Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Pembunuh Pun, Dia Tetap Ibumu!

Ali Sodiqin • Sabtu, 24 Desember 2022 | 17:00 WIB
Handariyatul Masruroh, Mahasiswi Tadris/ Pendidikan Bahasa Indonesia 2020, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
Handariyatul Masruroh, Mahasiswi Tadris/ Pendidikan Bahasa Indonesia 2020, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.
DUA puluh dua Desember. Menjadi hal yang tak asing lagi di telinga kita. Hari di mana memperingati manusia pemberi kasih terbesar pada anaknya. Manusia pemilik rasa rela berkorban demi sang buah hati. Bidadari tanpa sayap yang berjuang selama sembilan bulan menunggu kehadiran si kecil mungil di dunia yang fana ini. Dialah ibu kita.

Saya sempat melakukan analisis sederhana terhadap beberapa bocah kecil (bocil) atau pun bocah besar (bosar). Memberikan pertanyaan tentang bagaimana sosok ibu menurut paradigma mereka. Hasilnya, ada yang membuat saya terharu hingga tetes bening pun mengalir membasahi pipi tanpa permisi. Bahkan, ada yang membuat saya tertawa membaca hasil analisis saya. Mengapa?

Yang membuat saya berderai air mata, ketika mereka menjawab betapa berarti sosok ibu. Bangun pagi demi menyiapkan sarapan untuk anak. Rela menunggu berjam-jam saat anak sekolah di Taman Kanak-kanak. Mengusap tiap surai rambut mereka saat malam telah larut, dan menemaninya hingga terlelap. Sampai beranjak dewasa, usapan penuh kasih itulah yang paling dirindukan. Tak ada telapak tangan paling lembut yang membuat ketenangan dalam hati yang tengah risau, selain telapak sang ibunda.

Jawaban yang bertolak belakang dengan sebelumnya, ketika mereka mengatakan “Ibu itu suka marah-marah!” “Suka mukul kalau gak tidur siang!” Bahkan ada yang mengatakan, “Ibu itu diktator!” Hei, ada apa dengan kalian? Ironi sekali bukan?

Sebenarnya saya pun pernah merasakan omelan ibu. Ya, misal saya bertanya apakah ada yang tidak pernah dimarahi oleh sang ibu? Saya rasa tidak ada.

Sebenarnya sederhana. Seorang ibu melakukan hal demikian sebagai bentuk kasih sayang mereka kepada kita. Itu tanda ibu selalu memperhatikan kegiatan kita sebagai anak. Tandanya ibu khawatir terjadi sesuatu pada kita. Toh, mereka marah tidak sampai melukai, kan? Lalu bagaimana kasus anak yang dibunuh oleh ibunya sendiri? Bagaimana ibu yang rela membuang bayinya di dalam tong sampah? Bahkan membungkus dalam plastik! Apakah itu berarti dia ibu yang kejam? Ibu yang tidak menyayangi anaknya?

Secara naluri memang itu perbuatan yang kejam. Bahkan sadis! Bagaimana bisa mereka tega membunuh darah dagingnya sendiri? Tapi kali ini, bukan tentang kejamnya pembunuhan seorang ibu yang saya tulis. Melainkan tentang kasih sayangnya dan bagaimana cara kita membalasnya.

Seorang perempuan adalah makhluk paling berperasaan. Ibu adalah salah satunya. Percaya atau tidak, bagaimanapun tingkah anak, entah itu nakal, suka melawan perintah, berkata kasar pada orang tua, tapi ibu akan tetap menyayanginya! Semarah-marahnya ibu, tidak akan ada rasa benci sedikit pun. Bahkan, ibu yang pernah membunuh anaknya pun pasti penyesalannya tidak akan pernah hilang! Tapi memang perilakunya yang salah.

