Banyak pihak menyayangkan. Padahal persiapan sudah dilakukan selama tiga tahun, baik penggemblengan pemain, renovasi stadion, hingga persiapan lainnya. Tentu ini menjadi kekecewaan terbesar bagi sepak bola Indonesia. Bukan hanya pemain atau pemerintah yang mereguk pahitnya keputusan FIFA, tetapi juga dirasakan masyarakat luas terutama di sektor ekonomi.
Berita yang beredar sekarang, sebenarnya bukan hanya persoalan penolakan kepala daerah. Lebih dari itu, ini juga menyangkut persoalan politik dan agama jika melihat kompleksitas permasalahannya.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Masdar Hilmy memberikan pencerahan mengenai hal ini dalam tulisannya yang bertajuk Agama, Politik, dan Sepak Bola (Jawa Pos, 3/4), bahwa sebenarnya persoalan ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Melainkan sebagai peristiwa yang memprihatinkan karena membawa agama sebagai pembenar bagi penolakan timnas Israel.
Kemanusiaan Mendahului Keberagamaan
Pada sisi lain, persoalan semakin pelik jika ditinjau melalui kacamata ”humanity”. Pasalnya, permasalahan politik antara Israel dan Palestina adalah juga permasalahan dunia. Artinya, ini berkaitan dengan persoalan kemanusiaan di Palestina yang belum terselesaikan.
Sering dikatakan oleh Prof Quraish Shihab, ”kemanusiaan itu mendahului keberagamaan”. Beliau mencontohkan: ”Mau haji, uangnya untuk haji cukup, tapi ada keluarga ada yang telantar, mau haji atau bantu keluarga?”
Demikian pula pada kasus penolakan timnas Israel tersebut, ini adalah bidang olahraga, maka harus mengedepankan kemanusiaan ketimbang keberagamaan. Persoalan ini juga bukan persoalan yang mudah jika mengingat karakter Indonesia sebagai masyarakat agamis yang mengakui lima agama.
Walaupun demikian, sebagai masyarakat yang beragama juga harus mampu membedakan antara urusan agama, urusan politik, dan urusan olahraga. Karena yang sering timbul menciptakan masalah adalah akibat dari ”pencampur-adukkan” berbagai urusan yang akhirnya kacau. Juga bukan berarti bahwa mencampurkan satu dengan lainnya tidak melahirkan suatu kreasi yang baru. Ini adalah persoalan yang berbeda, tergantung bagaimana konteksnya.
Kesalehan dalam sepak bola, boleh-boleh saja dan sah-sah saja. Asalkan tetap mempertimbangkan asas kemanusiaan. Sebab, asas kemanusiaan dalam membantu Palestina adalah persoalan yang berbeda. Itu sudah masuk ke wilayah politik. Sedangkan asas kemanusiaan dalam hal ini adalah wilayahnya olahraga. Yang juga berarti, menolak timnas Israel secara politis bukanlah asas kemanusiaan. Timnas Israel lolos kualifikasi Piala Dunia U-20 secara fair melalui Piala Eropa U-19 sebagai runner-up dengan kerja kerasnya sendiri, bukan berkat politik.
Sudut Pandang Filsafat
Kesalehan sepak bola jika dilihat dari sudut filsafat juga memiliki kesalehannya sendiri yang berbeda dari sudut lainnya. Ada salah satu filsuf Prancis bernama Jean-Paul Sartre. Salah satu gagasannya dalam bahasa Prancis ”l’existence precede l’essence”, yang berarti ’eksistensi mendahului esensi’.
Gagasan ini sebenarnya mirip sekali sebagaimana yang disampaikan oleh Prof Quraish. Hanya, gagasan Sartre tampak filosofis bagi suatu pemikiran filsafat yang menjangkau hal-hal mendasar.
Pada dasarnya, pemikirannya tersebut bukan lahir dari ruang hampa, namun sebagai reaksi antitesis para penganut esensialis yang berkembang pada masa itu. Selanjutnya, gagasan ini juga dapat dimaknai sebagai ”tanggung jawab sebagai manusia”. Sartre mengedepankan hal yang berpusat pada antroposentrisme daripada membahas hal-hal transenden. Dia menolak eksistensi Tuhan, karena yang boleh eksis hanyalah dirinya sendiri. Jika masih ada eksistensi lain termasuk Tuhan, maka ia tidak pernah bisa menjadi manusia yang otentik. Pemikiran inilah yang mesti kita tolak sebagai masyarakat yang ber-Tuhan. Kendati demikian, kita masih bisa mengambil kebenaran dalam pemikirannya sebatas wilayah eksoterik saja.
Adapun yang dimaksud eksistensi bukan sekadar ada sebagai manusia. Tetapi juga harus sadar bahwa dirinya sebagai manusia. Jika tidak, lalu apa bedanya manusia dengan batu atau benda-benda lainnya? Menurutnya, manusia yang sadar adalah manusia yang bertanggung jawab dan manusia yang memikirkan masa depan (Yunus, 2011).
Juga bukan berarti bahwa hanya bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, tetapi juga harus dapat bertanggung jawab untuk seluruh manusia, terutama ia yang menjadi pemimpin.
Dalam kasus ini, maka dapat dimunculkan dua kepala daerah yang dianggap bertanggung jawab. Dua pemimpin ini seharusnya patuh terhadap presiden yang merupakan pemimpin tertinggi sistem kepemerintahan. Namun pada kenyataannya, mereka justru lost control, sehingga menjadikannya sebagai manusia yang tidak ”bertanggung jawab” untuk dirinya sendiri dan seluruh masyarakat Indonesia. Akhirnya, menimbulkan kerugian berbagai pihak, termasuk negara. Karena itu di sini pentingnya tanggung jawab selain untuk dirinya, juga untuk yang lainnya.
Sepak bola merupakan cabor yang sangat bebas dari berbagai kepentingan. Namun kenyataannya, sepak bola hampir selalu disetir kepentingan di luar lapangan. Baik disetir oleh agama agar tampak saleh, maupun disetir oleh politik agar tampak nasionalis.
Terakhir, mari bersama menghayati petuah Sang Guru Bangsa, Gus Dur. Gus Dur mengatakan, ”Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga”. Demikian, kita tidak perlu mengharu biru, meratapi nasi yang sudah menjadi bubur. Cukup menjadi pelajaran sangat berharga bagi sepak bola Indonesia dan kesalehannya. (*)
*) Sarjana Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya. Editor : Gerda Sukarno Prayudha