Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengulik Kelayakan Capres 2024

Ali Sodiqin • Jumat, 16 Desember 2022 | 20:34 WIB
Taufiqur Rohman, Wakil Kepala SMK Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi.
Taufiqur Rohman, Wakil Kepala SMK Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi.
TIDAK sampai dua tahun lagi, kita akan menggelar perhelatan besar. Perhelatan ini adalah pemilihan presiden (pilpres) 2024. Meskipun masih agak lama, namun gaungnya sudah menggema ke segala penjuru. Baik di kota, desa, dusun, bahkan sampai ke warung-warung kopi. Semuanya membincangkan pesta demokrasi itu.

Mulai dari pejabat, akademisi, pegawai, mereka asyik memperbincangkannya. Sebagai warga bangsa selayaknya berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Kurang bijak, jika hanya berpangku tangan terhadap pergelaran besar bangsa ini. Bahkan antipati atas perhelatan yang digelar setiap lima tahun sekali. Mari kita sukseskan pesta demokrasi ini dengan bergembira dan bermartabat.

Setiap bangsa memiliki cara untuk melakukan suksesi kepemimpinannya. Negara yang berbentuk monarki berbeda dengan republik. Kepemimpinan monarki melakukan suksesi dengan model dinasti. Putra mahkota yang akan menggantikan kepemimpinan lama. Lain halnya dengan negara kita yang berbentuk republik. Kita memilih dengan sistem pemilu. Pilihan ini telah ditetapkan dalam Undang-undang nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Setiap warga memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Ini sudah menjadi pilihan bangsa kita. Dan pilpres secara langsung menjadi sangat strategis, karena ia merupakan puncak dari suksesi kepemimpinan nasional.

Kita harus objektif dan berani belajar dari pengalaman pilpres masa lalu. Saat itu masih banyak beredar kabar hoaks di masyarakat. Di antaranya, kabar yang menyudutkan salah satu calon presiden. “Dia anak komunis”, “Dia calon yang intoleran”. Ini membuat perhelatan pilres menjadi kurang elok. Maka dari itu, menjadi tugas bersama warga bangsa untuk memberikan pendidikan politik. Negara kita sudah berdiri selama 77 tahun. Ini usia yang cukup untuk belajar politik yang bermartabat. Pilpres 2024 waktunya untuk menunjukkan pada dunia. Bangsa kita mampu menampilkan pilpres yang benar-benar demokratis.

Faktor Kelayakan Capres


Sebuah adagium mengatakan, ”Jangan seperti membeli kucing dalam karung”.

Ini penting untuk dipahami warga bangsa, terutama saat pilpres.  Jangan sampai mereka keliru dalam memilih presiden. Terlalu besar taruhannya, jika salah pilih. Indonesia adalah negara besar. Pilihlah calon presiden (capres) yang mempunyai integritas. Capres yang mau mewakafkan waktu dan dirinya untuk bangsa. Tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia mempunyai komitmen yang kuat untuk memakmurkan bangsa ini. Tentu kita tidak ingin negara ini dikelola dengan salah urus.

Di samping integritas, seorang capres hendaknya memiliki visi-misi yang jelas. Sudah saatnya pilpres 2024 mendatang, menjadi ajang beradu gagasan. Para capres tampil untuk menjelaskan visi-misinya. Capres adalah seorang yang visoner. Pandangannya jauh ke depan dan mampu menembus dinding-dinding penghalang kemajuan bangsa. Misinya harus terukur minimal lima tahun periode kepemimpinannya. Maka warga bangsa harus benar-benar mengawal ini. Memilih capres yang visi-misinya jelas dan terukur. Bukan visi yang asal-asalan, yang hanya ingin meraup “wow”. Ini menjadi faktor penting untuk menentukan kelayakan seorang capres.

Seorang capres mesti memiliki rekam jejak yang baik. Di era digital seperti sekarang ini, informasi mudah untuk diakses. Tak ada lagi sekat penghalang untuk memperoleh informasi yang kita butuhkan. Apalagi untuk sekadar mengetahui rekam jejak seorang capres. Para capres adalah publik figur. Siapa mereka itu? Tentu sudah banyak kabar yang beredar tentang mereka. Rekam jejak capres menjadi penting untuk diketahui warga. Ini dapat menjadi pertimbangan warga untuk menjatuhkan pilihannya. Pilihan pada capres yang rekam jejaknya jelas adalah pilhan yang tepat.

Capres Pilihan 2024


Pilpres 2024 adalah sangat strategis. Ini penting untuk dipahamkan. Menjatuhkan pilihan pada capres tertentu akan sangat berdampak pada maju atau mundurnya bangsa ini. Bagaimana jika memilih capres yang populis? Jawabannya tentu tidak salah. Capres memang harus populer. Popularitas sangat penting bagi seorang capres. Ini modal awal untuk dikenal rakyat. Tapi, sebagai pemilih kita harus jujur dan berani mendudukkan popularitas dengan ketiga faktor kelayakan capres. Capres yang hanya bermodalkan popularitas, jika terpilih, ia tidak akan mampu memajukan bangsa ini. Justru akan membuat bangsa ini menjadi set back.

Ada yang bersuara lantang agar menjatuhkan pilihan pada capres yang berasal dari kader partai. Alasannya ia capres yang telah siap. Ia sudah terbiasa dengan dunia politik. Militansinya telah diketahui, saat berada di partai. Ini berbeda dengan capres dari non partai. Ia tidak terikat aturan partai. Hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk memilih capres dari kader partai. Tapi menyandingkan dengan integritas, visi, dan rekam jejak adalah suatu kejujuran untuk memilih capres.

Capres independen juga dapat menjadi pilihan. Capres ini bebas bergerak. Gerakannya lebih fleksibel, karena ia tidak berasal dari partai. Tentu tidak bergerak sebebas-bebasnya. Ia tetap berjalan di bawah koridor yang telah disepakati bersama. Ini karena tidak ada capres di negeri ini yang dapat melenggang ke pilpres, tanpa ada campur tangan partai.

Undang-undang pilpres telah mengatur warga negara yang maju sebagai capres, diajukan oleh partai politik. Banyak survei telah merilis nama-nama capres 2024. Harapannya, siapa pun yang terpilih menjadi presiden pada pilpres 2024, dia adalah capres yang memenuhi kelayakan sebagai seorang presiden. (*)

*) Wakil Kepala SMK Muhammadiyah 2 Genteng, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #artikel #capres 2024 #opini