Pabrik industri, seluruh elemen yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang, bahkan UMKM dipaksa tutup untuk menghambat penyaluran covid19. Itu semua mengakibatkan perputaran ekonomi dunia sangat terhambat. Ekspor dan impor masing-masing negara hancur total. Bahkan beberapa negara sudah mulai bangkrut karena dalam semalam nilai ekspornya sudah nol.
Pada tahun 2022 ini, kebijakan lockdown semua negara telah banyak dicabut. Yang artinya, kita bisa keluar seperti biasa tanpa mengenakan masker. Pabrik-pabrik sudah mulai buka kembali dan semua orang bisa bekerja seperti biasanya. Perputaran ekonomi dunia tampaknya sudah mulai membaik seiring berjalannya endemi covid-19. Warga dunia sudah mulai bahagia akan hal ini. Tetapi kebahagiaan itu mulai sirna sebab perang Ukraina dan Rusia.
Perang ini, awalnya dianggap hanya perang sebelah mata yang di-backing pemerintahan USA dan warga Uni Eropa yang sepakat akan menghentikan perang tersebut dengan alasan “solidaritas” dan Hak Asasi Manusia. Namun perang yang terjadi sekitar bulan Februari 2022 lalu, hingga sekarang terhitung pada Desember 2022, dan perang itu tak kunjung usai.
Warga Eropa mulai merasakan betapa besar dampak yang terjadi akibat perang ini. Karena Rusia sebagai negara ekspor minyak terbesar negara Eropa memberhentikan ekspornya karena embargo Uni Eropa kepada Rusia.
Uni Eropa merupakan kumpulan negara maju di dunia seperti Inggris, Italia, Spanyol, Prancis, dan lainnya. Negara-negara ini pengimpor bahan-bahan mentah, makanan, dan kebutuhan pokok yang dimiliki oleh negara berkembang. Ketika ekonomi Uni Eropa ini bermasalah, imbasnya kepada negara berkembang lain yang masih bergantung dengan ekspor kepada negara Uni Eropa.
Artinya, ketika ekonomi dunia sebagian besar ditopang karena adanya Uni Eropa dan ketika ekonomi mereka bermasalah, maka banyak negara lain yang mengalami masalah pada ekonominya.
Covid-19 yang telah terjadi hampir dua tahun ini, membuat semua banyak masalah pada semua negara. Masalah yang pasti tak bisa dihindari oleh masing negara yaitu inflasi, di mana demand (kemampuan daya beli) yang tinggi, tidak bisa diimbangi dengan adanya supply (pasokan barang). Inflasi ini telah terjadi pada tahun covid-19 dan dunia menganggap ekonomi akan berjalan seperti biasa ketika telah berada pada fase endemi. Realitanya setelah kebijakan lockdown dihilangkan, tetapi Eropa meng-embargo Rusia untuk memberikan dukungan kepada Ukraina yang berada dalam tekanan invasi Rusia. Dampak ini bermasalah kepada semua negara yang merangkak kembali pulih setelah dihantui oleh covid-19. Alih-alih ingin kembali pulih, atas kebijakan Uni Eropa tersebut mengakibatkan inflasi kembali datang kepada negara se-dunia. Inflasi secara berturut dalam kuartal tertentu disebut dengan resesi.
Resesi ekonomi terjadi ditandai dengan pelemahan ekonomi, menurunnya “marginal efficiency capital”, tingginya angka pengangguran serta turunnya ekspor dan impor negara. Resesi global tidak bisa dihindari dampaknya oleh semua negara semua harga dari properti dan saham mulai di ambang kehancuran.
Bahkan dikutip pada coinmarketcap.com, harga crypto bitcoin mulai drop sampai empat kali lipat yang mencapai Rp 900 juta-an per coin di bulan November 2021, sekarang menginjak pada angka 200 juta-an. Yang beruntung Indonesia adalah negara komoditi, yang menjadikan Indonesia cenderung aman daripada negara lain di Eropa. Bahkan IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tetap tumbuh hingga 5,3% tahun ini dan 5 persen pada tahun 2023.
Beberapa bulan kemarin kita dipaksa untuk membeli kebutuhan minyak dan BBM dengan aplikasi yang sudah diintegrasi oleh pemerintah dan dilanjutkan dengan dinaikkannya harga BBM subsidi, serta diperketat aturan pemakaian BBM subsidi dan non-subsidi. Ini adalah langkah pemerintah untuk menstabilkan ekonomi negara untuk persiapan menghadapi Resesi Global.
Sejak mulai terdampak kondisi ini, Presiden Joko Widodo menyampaikan dalam setiap acara di pidatonya, selalu memperingatkan warga Indonesia untuk tetap waspada akan terjadinya “Gelap 2023”. Ini menandakan, Indonesia akan terkena dampak dari resesi pada tahun depan.
Di ambang semua negara mengalami resesi dan semoga saja fasenya tidak menjadi depresi, tentunya pemerintah berusaha keras agar negaranya tidak terjadi bangkrut dengan cara menaikkan pajak, suku bunga dan mengurangi beberapa subsidi.
Tentunya, masyarakat juga harus ikut serta membantu menangani masalah ini, dengan sudah memahami akan pentingnya manajemen keuangan. Pemahaman cara mengelola keuangan masyarakat, akan membuat ekonomi negaranya menjadi stabil. Tanpa ada jerit dan tangis masyarakat, serta antisipasi demo dari kalangan umum.
*) Mahasiswa TI Universitas Ibrahimy Sukorejo, Situbondo. Editor : Ali Sodiqin