Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rumah bagi Anak Strict Parents

Ali Sodiqin • Senin, 24 April 2023 | 22:36 WIB
Oleh: Dwi Nur Hidayah*
Oleh: Dwi Nur Hidayah*
SUDAH yakin jika rumahmu nyaman bagi keluarga terutama anak-anak? Ada yang bilang, rumah bukan hanya sebuah bangunan untuk ditempati. Rumah mempunyai makna yang lebih dalam. Ada yang mengartikan rumah sebagai suatu tempat yang bisa menciptakan kehangatan dan kenyamanan di dalamnya.

Jika demikian, bangunan yang megah dan mewah tidak dapat diartikan ‘rumah’ jika tidak membuat nyaman orang yang berada di dalamnya. Sebaliknya, sebuah pondok kecil sederhana bisa menjadi ‘rumah’ asalkan orang itu bahagia ketika di dalamnya. Ada juga yang mengatakan, bukan megahnya bangunan yang menciptakan nyaman, tetapi orang yang di dalamnya ia yang melakukannya. Bisa diartikan, rumah adalah orang di dalamnya. Mereka yang menciptakan suasana nyaman.

Namun apa arti rumah bagi anak strict parents? Bagi mereka, rumah adalah tempat di mana dituntut untuk patuh pada aturan orang tua. Di mana anak harus menuruti kehendak orang tua dengan pola asuh yang ketat, banyak aturan, dan pembatasan serta cenderung kaku.

Setiap orang tua memang ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Keinginan ini bisa membentuk pola asuh yang akan diberikan pada anak. Mungkin orang tua memiliki tujuan untuk mendidik anak yang baik. Tetapi jarang orang tua tahu bahwa pola asuh yang seperti ini memberikan dampak buruk bagi anak. Mereka percaya bahwa pola asuh seperti ini bisa membentuk kepribadian anak yang disiplin dan penurut.

Memiliki anak yang penurut merupakan salah satu impian dari orang tua, dengan cara mengasuh anak dengan disiplin. Strict parents terbagi menjadi dua, otoritatif dan otorier. Pola asuh disiplin yang baik dengan pola asuh otoritatif yang mana gaya mengasuh dilakukan dengan kasih sayang yang tinggi dan tuntutan yang irasional. Biasanya orang tua akan memberikan kebiasaan baik serta pujian setiap apa yang dilakukan baik itu kecil maupun besar. Hal seperti ini yang dapat membangun kepribadian baik untuk anak.

Mendisiplinkan anak bukanlah suatu hal yang mudah, banyak orang tua salah paham terhadap hal ini. Orang tua cenderung membatasi dan menghukum serta menuntut mengikuti perintah. Orang tua berharap dapat mendisiplinkan anak dengan pola asuh yang ketat, tetapi dalam hal ini komunikasi sering terjadi satu arah. Orang tua dengan pola asuh seperti ini disebut dengan tipe orang tua otoriter. Anak yang diasuh pola otoriter cenderung terlihat kurang bahagia, ketakutan mengambil keputusan, serta tidak percaya diri.

Tetapi, banyak sebagian orang tua cenderung mengasuh pola asuh otoriter. Orang tua yang membuat peraturan yang ketat dan tidak mau menerima pendapat dari anaknya. Pola asuh yang seperti ini membuat dampak buruk bagi anak. Berikut ini adalah ciri-ciri strict yang buruk bagi anak: banyak menuntut, minim dukungan, hukuman fisik, suka melarang anak, memiliki harapan tinggi terhadap anak, tidak memberikan pilihan, tidak percaya keputusan anak, mempermalukan anak, dan membandingkan anak. Berikut ini adalah dampak buruknya pada anak: tidak bahagia, depresi, gangguan perilaku, suka berbohong, dan tidak percaya diri.

Memang hal tersebut membuat anak tidak nyaman, tetapi jika diri saya menjadi orang tua mungkin saya akan melakukan hal yang sama, tetapi berbeda caranya. Sebagai orang tua, perlunya memiliki pengetahuan dalam mendidik anak, strict parents yang otoriter dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan mental anak. Bersikap tegas dan wajar adalah salah atu poin penting dalam mendidik anak. Tanpa dukungan yang baik dari orang tua, anak akan merasa kesulitan dalam masa berkembangnya. Kasih sayang juga diperlukan dalam mendidik anak, karena itu adalah hak yang harus didapatkan oleh anak.

Jika demikian, rumah adalah tempat anak ‘kembali’. Di rumah anak-anak harus merasa nyaman, bahagia, dan bebas dari rasa tekanan. Hal seperti ini, peran orang tua sangat dibutuhkan.

Orang tua juga harus membiasakan anak bersosialisasi terhadap lingkungan sekitarnya. Orang tua juga menanyakan pendapat sang anak sekecil apa pun. Mereka bisa mengajak anak berdiskusi tentang apa pun. Hal tersebut membuat anak merasa dirinya ada di sana dan ‘dianggap.’ Anak juga tidak akan takut mengatakan sesuatu kepada orang tua jika terjadi sesuatu. Itulah beberapa hal kecil dari anak strict parents yang diinginkan. Yakni memiliki ‘rumah’ impian yang nyaman saat berada di dalamnya dengan orang-orang yang mengasihi. (*)

*) Siswa MAN 1 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#Strict Parents #kolom #artikel #refleksi #opini