Bersyukur. Tukang ojeknya berpengalaman. Memang penduduk setempat yang sering melewati jalan itu. Alam sudah melatihnya. Ketika saya tanya apa tidak pernah jatuh dari sepeda. Jawab pak ojek pernah juga. Sambil tersenyum. Tapi tidak diuraikan lagi. Mungkin, agar saya yang numpang tidak terlalu khawatir.
Itulah secuil perjalanan, dua tahun saya menjadi Pendamping Lapangan POP. Tepatnya saya membersamai Yayasan Bumi Hijau Center (YBHC). Sebuah Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) yang telah lulus seleksi oleh Kemendikbud sebagai pelaksana POP. YBHC memiliki sekolah sasaran di empat kabupaten. Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo dan Lumajang. Namun, fokus pendampingan saya lebih banyak di Situbondo. Ada 18 lembaga PAUD. Yang tersebar dari ujung barat sampai ujung timur Situbondo Khususnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sebagai pendamping lapangan tugas utama saya adalah mendampingi ormas agar program yang sudah direncanakan berjalan sesuai agenda yang telah ditetapkan. Pun turun langsung mendampingi satuan Pendidikan yang menjadi sekolah sasaran.
Biar lebih paham, apa itu POP, mari kita jabarkan lebih lanjut. Untuk mewujudkan merdeka belajar, pemerintah meluncurkan beberapa program. di antaranya kita mengenal Program guru Penggerak (PGP), Program Sekolah Pengerak (PSP) dan POP.
POP diluncurkan Kemdikbudristek pada episode ke-4 seri Merdeka Belajar. POP adalah program pemberdayaan masyarakat secara masif melalui dukungan pemerintah untuk peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasar model-model pelatihan yang sudah terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar siswa (Kemdikbud, 2022). Gampangnya, pada POP, pemerintah “membiayai” program atau praktik baik atau inovasi yang sudah terbukti berdampak pada peningkatan karakter literasi maupun numerasi dilakukan ormas untuk mendukung terwujudnya merdeka belajar lebih cepat dan menjangkau seluruh pelosok tanah air guna menjawab tantangan dunia pendidikan saat ini.
Tantangan dunia Pendidikan nyata. Semakin jauh saya mendampingi. Semakin saya sadari betapa kompleks dan berat tantangan yang harus dihadapi dalam mengubah wajah Pendidikan di negeri ini. Letak geografis, ketersediaan guru yang terbatas, fasilitas pembelajaran yang minim, kesejahteraan guru yang belum terpenuhi. Belum lagi kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Seperti cerita salah satu sekolah yang diawal berdirinya masih harus memandikan siswanya di sekolah. Karena orangtuanya buru-buru di pagi buta harus sudah berangkat ke sawah atau tegal tempat mereka mencari nafkah. Sehingga dengan baju Salinan seragam anak tersebut dititipkan ke gurunya untuk mandi dan ganti baju seragam. Beda lagi lagi cerita dari walimurid yang harus menyeberangi sungai yang belum ada jembatan. Ini terpaksa dilakukan untuk memangkas jarak yang cukup jauh. Memutar. Sambil menggendong anaknya, dia menyeberangi sungai. Terutama saat musim hujan. Jika di musim kemarau, airnya surut. Cukup menyeberang sungai dengan tumpuan batu-batu sungai. Beda wilayah, beda tantangannya. Namun, saya merasa terharu dan bangga karena dengan segala tantangan yang ada para guru PAUD itu tidak pernah menyerah. Walau dari wajah mereka nampak ada rasa lelah namun para pendidik terasa bersemangat lagi saat melihat senyum tulus dan wajah ceria para tunas muda calon penerus generasi emas bangsa ini.
Tantangan itu dijawab dengan inovasi. Dengan bimbingan YBHC. 18 satuan Pendidikan yang menjadi sekolah sasaran terus berbenah, berinovasi sesuai dengan karakter lingkungan masing-masing. Visi misi ditinjau, direfleksi dan dibenahi. Keimanan dan ahlak mulia diutamakan. Budaya berbahasa lokal madura digalakkan. makanan tambahan dan gizi sehat dilaksanakan. Aplikasi dan media pembelajaran terus dikembangkan. karakter dan literasi dan numerasi terus diasah. Nama inovasipun begitu unik dan bermacam-macam di masing-masing satuan Pendidikan.
Pendidikan. Memang sebuah kata yang sederhana. Namun, tidak sederhana tulisannya. Karena Pendidikan menyangkut proses memanusiakan manusia. Pendidikan bukan hanya sekedar transfer dari guru ke murid. Bukan itu. Tokoh Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara (KHD), menyatakan bahwa Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya (KHD, 1937). Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Lebih jauh KHD menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat sesuai dengan kodrat alam dan zamannya (KHD, 1937).
Melalui POP yang difasilitasi YBHC, para guru dilatih berinovasi dan terus belajar meningkatkan kemampuan diri agar mampu menuntun anak sesuai kodrat alam dan zamannya. Karena sejatinya anak bukanlah kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa. Tapi tugas kita sebagai pendidik adalah ‘menebalkan’ kekuatan kodrat anak yang masih samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. dilengkapi Bung Hatta, menuliskan bahwa “Indonesia tidak akan bercahaya karena obor besar di Jakarta, tapi akan bercahaya karena lilin-lilin di Desa “. Lewat POP, salah satu pelita itu sudah dinyalakan. Teruslah menyala untuk menyiapkan generasi emas Indonesia. (*)
*) PL Program Organisasi Penggerak Kemdikbud Ristek RI. Editor : Ali Sodiqin