Sebagai seorang anak, kita juga perlu mengerti begitu besarnya pengorbanan ibu selama ini. Kasih sayangnya yang tiada tara sampai sepanjang masa. Sementara kita sebagai seorang anak dengan begitu mudahnya membentak, memarahi, meminta ini itu, dan menyepelekan nasihat-nasihatnya. Kita lupa bahwa surga ada di bawah telapak kaki ibu. Ridho Allah tergantung ridho ibu. Tapi begitu mudahnya kita melupakan hal itu.

Menjadi buruh, dia tetap ibumu! Menjadi penjual gorengan, dia tetap ibumu! Menjadi pembantu, dia tetap ibumu! Bahkan menjadi pembunuh pun, dia tetap ibumu! Apa kita malu untuk mengakui ibu kita adalah seorang buruh? Malukah jika ibu kita penjual gorengan? Malukah jika ibu kita pembunuh? Memang kita tidak membenarkan sebuah pembunuhan. Tapi yang tidak benar adalah sifat pembunuhnya, bukan pelakunya. Bagaimanapun dia tetap ibu yang pernah melahirkan anaknya. Setidaknya, dia masih memiliki rasa kasih sayang pada buah hatinya.

Tugas kita sebagai anak sebenarnya sangat mudah. Apa? Menghormati dan menyayangi ibu! Hmm… sepertinya memang terlihat mudah, tapi realitanya? Juga masih banyak anak yang membangkang pada ibunya. Bahkan ada sebuah kisah anak yang rela meninggalkan ibunya yang tua renta di pinggir jalan. Naudzubillah!

Padahal sudah sering kita dengar sabda Rasulullah yang menyebutkan seseorang yang harus kita hormati adalah ibu, ibu, ibu, lalu bapakmu. Rasul menyebutkan ibu sebanyak tiga kali. Bukankah itu berarti begitu berharganya seorang ibu? Senada dengan syair lagu. “Derajatnya tiga tingkat dibanding ayah”. Salah satu karya Bang Haji Rhoma Irama menyatakan, “Bila kau patuh pada rajamu, lebih patuhlah pada ibumu. Bila kau sayang pada kekasih, lebih sayanglah pada ibumu.”

Dengan begitu, masihkah kita ingin menyepelekan sosok yang telah berjasa pada kita? Lalu bagaimana caranya agar ibu tersenyum bahagia karena kita? Ibu adalah seseorang yang tidak membutuhkan sesuatu yang besar harganya agar tercipta senyum kebahagiaan di bibirnya. Hal yang remeh saja, bisa membuat senyumlah terlukis indah di wajahnya. Misal ucapkan terima kasih padanya yang sudah merawatmu dengan penuh kasih sayang. Cukup kata ‘terima kasih’! Sudah pernah melakukannya? Terkadang walau hanya kata ‘terima kasih’ itu sangat sulit untuk diungkapkan. Apalagi mengucapkannya di depan sang ibu.

Ayolah! Kita sampingkan rasa gengsi. Kita hilangkan rasa malu! Dia ibu kita, bukan orang lain! Pernahkah kita berpikir suatu saat kehadirannya tidak dapat kita lihat lagi? Pernahkah kita berpikir, suatu saat raganya pasti akan berhenti mengembuskan napas? Raganya yang renta akan terkubur dalam liang lahat? Sementara kita belum pernah mengatakan terima kasih padanya. Bersyukur kita masih pernah menemui dan merasakan begitu tulus kasihnya. Lantas bagaimana seseorang yang tak pernah merasakan usapan kasih sayang bidadari tanpa sayap itu?

Peringatan Hari Ibu itulah yang memberi kita kesempatan untuk melakukannya. Kapan lagi kita akan membalas kasih sayang ibu? Meski hanya ucapan ‘terima kasih’, percayalah itu sudah cukup bagi ibunda. Bagaimana, ada pendapat lain? (*)

*) Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, Institut Agama Islam Darussalam Blokagung, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #Hari Ibu #artikel #refleksi