Profesionalisme juga sering dikatakan sebagai kompetensi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan benar. Dan juga, komitmen para anggota dari sebuah profesi untuk meningkatkan kemampuan seorang pekerja atau karyawan.
Profesionalisme yang dimaksud yaitu bagaimana seorang pekerja atau karyawan bisa memosisikan dirinya selama berada dalam lingkup kerja maupun luar lingkup kerja. Bagaimana seorang pekerja atau karyawan bisa menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, tepat waktu, serta memiliki nilai integritas. Integritas ini yang berkaitan dengan sifat dan karakter dari seseorang.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pekerja atau karyawan adalah bagaimana dia bisa mengontrol emosi, serta pikirannya atau membedakan hal pribadi dengan pekerjaan. Karena seperti yang kita ketahui, setiap orang pasti mempunyai permasalahan hidupnya masing-masing di mana karyawan tersebut tetap dituntut agar pekerjaannya tidak terbengkalai karena permasalahan tersebut.
Kata profesional sekarang ini malah disalahartikan, mereka beranggapan profesionalisme bisa didapat dengan bekerja di suatu tempat dengan waktu yang cukup lama tanpa sadar kewajiban yang seharusnya mereka jalani dilakukan dengan maksimal atau tidak. Banyak sekali pekerja atau karyawan sekarang yang beranggapan seperti itu, seolah karena mereka sudah bekerja bertahun-tahun mereka menganggap dirinya sudah profesional.
Padahal, ada yang harus mereka melakukan untuk mendapat gelar profesional seperti harus memiliki sifat jujur, bertanggung jawab, dan bersikap ramah. Lalu, mematuhi segala peraturan di dalam kantor atau perusahaan. Tidak lupa menyelesaikan semua tugas yang diberikan dengan tepat waktu, serta tidak mengeluh. Selalu berusaha membangun relasi yang baik dengan karyawan lain dan memiliki motivasi yang kuat serta menjadi pribadi yang inisiatif.
Akibat dari ketidakprofesionalan di tempat kerja, tentu sangat merugikan bagi pekerja atau pun karyawan. Sudah jelas ketika berada di tempat kerja, sikap profesional menjadi suatu keharusan yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Tanpa adanya sikap profesional, sulit sekali rasanya seseorang dicap sebagai pekerja yang baik. Sangat penting menjaga sikap profesionalitas di tempat kerja. Jika tidak memiliki profesionalitas selama bekerja sudah dipastikan akan mendapatkan konsekuensi seperti sulit melakukan pekerjaan dengan baik, pekerjaan jadi sering tercampur aduk dengan urusan pribadi, pola berpikir akan cenderung dangkal, lingkungan sosial yang akan menolakmu, bahkan dipecat.
Misalnya, apakah kepemilikan usaha merupakan faktor utama untuk bersikap profesional? Sepertinya, ”iya”. Sekarang ini mereka yang hanya menyandang status karyawan atau pekerja biasa malah semena-mena dalam melayani konsumen. Padahal nih, yang penulis rasakan si pemilik usaha seperti penjual sembako malah ramah melayani dengan segenap hati dan pasti profesional. Karena mereka sadar proses yang mereka jalani sampai pada titik tersebut tidaklah mudah, memaksakan bersikap profesional, melakukan kewajiban sampai menjadi keterbiasaan menghasilkan berbagai peluang (cuan).
Berbeda dengan mereka yang hanya sebagai pekerjanya, malah bertindak seakan-akan mereka yang punya toko saja. Bukan masalah berapa lama mereka bekerja, bukan masalah seakrab apa mereka dengan si pemilik usaha, ini masalah bagaimana mereka melakukan kewajiban sebagai pekerja yang awal mula mereka janjikan. Sekarang banyak sekali pekerja yang kurang profesional, entah karena apa. Atau, karena mereka melihat dulu siapa yang akan mereka layani, sekiranya tampak kurang oke (dalam segi pakaian misal), mereka enggan melakukan servis terbaik.
Pekerjaan merupakan ”kegiatan sosial” yang mana individu atau kelompok menempatkan upaya waktu dan ruang tertentu, kadang-kadang dengan mengharapkan penghargaan moneter (atau dalam bentuk lain), atau tanpa mengharapkan imbalan, tetapi dengan rasa kewajiban kepada orang lain. Setiap pekerja bisa melakukan pekerjaannya, tapi tidak semua pekerja bisa melakukan dengan profesional. Makna profesional jangan sampai salah diartikan bukan dia yang bekerja dengan cekatan, melainkan dia yang tidak lalai akan kewajiban. (*)
*) Mahasiswa IAI Darussalam, asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin