Mari intip sedikit teori terciptanya alam semesta yang sudah tidak tabu di telinga kita semua “Big Bang” Garapan Stephan Hawkings diteliti dari tahun 1927 di Belgia. Teori ini menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari “singularity” bentuk tunggal. Proton dan elektron sebagai penyusun segalanya di alam ini. Karena suhu ekstrem di luar angkasa yang tak tau batas batasnya lalu meledak, Boom! Hasil dari ledakan itu adalah segala yang ada di awal terbentuknya alam semesta. Demikian teori itu dinamakan big bang, ledakan yang besar oleh penciptanya.
Tapi dari teori tersebut masih banyak menimbulkan tanda tanya. “Lalu? dari mana adanya kehidupan?”, “dengan teori biogenesis berarti ada satu hal yang harus hidup terlebih dahulu” “sedang jika dengan teori abiogenesis, sangat tidak rasional dengan bukti bahwa belatung berasal dari lalat yang hinggap pada daging”. Belum lagi masalah orbital dan angkasa luar.
Itulah teriakan akal pada pemikiran Hawkings. Menunjukkan bahwa harus ada pencipta yang menjelaskan alasan atas segalanya. Dan menunjukkan pula bahwa manusia memiliki akal yang terbatas, untuk merasionalkan segalanya saja manusia harus mengesampingkan “Tuhan”.
Mari kita mundur ke abad ke enam, 1.300 tahun dari hari ini. Di tanah Arab, Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu dari Tuhan melalui Jibril. Wahyu yang di turunkan mengandung segala penjelasan, yang pada dasarnya adalah penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya. Terkumpul dalam satu buku yang memiliki banyak nama, “Alquran” yang paling masyur. Lalu Tuhan membahas hakikat hidup ini di surah Hud ayat 7:
“Dan dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan Arsy-nya di atas air agar dia menguji siapa yang lebih baik amalnya.”
Dari wahyu ini kita mengerti hakikat hidup, yang tak lain adalah ajang pengumpulan amal demi bekal yang akan di bawa saat kembali pada Nya. Lalu manusia bertanya, “Apa bukti bahwa buku ini nyata? Mungkin bisa saja ini hanya karangan Muhammad”.
Saya tegaskan, bahwa Muhammad menerima wahyu ini dalam keadaan Ummi (tidak bisa membaca dan menulis), bagaimana mungkin bisa mengarang ilmu yang baru di sadari manusia di abad ke 19? Dalam surah Yunus ayat 37 dan 38 Tuhan menurunkan kalam Nya.
“Dan tidak mungkin Alquran dibuat selain Allah. Tapi Alquran adalah penyempurna kitab sebelumnya. Dan menjelaskan hukum-hukum yang ditetapkannya. Tiada keraguan di dalamnya, di turunkan oleh Tuhan seluruh alam. Apakah pantas mereka mengatakan dia (Muhammad) telah membuatnya? Katakanlah, “Buatlah sebuah surah yang serupa dengan Alquran, ajak siapa saja yang mampu membuatnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”
Di zaman ini dengan kemajuan teknologi, banyak fisikawan mulai memperhitungkan isi dari kitab ini saat mereka menemukan mumi Firaun yang hilang beratus-ratus tahun lamanya dalam keadaan utuh, yang tidak masuk pada semua perhitungan akal manusia di abad 19. Tetapi Alquran sudah menuturkan hal ini dalam surah Yunus ayat 92:
“Maka pada hari ini, kami selamatkan jasadmu (Fir’aun) agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelah kamu, tapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan kekuasaan kami.”
Karena Tuhan seyogianya juga sudah menetapkan ini pada kalamnya di surah al-An’am ayat 5:“..Maka kelak akan sampai pada mereka kenyataan dari berita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan”
Dan makin ke sini, semakin berkembangnya teknologi di segala aspek. Manusia perlahan mulai membunuh Tuhan dengan belati ilmu teknologi. Berkata bahwa kami sudah bisa melakukan apa pun dengan teknologi. Bilang bahwa Tuhan hanya halusinasi manusia saat mereka belum menemukan teknologi.
Hei! Teknologi memang bisa mendeteksi gempa, tapi apa teknologi bisa menghentikan gempa? Belakangan saya mendengar salah satu video dari YouTube yang mungkin tepat untuk menutup opini saya kali ini, yaitu milik kanal Rumah Editor yang mengatakan bahwa “pada dasarnya Tuhan memberikan akal pada manusia bukan untuk mengetahui segalanya, tapi akal ditujukan untuk mengakui pemilik dari segalanya.”
Sekian, mari kita Bersama Kembali pada hakikat hidup sebenarnya, untuk menyembah pada-Nya, mengingat-Nya, dan kembali kepada-Nya. (*)
*) Siswi Madrasah Aliyah Al Amiriyyah, Santri Darussalam Blokagung, Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin