Banyak masyarakat masih awam tentang mental health. Padahal mengetahui mental mereka itu hal yang sangat penting untuk mengatasi masalah gangguan kejiwaan serta kecemasan yang berlebihan. Orang yang sayang dengan mental mereka, mereka akan berdiskusi atau mengatasinya lewat pelayanan khusus seperti badan konseling atau psikolog terdekat.
Mental health memiliki pengertian tentang sehat, suatu keadaan fisik, mental, maupun lingkungan sosial yang sejahtera dan tidak adanya penyakit atau kelemahan. Kesehatan mental ini berhubungan dengan kesehatan fisik dan perilaku seseorang.
Mengenai isu mental health, masyarakat perlu mengatasinya dengan badan atau lembaga yang menangani masalah tersebut. Mereka akan sangat mengayomi pertanyaan-pertanyaan yang menuju kejiwaan, dan mengatasi apa yang harus mereka lakukan. Mental health jika dibiarkan, akan menyebabkan seseorang mengalami depresi berat, gangguan kecemasan, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan lain sebagainya.
Faktor yang menimbulkan gangguan mental terhadap remaja, yaitu bisa jadi faktor genetik dan psikologis, biologis, maupun faktor lingkungan.
Menurut WHO diperkirakan 10 hingga 20 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental. Sayangnya hal tersebut tetap terdiagnosis dan terawat. Faktor lainnya adalah adanya perundungan di lingkungan sekolah. Perlu kita ketahui, banyak remaja suka merundung temannya karena mereka berbeda atau malah hanya sebagai candaan. Itu membuat korban enggan masuk sekolah, bahkan mengalami depresi.
Mental health juga sering dikaitkan dengan self harm. Karena banyak remaja yang mengalami gangguan kejiwaan, pasti akan menyakiti diri sendiri. Itu membuat perasaan lega oleh penderita kesehatan mental. Self harm berarti perilaku menyakiti / melukai diri sendiri yang disebabkan tingkat stres tinggi atau depresi. Orang seperti ini sulit mengondisikan gairah untuk menyakiti diri sendiri, mereka melakukannya karena ada kepuasan tersendiri jika sudah tersakiti.
Menurut hasil survei jenis kelamin dan pola usia serupa di tiga pusat, 57,0 persen pasien adalah perempuan dan dua per tiga (62,9 persen) di bawah usia 35 tahun. Jumlah terbesar menurut kelompok umur adalah perempuan berusia 15-19 tahun dan laki-laki berusia 20-24 tahun.
Self harm tidak hanya bunuh diri, banyak macam seperti meracuni diri sendiri secara impulsif, menyayat tangan dengan benda tajam, atau bahkan memukul kepala agar kecemasan yang dialaminya mereda. Banyak faktor risiko self harm ini, termasuk kerugian sosial ekonomi.
Makin banyaknya orang yang mengalami penyakit kejiwaan terutama depresi, dan penyalahgunaan zat. Lebih dari 5% orang yang pernah dirawat di rumah sakit akibat percobaan menyakiti diri sendiri. Efek media internet sangat berpengaruh atau memiliki peran yang penting terhadap penularan penyakit mental ini. Pencegahan terhadap aktivitas melukai diri sendiri dan bunuh diri membutuhkan tindakan universal terutama ditujukan untuk kaum muda yang dianggap kelompok berisiko tinggi. Pembatasan akses menyakiti diri sendiri adalah penting dan penetapan pengobatan yang efektif bagi mereka yang menyakiti diri sendiri adalah kebutuhan yang terpenting.
Saya berpikir, kesehatan mental terjadi hanya yang saya lihat di media sosial. Ternyata, kesehatan mental juga terjadi di lingkungan saya sendiri. Banyak yang mengalami depresi dan Bipolar. Mereka mengalami rasa bersedih dan cemas yang berlebih. Akibatnya mereka selalu berpikir negatif tentang diri mereka sendiri, atau apa yang orang lain pikirkan tentang mereka.
Masalah yang mereka alami dari faktor keluarga dan lingkungan pertemanan. Hal itu terjadi secara terus menerus, membuat mereka tidak kuat dan ingin menyerah. Itu yang menyebabkan mereka melakukan self harm. Mereka melakukan itu karena merasa puas atas kesakitan yang mereka miliki.
Kesehatan mental mempengaruhi kemajuan pencapaian beberapa tujuan pembangunan milenium, seperti promosi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, penurunan angka kematian anak, dan pembalikan penyebaran HIV/AIDS. Kesadaran kesehatan mental perlu diintegrasikan ke dalam semua aspek kebijakan kesehatan dan sosial. Maka dari itu jangan menyepelekan tentang masalah kesehatan utamanya mental karena kita tidak tahu mungkin orang di sekitar kita membutuhkan bantuan atau butuh sandaran untuk bercerita.
Masyarakat harus tahu pentingnya menjaga kesehatan mental terlebih anak-anak dan remaja. Jangan buta dengan kesehatan mental ini karena nyawa taruhannya. Untuk mengatasinya, perlu segera dilakukan konseling terhadap pihak yang ahli menangani atau untuk mencegah gangguan mental.
Masyarakat perlu mendapatkan pencerahan dengan mengikuti webinar tentang kesehatan mental. Tidak harus berkonsultasi kepada pihak kesehatan masyarakat kita bisa melakukan pendekatan kepada orang yang kita percaya agar mendapat penenang dan sandaran menghadapi penyakit ini. Sandaran yang paling jitu juga akan kita dapat jika kita dekat dengan norma dan agama, yang dapat menuntun kita menjalani kehidupan dengan tujuan akhir kebahagiaan. (*)
*) Siswi MAN 1 Banyuwangi. Editor : Ali Sodiqin