaca sebagai ”transisi”, waktu liminal. Belum meninggalkan ”hari ini”, tapi sudah mulai masuk ”hari esok”.

Keduanya, ”hari ini” (21 April) dan ”hari esok” (22 April), istimewa bagi umat Islam di Indonesia. Dihayati sebagai ”Hari Kemenangan”. Nilai substantifnya sangat mendalam. Baik dari sisi hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) maupun hubungan antarmanusia (hablum minannas).

Saya membaca, pilihan waktu tersebut cerdas sekali. Bernilai dari sisi marketing politik, sekaligus menyentuh dimensi kultural dan spiritual. Yang ber-Idul Fitri pada 21 April maupun 22 April sama-sama dihormati. Saya yakin, Ganjar sangat paham terhadap persoalan semacam itu.

Makna pilihan waktu tersebut sekaligus menegaskan makna kopiah yang dipilih sebagai penanda. Tak ada yang asing bagi bangsa Indonesia terhadap kopiah. Benda ini sangat familier dan khas bagi bangsa Indonesia. Biasa dipakai oleh masyarakat dari berbagai lapisan. Kalangan atas maupun bawah. Elite maupun rakyat kebanyakan. Orang kantoran maupun pasaran. Bahkan telah diakrabi pula oleh nonmuslim.

Biasa dipakai untuk beragam aktivitas. Ritual maupun nonritual. Di tempat ibadah muslim maupun di pasar dan tempat keramaian lain. Di acara resmi maupun tak resmi. Pelantikan pejabat sudah biasa berkopiah bagi pejabat laki-laki. Bertamu atau menerima tamu di rumah biasa pula berkopiah. Pendek kata, kopiah telah menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Yang mengatasi perbedaan agama, sosial, ekonomi, maupun kultural.

Kopiah juga mengatasi jarak antara tradisionalitas dan modernitas. Dan, Bung Karno adalah orang yang paling berjasa dalam urusan kopiah sebagai identitas kebangsaan. Bung Karno biasa berkopiah dalam aktivitas resmi kenegaraan. Kopiah dapat serasi berpasangan dengan jas.

Maka, jelas dan mendalam sekali maknanya. Ganjar wajib menjadi nasionalis-religius yang berwatak kerakyatan. Ganjar diamanahi menjadi pemimpin yang membawa Indonesia pada kemajuan: berdaulat secara politik dan berdaya (mandiri) secara ekonomi tanpa kehilangan kepribadian. Indonesia yang berkemajuan sekaligus berkeadaban.

Makna-makna tersebut menegaskan alasan Megawati dan proses yang dilakoninya. Saya yakin, Ganjar dijagokan bukan sekadar urusan elektabilitas survei. Ganjar telah menjalani ujian panjang dari aspek ideologi, loyalitas, dedikasi, integritas, kepemimpinan, pengabdian. Megawati pasti mencermati betul rekam jejak Ganjar. Kita masih ingat bagaimana Ganjar selaku gubernur menolak tim (kesebelasan) Israel berlaga di Indonesia. Ganjar memilih patuh pada ideologi dan konstitusi. Meski berhadapan dengan kekecewaan sebagian publik. Meski bisa merugikan elektabilitasnya. Namun, Ganjar tegak lurus, memilih tindakan tak populer atas nama ideologi dan konstitusi. Bukankah seharusnya memang begitu seorang pemimpin kelas presiden?

Lalu, yang tak kalah unik dan penuh makna, adalah prosesnya. Saya tahu dari sejumlah media massa bahwa Ganjar diputuskan setelah Megawati menjalani kontemplasi, ”laku menyendiri”. Di kalangan antropolog ritual tersebut biasa dibaca dengan bantuan teori liminalitas. Subjek ritual melewati ruang liminal, yakni ruang ”antara”. Transisi dari ”sini” ke ”sana”. Di ruang liminal itulah manusia mengambil jarak dengan ”yang sudah” untuk memasuki ”yang akan”.

Manusia disucikan di ruang liminal. Di ruang liminal itulah subjek ritual merefleksikan diri secara total untuk memastikan status barunya di masa depan. Di ruang liminal itu pula Megawati menemukan Ganjar. Gubernur Jawa Tengah itu dijagokan memimpin Indonesia ke depan. Yang tentu saja banyak tantangannya. Tapi, tak boleh lelah, apalagi menyerah.

Bagi saya, kopiah Ganjar simbolis sekali. Sarat nilai-nilai substantif. Yang harus dijunjung tinggi, dihormati, diperjuangkan, dan dibela mati-matian oleh sang pemakai. Demi Indonesia yang berkemajuan-berkeadaban. (*)

*) Andang Subaharianto adalah Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi Editor : Ali Sodiqin
#pemilu 2024 #megawati soekarnoputri #ganjar pranowo #artikel #Andang Subaharianto #Capres PDIP #opini #untag banyuwangi