Ciri tersebut dapat membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Kemudian, dari hal tersebut akan membentuk suatu keunikan pada diri manusia, yang tidak hanya sebagai pembeda. Tetapi juga dipahami sebagai suatu cara untuk mengembangkan diri sebagai perwujudan eksistensi diri.
Menurut Prof Fory Armin Naway, eksistensi diri merupakan suatu keberadaan manusia yang berkaitan dengan cara manusia itu untuk menempatkan diri dalam lingkungan sosial, sesuai dengan identitas dirinya yang dibuktikan dengan suatu pengakuan atau anggapan dari orang lain mengenai keberadaan manusia.
Pada era digital ini, kemudahan mencari informasi dan berbagi informasi bisa dilakukan oleh semua orang. Terutama bagi remaja melalui media sosial. Tentunya, hal ini bisa kita manfaatkan untuk membangun personal branding atau penjenamaan diri melalui akun media sosial.
Langkah ini merupakan langkah efektif dan mudah. Karena penyebaran informasi melalui media sosial begitu cepat melalui media sosial. Hal ini menyebabkan pembentukan personal branding melalui media sosial semakin penting. Terutama di kalangan remaja. Banyaknya persaingan antar-kalangan dalam bidang keterampilan yang sama membuat generasi milenial menyadari betapa pentingnya personal branding.
Personal branding tersebut digunakan untuk mengatur persepsi orang lain terhadap diri. Selain itu, digunakan untuk menunjukkan keahlian agar bisa lebih menonjol dari orang lain. Dengan membangun personal branding, seseorang dapat meningkatkan nilai diri, sehingga mampu bersaing dalam dunia kerja.
Ketika kita membangun personal branding, maka secara tidak langsung kita sudah mengajarkan diri kita sendiri untuk mencintai diri, dengan memanfaatkan potensi diri secara maksimal. Usaha tersebut berupa mencari tahu tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Selain itu, kita juga belajar untuk mengendalikan persepsi orang lain sebelum mereka melakukan kontak langsung dengan kita.
Personal branding akan menjadikan kita lebih dikenal orang lain dengan kualitas spesifik. Sebab, konsep dasar pada personal branding ialah cara seseorang untuk memperlihatkan kemampuan dalam mengelola ekspektasi dan kepercayaan orang lain.
Perlu diketahui, antara personal branding dengan pencitraan adalah dua hal yang sangat berbeda. Personal branding berfokus untuk menonjolkan kemampuan konkret yang dimiliki. Sedangkan pencitraan merupakan perilaku yang dilakukan untuk meraih simpati sesaat dari orang lain.
Kasus yang dapat kita ambil sebagai contoh adalah seorang selebgram yang sempat menghebohkan media sosial (medsos) karena perbuatan yang ia lakukan. Kala itu, dia mengaku sebagai lulusan Oxford University. Namun ternyata, ketika dicek, nama selebgram tersebut tidak terdaftar di pangkalan data kampus tersebut. Kemudian muncul fakta yang mencuat bahwa gelar yang ia sandang merupakan gelar palsu. Sehingga, masyarakat menganggap bahwa hal itu merupakan sebuah pencitraan yang ia lakukan. Selain itu, banyak warganet membicarakan hal tersebut dan membuat penurunan karir yang telah dia bangun.
Tentu hal seperti itu tidak ingin dialami oleh semua orang. Oleh sebab itu, sebelum melakukan personal branding, kita harus tahu manfaat dan tujuan kita melakukan personal branding tersebut.
Dengan demikian, beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam membangun personal branding di medsos, yakni kita harus menganalisis keuntungan yang akan didapat. Selain itu, memperbanyak pengalaman yang dapat menunjang keterampilan dalam diri. Juga mengatur strategi komunikasi dengan orang lain di medsos. Serta menjaga konsistensi personal branding yang kita bangun.
Lebih lanjut, yang kita terapkan di sini adalah bagaimana kita menjalankan personal branding dengan baik dan jujur. Sebab, personal branding merupakan representatif kita di khalayak umum. Jika hal tersebut dijalankan dengan baik, tentunya akan memberikan dampak positif bagi kehidupan kita sendiri. (*)
*) Guru MTs Negeri 3 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin