Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Mengakselerasi SDM Titik Wisata Banyuwangi

Ali Sodiqin • Kamis, 15 Desember 2022 | 21:11 WIB
Vigi Sela Ipana, Mahasiswa jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang
Vigi Sela Ipana, Mahasiswa jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang
SEIRING dengan berjalannya waktu, Banyuwangi melakukan perubahan yang cukup pesat. Banyuwangi adalah sebuah wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Kecamatan Banyuwangi atau sering disebut Kota Banyuwangi. Kabupaten ini terletak di ujung timur pulau Jawa.

Bumi Blambangan, Kota Osing, The Sunrise of Java, dan Kota Gandrung adalah beberapa julukan dari kabupaten yang berbatasan langsung dengan Selat Bali ini. Selain itu, Banyuwangi juga dikenal sebagai Kota Santet. Bahkan, konon dulunya memang ada sebuah jargon yang mengatakan bahwa, cukup lima ribu rupiah saja sudah bisa pesan santet.

Perubahan kota Banyuwangi yang dulu mistis yang terkenal dengan santetnya, banyak orang yang enggan untuk mengunjungi Banyuwangi pada saat itu, tetapi sekarang sudah tidak lagi banyak orang yang ingin berkunjung di Banyuwangi karena keindahan alam dan kota yang sangat indah.

Banyuwangi dikenal sebagai kota festival karena banyak festival diadakan sepanjang tahun contohnya festival Gandrung Sewu. Acara ini diadakan setiap tahun sekali di Pantai Boom, yang berlatarkan selat Bali. Dengan adanya festival di Banyuwangi banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke Banyuwangi. Dengan berkunjung ke kota Banyuwangi pasti wisatawan asing maupun lokal kagum dengan keindahan kota Banyuwangi dan ingin terus menjelajah kota Banyuwangi.

Banyuwangi memiliki ciri khas tersendiri yaitu dengan seni, adat-adat, budaya, serta keindahan alamnya, yang mampu membangun Banyuwangi menjadi berkembang seperti sekarang ini.

Menurut saya perubahan Banyuwangi dari masa ke masa semakin berkembang pesat apalagi kini Banyuwangi terkenal akan keindahan alam serta budaya atau festivalnya, banyak orang yang mulai sadar Banyuwangi bukan lagi kota yang perlu ditakuti melainkan Banyuwangi perlu dikunjungi untuk dinikmati keindahannya.

Pada tahun 2012 Banyuwangi mendapatkan sertifikat Adipura dari Kementrian Lingkungan Hidup yang menjadikan Banyuwangi menjadi kota yang sangat layak untuk dikunjungi. Banyak tempat wisata yang ada di Banyuwangi tetapi masih banyak masyarakat yang ingin memanfaatkan itu untuk kebutuhannya sendiri tanpa memikirkan orang lain dan banyak masyarakat yang lalai akan pentingnya menjaga lingkungan alam seperti:

  1. Membuang sampah tidak pada tempatnya yang mengakibatkan wisata menjadi kotor,

  2. Menjual barang atau makanan yang sangat mahal di sekitar wisata yang mengakibatkan orang enggan mengunjunginya lagi,

  3. Merusak fasilitas di sekitar wisata yang menyebabkan kurangnya fasilitas yang memadai.


Contohnya Wisata Kawah Ijen banyak sampah di jalan-jalan menuju puncak Ijen padahal Kawah Ijen merupakan destinasi impian banyak orang. Aktivitas utama yang kerap diincar para wisatawan adalah fenomena blue fire Ijen yang sudah taraf internasional. Faktanya, fenomena api biru ini sangat langka, hanya bisa ditemukan di Indonesia dan Islandia. Nah maka dari itu perlu kesadaran dari diri masyarakat itu sendiri agar wisata yang sangat indah dan bisa menarik perhatian wisatawan dari luar kota hingga luar negeri tetap terjaga keindahanya.

Untuk menjaga agar wisata di Banyuwangi tetap terjaga dan tidak akan rusak seiring dengan zaman maka Banyuwangi harus mengakselerasikan SDM di titik wisata yang ada di Banyuwangi.

Secara umum, akselerasi adalah percepatan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata akselerasi adalah proses untuk mempercepat, peningkatan kecepatan atau percepatan, dan laju perubahan kecepatan. Jadi mengakselerasikan SDM berarti meningkatkan mutu pemikiran, keterampilan serta pendidikan agar lebih baik menjaga serta membangun SDA di sekitar agar seimbang. Dengan cara:

  1. Megadakan pelatihan keterampilan yang bisa diikuti oleh semua kalangan,

  2. Memberikan pendidikan atau edukasi yang mudah dipahami dan didapatkan oleh semua kalangan,

  3. Mengadakan pembinaan dengan mengembangkan kualitas atau potensi yang dimiliki masyarakat atau individu,

  4. Memberikan penghargaan kepada individu atau masyarakat yang berkontribusi aktif dalam suatu kegiatan, dengan tujuan untuk memberikan motivasi atau dorongan kepada masyarakat lainnya agar dapat ikut berkontribusi aktif dalam setiap kegiatan.


Tak hanya masyarakat sekitar pemerintah juga harus meningkatkan kualitas wisata yang ada di Banyuwangi agar menjadi poros baru untuk Banyuwangi. Contohnya:

  1. Membangun akses ke tempat wisata tersebut, karena masih banyak tempat wisata yang akses jalannya susah atau rusak,

  2. Penanaman modal terhadap warga sekitar agar tetap bisa menjaga wisata tersebut,

  3. Memfasilitasi serta mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan potensi tempat wisata.


Dulu Banyuwangi memang terkenal dengan santetnya, kita tidak harus menghilangkan sejarah tersebut, tetapi dari sejarah tersebut Banyuwangi menjadi terkenal, dan kita sebagai generasi muda maupun generasi tua harus menjaga keindahan Banyuwangi agar Banyuwangi tidak lagi terkenal sebagai kota santet melainkan kota dengan seribu keindahanya. (*)

*) Mahasiswa jurusan Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang. Editor : Ali Sodiqin
#kolom #wisata #artikel #banyuwangi #opini #sdm